Dukung Ahok, Parpol Dinilai Tak Siap Ciptakan Kader Potensial
Senin, 28 Maret 2016 - 16:33 WIB
Dukung Ahok, Parpol Dinilai Tak Siap Ciptakan Kader Potensial
A
A
A
JAKARTA - Dukungan partai politik (parpol) terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 disebabkan ketiadaan kader mumpuni yang bisa dijual. Pilihan tersebut lebih pada ketidakmampuan melahirkan kader potensial.
Hal itu disampaikan oleh peneliti dari Founding Fathers House (FFH) Dian Permata. Padahal, kata Dian, dalam instrumen demokrasi, partai adalah kawah cadradimuka untuk melahirkan calon-calon pemimpin.
"Ini faktor ketidaksiapan parpol melahirkan calon-calon pemimpin baru," kata Dian Permata kepada Sindonews, Senin (28/3/2016). (Baca: Kecewa Partainya Dukung Ahok, Kader Hanura Ini Siap Mundur)
Ketidaksiapan parpol itu, dilanjutkan alumnus University Sains Malaysia (USM), pada dekade belakangan ini, partai gemar merekrut kader berlatarbelakang pengusaha. Makanya, tidak heran jika wajah calon-calon pemimpin lebih banyak diisi pengusaha.
Akibatnya, kader-kader tulen yang matang secara seleksi dan organisasi berjumlah minim. Padahal, kata Dian, pembentukan calon dimulai dari jenjang paling bawah. "Bukan asal comot. Apa yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta adalah sederet kecil pekerjaan rumah partai politik," kata Dian.
Dikatakan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni Malaysia (PAM) ini, dukungan partai politik kepada Ahok dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta sejatinya menjadi kritik kepada partai dalam melahirkan cikal bakal calon pemimpin. "Dukungan mereka (parpol) akan menjadi back fire bagi parpol sendiri," pungkasnya.
Ditambahkan Dian, bentuk dukungan yang diberikan parpol kepada Ahok kemungkinan besar tidak gratisan. Itu terlihat dari proses lobi dan tarik-menarik kekukatan di antara mereka. Proses kompensasi dan deal-deal politik itu lazim. (Baca: Dukung Ahok, Hanura dan Nasdem Dinilai Cari Kekuasaan)
"Tidak ada makan siang gratis, dan itu dipahami banyak orang. Masalahnya, apa bentuk kompensasi atau imbal balik, deal atau dukungan politik hanya para pelakunya saja yang tahu," tandasnya.
Sekadar diketahui, Ahok didukung Partai Nasdem dan Hanura untuk maju kembali di Pilgub DKI Jakarta 2017. Padahal, Ahok sudah menyatakan akan maju lewat jalur independen atau non partai.
PILIHAN:
Marshanda Akui Ayahnya Sudah Lama Mengemis
Hal itu disampaikan oleh peneliti dari Founding Fathers House (FFH) Dian Permata. Padahal, kata Dian, dalam instrumen demokrasi, partai adalah kawah cadradimuka untuk melahirkan calon-calon pemimpin.
"Ini faktor ketidaksiapan parpol melahirkan calon-calon pemimpin baru," kata Dian Permata kepada Sindonews, Senin (28/3/2016). (Baca: Kecewa Partainya Dukung Ahok, Kader Hanura Ini Siap Mundur)
Ketidaksiapan parpol itu, dilanjutkan alumnus University Sains Malaysia (USM), pada dekade belakangan ini, partai gemar merekrut kader berlatarbelakang pengusaha. Makanya, tidak heran jika wajah calon-calon pemimpin lebih banyak diisi pengusaha.
Akibatnya, kader-kader tulen yang matang secara seleksi dan organisasi berjumlah minim. Padahal, kata Dian, pembentukan calon dimulai dari jenjang paling bawah. "Bukan asal comot. Apa yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta adalah sederet kecil pekerjaan rumah partai politik," kata Dian.
Dikatakan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni Malaysia (PAM) ini, dukungan partai politik kepada Ahok dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta sejatinya menjadi kritik kepada partai dalam melahirkan cikal bakal calon pemimpin. "Dukungan mereka (parpol) akan menjadi back fire bagi parpol sendiri," pungkasnya.
Ditambahkan Dian, bentuk dukungan yang diberikan parpol kepada Ahok kemungkinan besar tidak gratisan. Itu terlihat dari proses lobi dan tarik-menarik kekukatan di antara mereka. Proses kompensasi dan deal-deal politik itu lazim. (Baca: Dukung Ahok, Hanura dan Nasdem Dinilai Cari Kekuasaan)
"Tidak ada makan siang gratis, dan itu dipahami banyak orang. Masalahnya, apa bentuk kompensasi atau imbal balik, deal atau dukungan politik hanya para pelakunya saja yang tahu," tandasnya.
Sekadar diketahui, Ahok didukung Partai Nasdem dan Hanura untuk maju kembali di Pilgub DKI Jakarta 2017. Padahal, Ahok sudah menyatakan akan maju lewat jalur independen atau non partai.
PILIHAN:
Marshanda Akui Ayahnya Sudah Lama Mengemis
(mhd)