Diguyur Hujan, Jalan di Jakarta Barat Terputus

Diguyur Hujan, Jalan di Jakarta Barat Terputus
A
A
A
JAKARTA - Walaupun hujan hanya melanda kurang dari tiga jam, namun sejumlah jalan di Jakarta Barat tergenang, beberapa di antaranya bahkan terputus. Akibatnya, kemacetan terjadi di lokasi tersebut.
Pantauan SINDO, hujan ringan terjadi sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, membuat air memenuhi sejumlah saluran pemukiman. Banyaknya sampah yang dibuang masyarakat menjadikan aliran tersendat. Air pun meluber ke jalanan membuat genangan.
Hingga pukul 14.00 WIB, menjelang hujan sedikit reda, genangan mulai terlihat di sejumlah jalan, di antaranya Jalan Palmerah Barat I, depan Bank BRI, Jalan Pasar Rawa Belong, Jalan Patra, Jalan Panjang, dan pinggir Tol Tomang sisi kiri arah dari Tangerang. Di beberapa kawasan itu, genangan bervariatif mulai dari 10 centimeter hingga yang terparah di jalan Patra 100 centimeter.
Khusus di Jalan Patra, Duri Kepa, Kebon Jeruk, genangan air setinggi itu membuat aktifitas menjadi lumpuh. Kemacetan panjang tak terhindarkan setelah sejumlah kendaraan yang ingin melintas ke kawasan itu menjadi terputus.
Sementara di Jalan Rawa Belong pun demikian, jalanan pasar yang terputus membuat aktifitas tutup. Kemacetan tak terhindarkan karena akses dari Jalan Panjang ke pasar tertutup. Lalu lintas terpaksa dialihkan ke arah Jalan Harun.
Sukur (33), seorang warga di Jalan Pasar Rawa Belong mengatakan, genangan yang melanda Rawa Belong sangatlah aneh. Pasalnya bila banjir melanda kawasan itu, Jalan Harun yang berada di kelurahan Sukabumi Selatan semakin lebih parah.
"Tapi ini Harun malah enggak banjir," katanya di lokasi, Minggu (18/9/2016).
Meski begitu, tiga jam kemudian air mulai surut. "Jadi karena lokasinya cekungan, daerah ini gampang tergenang," jelasnya.
Lain halnya di Jalan Patra, adanya genangan air di kawasan itu membuat anak-anak menjadi senang. Mereka memanfaatkan genangan itu untuk berenang. Beberapa di antaranya ada yang membantu pengendara mobil yang mogok dengan mendorong, ada pula yang memanfaatkan gerobak untuk mengangkut sepeda motor. "Lumayan bang, kenanya Rp10 ribu," ucap Dino (12), salah seorang bocah di Jalan Patra.
Bersama dengan lima rekannya dan kelompok bocah lainnya, Dino tampak senang. Mereka tak memikirkan bahaya penyakit kulit yang mengancam usai banjir.
Menurut Fatma (36), pedagang di kawasan Jalan Patra, mengatakan, genangan yang terjadi merupakan hal rutin. Adanya perbaikan tanggul dan mampetnya saluran air membuat air gampang menggenang. Ditambah dengan kawasan yang berbentuk seperti mangkok, membuat genangan semakin bertambah lama. "Bisa sampai seharian mas," keluhnya.
Kasudin Tata Air Jakarta Barat, Imron mengatakan, dibandingkan hujan sebelumnya, genangan yang ada jauh berkurang, seperti di kawasan Kebon Jeruk, Kedoya, dan Jalan Harun Sukabumi Selatan. Tiga kawasan itu merupakan kawasan rutin yang tergenang bila hujan deras datang.
"Kami sekarang rutin mengeruk saluran air di beberapa kawasan yang terkena air. Bersama dengan lurah dan masyarakat, kita upayakan cari solusi terbaik," ujar Imron ketika dikonfirmasi.
Meski demikian, ia tak menampik, jika Jakarta belum terbebas dari bencana banjir. Mampetnya saluran dan kurang optimalnya pompa menjadi permasalahan banjir.
Termasuk di Jalan Pasar Rawa Belong, Imron mengatakan, pihaknya telah mengusulkan untuk melakukan pembongkaran di kawasan dekat komplek mabad tak jauh dari lokasi banjir.
Pasalnya, penyempitan saluran, menjadi biak kerok di kawasan itu. Ditambah dengan lokasinya seperti mangkok, maka hujan kecil membuat air menjadi gampang menggenang.
Sementara di kawasan Patra, Imron tak menampik ada masalah di kawasan itu. Sekalipun terdapat dua pompa besar dengan kapasitas 600 liter per detik, namun air tetap menggenang. Karenanya ia pun akan melakukan pembangunan rumah pompa dengan kapasitas sama lagi di sudut jalan untuk mengatasi genangan air di kawasan itu. "Sudah kami ajukan, semoga bisa terbangun tahun ini," katanya.
Pantauan SINDO, hujan ringan terjadi sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, membuat air memenuhi sejumlah saluran pemukiman. Banyaknya sampah yang dibuang masyarakat menjadikan aliran tersendat. Air pun meluber ke jalanan membuat genangan.
Hingga pukul 14.00 WIB, menjelang hujan sedikit reda, genangan mulai terlihat di sejumlah jalan, di antaranya Jalan Palmerah Barat I, depan Bank BRI, Jalan Pasar Rawa Belong, Jalan Patra, Jalan Panjang, dan pinggir Tol Tomang sisi kiri arah dari Tangerang. Di beberapa kawasan itu, genangan bervariatif mulai dari 10 centimeter hingga yang terparah di jalan Patra 100 centimeter.
Khusus di Jalan Patra, Duri Kepa, Kebon Jeruk, genangan air setinggi itu membuat aktifitas menjadi lumpuh. Kemacetan panjang tak terhindarkan setelah sejumlah kendaraan yang ingin melintas ke kawasan itu menjadi terputus.
Sementara di Jalan Rawa Belong pun demikian, jalanan pasar yang terputus membuat aktifitas tutup. Kemacetan tak terhindarkan karena akses dari Jalan Panjang ke pasar tertutup. Lalu lintas terpaksa dialihkan ke arah Jalan Harun.
Sukur (33), seorang warga di Jalan Pasar Rawa Belong mengatakan, genangan yang melanda Rawa Belong sangatlah aneh. Pasalnya bila banjir melanda kawasan itu, Jalan Harun yang berada di kelurahan Sukabumi Selatan semakin lebih parah.
"Tapi ini Harun malah enggak banjir," katanya di lokasi, Minggu (18/9/2016).
Meski begitu, tiga jam kemudian air mulai surut. "Jadi karena lokasinya cekungan, daerah ini gampang tergenang," jelasnya.
Lain halnya di Jalan Patra, adanya genangan air di kawasan itu membuat anak-anak menjadi senang. Mereka memanfaatkan genangan itu untuk berenang. Beberapa di antaranya ada yang membantu pengendara mobil yang mogok dengan mendorong, ada pula yang memanfaatkan gerobak untuk mengangkut sepeda motor. "Lumayan bang, kenanya Rp10 ribu," ucap Dino (12), salah seorang bocah di Jalan Patra.
Bersama dengan lima rekannya dan kelompok bocah lainnya, Dino tampak senang. Mereka tak memikirkan bahaya penyakit kulit yang mengancam usai banjir.
Menurut Fatma (36), pedagang di kawasan Jalan Patra, mengatakan, genangan yang terjadi merupakan hal rutin. Adanya perbaikan tanggul dan mampetnya saluran air membuat air gampang menggenang. Ditambah dengan kawasan yang berbentuk seperti mangkok, membuat genangan semakin bertambah lama. "Bisa sampai seharian mas," keluhnya.
Kasudin Tata Air Jakarta Barat, Imron mengatakan, dibandingkan hujan sebelumnya, genangan yang ada jauh berkurang, seperti di kawasan Kebon Jeruk, Kedoya, dan Jalan Harun Sukabumi Selatan. Tiga kawasan itu merupakan kawasan rutin yang tergenang bila hujan deras datang.
"Kami sekarang rutin mengeruk saluran air di beberapa kawasan yang terkena air. Bersama dengan lurah dan masyarakat, kita upayakan cari solusi terbaik," ujar Imron ketika dikonfirmasi.
Meski demikian, ia tak menampik, jika Jakarta belum terbebas dari bencana banjir. Mampetnya saluran dan kurang optimalnya pompa menjadi permasalahan banjir.
Termasuk di Jalan Pasar Rawa Belong, Imron mengatakan, pihaknya telah mengusulkan untuk melakukan pembongkaran di kawasan dekat komplek mabad tak jauh dari lokasi banjir.
Pasalnya, penyempitan saluran, menjadi biak kerok di kawasan itu. Ditambah dengan lokasinya seperti mangkok, maka hujan kecil membuat air menjadi gampang menggenang.
Sementara di kawasan Patra, Imron tak menampik ada masalah di kawasan itu. Sekalipun terdapat dua pompa besar dengan kapasitas 600 liter per detik, namun air tetap menggenang. Karenanya ia pun akan melakukan pembangunan rumah pompa dengan kapasitas sama lagi di sudut jalan untuk mengatasi genangan air di kawasan itu. "Sudah kami ajukan, semoga bisa terbangun tahun ini," katanya.
(mhd)