Datang ke Cirebon, Bupati Purwakarta Ditolak FPI

Rabu, 13 April 2016 - 17:03 WIB
Datang ke Cirebon, Bupati...
Datang ke Cirebon, Bupati Purwakarta Ditolak FPI
A A A
CIREBON - Kedatangan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke Kota Cirebon ditolak sejumlah kaum ulama. Tidak hanya ditolak, Dedi yang dianggap menistakan agama juga dilaporkan ke Polda Jabar.

Kedatangan Dedi ke Cirebon sendiri untuk menghadiri undangan Keraton Kanoman bertajuk Lesehan Nada Dzikir Cinta Kasih, pada Rabu 13 April 2016 malam yang juga menghadirkan musisi Charly Van Houten, jebolan ST-12 Band.

Siang ini, sejumlah ulama dari Front Pembela Islam (FPI) Cirebon mendatangi Keraton Kanoman untuk menyatakan penolakannya atas rencana kedatangan Dedi. Dedi dianggap telah menistakan agama Islam dan telah dilaporkan ke Polda Jabar.

"Kami keberatan adanya Bupati Purwakarta karena telah menistakan Islam. Semua alim ulama se-Jabar telah melaporkan Dedi ke Polda Jabar dan tengah diproses," ungkap koordinator wilayah FPI Cirebon Dede Iwan, Rabu (13/4/2016).

Dia menjelaskan, penistaan agama yang telah dilakukan Dedi di antaranya mengganti ucapan salam Islam dari "assalamualaikum menjadi sampurasun".

Selain itu, Dedi dianggap keterlaluan karena mengganti doa "bismillahirrahmannirrahiim" dengan "sambat Prabu Siliwangi" saat hendak masuk pintu Tol Cipali. Dedi bahkan dituding telah menikahi salah satu sosok mitos Nyi Roro Kidul.

Karenanya, lanjut Dede, mereka menolak dan akan mencegah kehadiran Dedi di Cirebon. "Kami tak menolak acaranya (Lesehan Nada Dzikir Cinta Kasih), hanya menolak Dedi. Kami telah sampaikan ke kepolisian," tambahnya.

Sementara itu, Pangeran Patih Mochamad Qodiran dari Keraton Kanoman menilai, lumrah sikap penolakan kalangan ulama. Pihaknya tetap membuka pintu bagi siapapun, termasuk Dedi.

"Kegiatan kami bersifat sosial, cuma dzikir. Soal penolakan, itu antara ulama dan Dedi saja," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, panitia acara yang juga seniman Cirebon Dedi Kampleng meyakinkan, secara prinsip kepolisian telah mengizinkan kegiatan tersebut. Dengan kata lain, tak ada persoalan hukum yang membelenggu Dedi Mulyadi untuk hadir.

"Kita hidup di negara hukum, tak bisa menjustifikasi begitu saja. Kalau memang Dedi buruk, serahkan pada lembaga hukum. Dalam agama pun, ada lembaga tertinggi yakni MUI," tegasnya.

Dia memastikan, Keraton Kanoman milik semua kalangan. Keraton merupakan ruang kebudayaan, bukan religi. Dia pun mengharapkan, mereka yang tak menyukai Dedi tak perlu hadir dalam kegiatan itu.
(san)
Berita Terkait
Muhammadiyah Masuk 10...
Muhammadiyah Masuk 10 Organisasi Keagamaan Terkaya di Dunia
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Purwakarta, Ada Jejak Penyebaran Agama Islam
Bareskrim Dalami Dugaan...
Bareskrim Dalami Dugaan Penistaan Agama oleh Muhammad Kece
Sekjen MUI Tegaskan...
Sekjen MUI Tegaskan Tindakan Pendeta Saifuddin Masuk Kriteria Penodaan Agama
MUI Desak Polisi Usut...
MUI Desak Polisi Usut Tuntas Pemuda Injak Al-Qur'an di Sukabumi
Jozeph Paul Zhang Ditetapkan...
Jozeph Paul Zhang Ditetapkan Tersangka Penodaan Agama
Berita Terkini
Pemprov DKI Buka 2.843...
Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Kerja Sektor Padat Karya, Pramono: Gaji UMP Jakarta
7 menit yang lalu
Ratusan Pelajar di Jaktim...
Ratusan Pelajar di Jaktim Ikuti Pelatihan Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Inovatif
15 menit yang lalu
Tiket Kereta Liburan...
Tiket Kereta Liburan Sekolah Diskon 30%, Pemesanan Mulai 6 Juni
31 menit yang lalu
Mimika Darurat Narkoba,...
Mimika Darurat Narkoba, Rampeani Rachman Minta Bandar Diburu hingga ke Akar
1 jam yang lalu
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
3 jam yang lalu
24 RW di Jakarta Bakal...
24 RW di Jakarta Bakal Alami Gangguan Air Bersih, Ini Penyebabnya
4 jam yang lalu
Infografis
Mampukah John Herdman...
Mampukah John Herdman Bawa Timnas Indonesia ke Panggung Dunia?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved