Ahli Patologi UI: Saya Hirup Aroma yang Keluar dari Mulut Mirna
Rabu, 07 September 2016 - 20:40 WIB
Ahli Patologi UI: Saya Hirup Aroma yang Keluar dari Mulut Mirna
A
A
A
JAKARTA - Ahli patologi dokter Djaja Surya Atmadja mengaku heran ketika dimintai mengawetkan jasad Wayan Mirna Salihin. Pasalnya, Djaja hanya diberitahukan Mirna tewas karena minum kopi.
"Saat disuruh formalin jenazah (Mirna), saya tanya, kenapa dia matinya. Saya dikasih tahu, katanya habis minum kopi terus mati. Saya pikir, ini kematian tidak wajar, habis minum kopi mati, apalagi orangnya masih muda," ungkap Djaja di PN Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).
Djaja pun penasaran dengan penyebab tewasnya Mirna, dan menanyakan lebih dalam ke penyidik terkait alasan jasad Mirna untuk diformalin. Padahal, lanjut Djaja, belum ada permintaan penyidik terhadap dokter untuk memeriksa jenazah secara forensik atau melaksanakan proses autopsi.
"Saya dilema, wajarnya jenazah di bawah 24 jam itu tidak perlu diautopsi. Kalau sudah di atas 24 jam, bisa busuk. Tapi, jenazah ini kan belum diautopsi, masak sudah diformalin. Kata penyidik, keluarga tidak mau korban diautopsi. Itu yang bikin saya dilema, karena setelah diformalin, penyidik sudah tidak bisa autopsi jenazah lagi," ujarnya.
Sebelum diberi formalin, Djaja mengaku sempat mencari tahu penyebab kematian Mirna dengan cara sederhana, yakni mencium aroma dari dalam tubuh korban dengan menekan bagian dada dan ulu hati jasad. Selanjutnya, menghirup aroma yang keluar dari mulut korban.
Apabila tercium aroma seperti kacang almond busuk, maka dipastikan kematian Mirna karena keracunan sianida. "Kalau aroma bawang, berarti keracunan arsen. Saya sudah coba, tidak ada aroma bawang maupun kacang almond busuk," ucapnya.
Selain itu, Djaja menekankan bahwa ciri fisik di tubuh Mirna tidak menunjukkan Mirna tewas karena sianida. "Kulitnya saat saya lihat warna biru. Pada ujung jarinya juga biru. Saat dia saya formalin, Mirna kebiruan karena dia kekurangan oksigen. Paling sedikit warna merahnya. Kalau keracunan sianida itu cirinya merah bukan biru," tegasnya.
"Saat disuruh formalin jenazah (Mirna), saya tanya, kenapa dia matinya. Saya dikasih tahu, katanya habis minum kopi terus mati. Saya pikir, ini kematian tidak wajar, habis minum kopi mati, apalagi orangnya masih muda," ungkap Djaja di PN Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).
Djaja pun penasaran dengan penyebab tewasnya Mirna, dan menanyakan lebih dalam ke penyidik terkait alasan jasad Mirna untuk diformalin. Padahal, lanjut Djaja, belum ada permintaan penyidik terhadap dokter untuk memeriksa jenazah secara forensik atau melaksanakan proses autopsi.
"Saya dilema, wajarnya jenazah di bawah 24 jam itu tidak perlu diautopsi. Kalau sudah di atas 24 jam, bisa busuk. Tapi, jenazah ini kan belum diautopsi, masak sudah diformalin. Kata penyidik, keluarga tidak mau korban diautopsi. Itu yang bikin saya dilema, karena setelah diformalin, penyidik sudah tidak bisa autopsi jenazah lagi," ujarnya.
Sebelum diberi formalin, Djaja mengaku sempat mencari tahu penyebab kematian Mirna dengan cara sederhana, yakni mencium aroma dari dalam tubuh korban dengan menekan bagian dada dan ulu hati jasad. Selanjutnya, menghirup aroma yang keluar dari mulut korban.
Apabila tercium aroma seperti kacang almond busuk, maka dipastikan kematian Mirna karena keracunan sianida. "Kalau aroma bawang, berarti keracunan arsen. Saya sudah coba, tidak ada aroma bawang maupun kacang almond busuk," ucapnya.
Selain itu, Djaja menekankan bahwa ciri fisik di tubuh Mirna tidak menunjukkan Mirna tewas karena sianida. "Kulitnya saat saya lihat warna biru. Pada ujung jarinya juga biru. Saat dia saya formalin, Mirna kebiruan karena dia kekurangan oksigen. Paling sedikit warna merahnya. Kalau keracunan sianida itu cirinya merah bukan biru," tegasnya.
(whb)