Jakmania Disarankan Benahi Aturan Internal Agar Tak Dicap Pendukung Anarkis
Senin, 27 Juni 2016 - 18:04 WIB
Jakmania Disarankan Benahi Aturan Internal Agar Tak Dicap Pendukung Anarkis
A
A
A
JAKARTA - Pasca bentrok antara supporter Persija dengan aparat Kepolisian di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Jumat 24 Juni 2016 kemarin, Polda Metro Jaya telah mengamankan tujuh orang yang diduga terlibat aksi tersebut.
Ketua Bidang Pemenuhan Hak anak, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri meminta pengurus The Jakmania membenahi aturan yang ada. Khususnya mengenai keanggotaan serta penggunaan atribut oleh non anggota.
”Bikin aturan, bentuk unit penertiban internal, terus bangun interaksi dengan kepolisian bukan malah menjauh,” ujar Reza kepada Sindonews, Senin (27/6/2016).
Setiap ada kericuhan, nama The Jakmania seolah tercoreng, padahal belum tentu yang melakukan aksi anarkis itu anggota resmi dari penggemar Macan Kemayoran. Bahkan di luar sana, ada saja pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja merusak citra dengan menggunakan atribut Jakmania.
“Pastikan terbangun demarkasi antara Jakmania yang terorganisir (ada identitas keanggotaan) dan pendukung liar,” tuturnya.
Dua orang korban tercatat dalam dua kali pertandingan Persija. Pertama ada Fahreza, bocah yang diduga merupakan korban salah tangkap oleh kepolisian. Kedua, seorang pedagang di GBK yang meninggal dunia dengan dugaan menjadi korban kebrutalan Jakmania.
Ketua Bidang Pemenuhan Hak anak, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri meminta pengurus The Jakmania membenahi aturan yang ada. Khususnya mengenai keanggotaan serta penggunaan atribut oleh non anggota.
”Bikin aturan, bentuk unit penertiban internal, terus bangun interaksi dengan kepolisian bukan malah menjauh,” ujar Reza kepada Sindonews, Senin (27/6/2016).
Setiap ada kericuhan, nama The Jakmania seolah tercoreng, padahal belum tentu yang melakukan aksi anarkis itu anggota resmi dari penggemar Macan Kemayoran. Bahkan di luar sana, ada saja pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja merusak citra dengan menggunakan atribut Jakmania.
“Pastikan terbangun demarkasi antara Jakmania yang terorganisir (ada identitas keanggotaan) dan pendukung liar,” tuturnya.
Dua orang korban tercatat dalam dua kali pertandingan Persija. Pertama ada Fahreza, bocah yang diduga merupakan korban salah tangkap oleh kepolisian. Kedua, seorang pedagang di GBK yang meninggal dunia dengan dugaan menjadi korban kebrutalan Jakmania.
(ysw)