3 in 1 Dihapus atau Tidak, DKI Harus Siapkan Kebijakan Pendukung

Kamis, 12 Mei 2016 - 01:22 WIB
3 in 1 Dihapus atau...
3 in 1 Dihapus atau Tidak, DKI Harus Siapkan Kebijakan Pendukung
A A A
JAKARTA - Penghapusan kawasan 3 in 1 oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dipastikan akan membuat kemacetan di Jakarta merata. Diberlakukan atau dihapus kawasan 3 in 1, Pemprov DKI harus segera membuat kebijakan pendukungnya, seperti penyediaan angkutan umum, park and ride serta sarana pejalan kaki.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit mengatakan, dihapus atau diberlakukan, kebijakan 3 in 1 di Jakarta memang tidak efektif. Sebab, dalam Teori pola transportasi makro, untuk mengurai kemacetan harus ada pembatasan kendaraan baik berupa 3 in 1 ataupun Elektronik Road Pricing (ERP). Namun harus dilengkapi kebijakan pendukungnya.

"Nah, ini sudah enggak dipaksa, penyediaan angkutan umum dan park and ride-nya enggak ada. 3 in 1 itu enggak efektif karena tidak ada kebijakan pendukungnya. Jadi persoalanya bukan hapus atau berlaku, tapi kesiapan DKI untuk menyiapkan kebijakan pendukungnya," kata Danang Parikesit saat dihubungi, Rabu 11 Mei 2016.

Danang menuturkan, saat ini pengguna angkutan umum hanya sekitar 20 sampai 30% dari jumlah penduduk Jakarta. Idealnya, pengguna angkutan umum itu mencapai angka minimal 60% dan untuk mewujudkanya membutuhkan sedikitnya 6-8 ribu kendaraan angkutan umum yang baru, baik bus kecil, sedang ataupun besar di dalam kota Jakarta.

Angka tersebut bukan hanya di dalam koridor, melainkan berfungsi sebagai feeder Transjakarta. Sedangkan untuk angkutan umum ke mitra daerah yang terintegrasi dengan Transjakarta, lanjut dia, membutuhkan sedikitnya 15.000 unit.

Artinya, kata Danang, penambahan 400 bus dari Kementerian perhubungan (Kemenhub) yang beroperasi di dalam koridor Transjakarta dan 200 bus Transjabodetabek saat ini tidak akan berdampak. (Baca: Pemprov DKI Hapus Kebijakan 3 in 1)

"Teori darimana bila macet bertambah, pengendara pribadi akan beralih ke bus Transjakarta yang cuma nambah 400 di dalam koridor dan 200 Transjabodetabek. Orang pasti milih menggunakan kendaraan pribadi. Jadi saya prediksi kemacetan malah semakin merata ke jalur alternatif," tuturnya.

Dengan kemacetan yang merata tersebut, Danang menyatakan, perekonomian di lokasi segitiga emas (Sudirman-Thamrin) akan terganggu dan pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta akan menurun.

"Pola perjalanan sore hari yang akan semakin menjadi. Orang yang pulang kerja dengan orang yang berangkat kerja malam hari berbarengan. Petuga lalu lintas, baik polisi ataupun Dina perhubungan harus siap mengaturnya," pungkasya.
()
Berita Terkait
Kemenperin Pede Program...
Kemenperin Pede Program Diklat 3 in 1 Tekan Angka Pengangguran
3-in-1 Beauty Hacks...
3-in-1 Beauty Hacks dengan Face Mist
Koridor 1 hingga 3 Transjakarta...
Koridor 1 hingga 3 Transjakarta Bakal Dihapus, Dishub Ungkap Penyebabnya
Inovasi Terbaru dari...
Inovasi Terbaru dari ITB, 3 in 1 Face Protector
Kemenperin Kembangkan...
Kemenperin Kembangkan SDM Bidang Industri Melalui Diklat 3 in 1
Peluncuran Inovasi Rinso...
Peluncuran Inovasi Rinso Matic Kapsul 3-in-1
Berita Terkini
Sambangi MI Raudhatul...
Sambangi MI Raudhatul Azhar, KB Bank Tanamkan Literasi Keuangan Sejak Dini
7 menit yang lalu
Plt Bupati Bekasi Bakal...
Plt Bupati Bekasi Bakal Evaluasi Kinerja Dirum Perumda Tirta Bhagasasi
32 menit yang lalu
Hadir di IFBC Yogyakarta...
Hadir di IFBC Yogyakarta 2026, Booth Bingxue Dipadati Calon Mitra
59 menit yang lalu
Penyelundupan 3 Ton...
Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling ke Kamboja Terbongkar, Kemenhut Buru Jaringan Internasional
1 jam yang lalu
KDM Buka Lowongan Kerja,...
KDM Buka Lowongan Kerja, Buru Begal Komisi Rp50 Juta
1 jam yang lalu
Pemkab Bogor Tegaskan...
Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Jalankan Putusan PTUN Bandung Terkait Sentul City
4 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved