Desak Jokowi Hentikan Proyek Tol, Warga Bakar Ban
Sabtu, 19 Maret 2016 - 10:50 WIB
Desak Jokowi Hentikan Proyek Tol, Warga Bakar Ban
A
A
A
NGANJUK - Jelang peresmian Tol Trans Jawa oleh Presiden Joko Widodo di Mojokerto, Jawa Timur, ratusan warga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, berunjuk rasa menuntut presiden menghentikan proyek jalan tol tersebut. Dalam aksinya, massa membakar ban bekas dan memblokir jalan di lahan yang terkena proyek tol.
Dengan penuh emosi, ratusan warga Desa Buluputren, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, membakar ban bekas di tengah jalan, Sabtu (19/3/2016). Massa juga memblokir jalan menuju lokasi proyek tol yang ada di wilayah Kecamatan Sukomoro-Nganjuk.
Menurut warga, sampai saat ini lahan mereka yang terkena proyek tol di daerah tersebut belum diberi ganti rugi oleh pemerintah. Selain itu, warga juga menolak nilai ganti rugi yang ditawarkan karena terlalu rendah dan tidak sebanding dengan harga normal.
Di daerah Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, harga tanah normalnya Rp600 ribu per meter persegi. Namun, selama ini pemerintah hanya menawarkan ganti rugi sekitar Rp400 ribu. Atas dasar ini, warga menolak menyerahkan lahannya dan menuntut proyek Tol Trans Jawa dihentikan.
"Jika pemerintah tetap meneruskan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, kami terus mempertahankan tanah sampai titik darah penghabisan," kata Ahmad Subeki, korlap aksi.
Untuk diketahui, proyek Jalan Tol Trans Jawa adalah proyek tol yang akan dibangun pemerintah mulai dari Semarang-Solo-Ngawi-Nganjuk, Jombang-Mojokerto, hingga Surabaya.
Di beberapa titik pembangunannya kini sudah selesai termasuk yang di Mojokerto dan akan diresmikan Presiden Jokowi hari ini.
Namun, di banyak daerah termasuk Nganjuk saat ini pembangunannya masih tersendat gara-gara proses pembebasan lahannya masih belum selesai.
Hal itu terjadi karena banyak warga menolak menyerahkan lahannya karena menganggap nilai ganti rugi yang ditawarkan pemerintah terlalu rendah.
Dengan penuh emosi, ratusan warga Desa Buluputren, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, membakar ban bekas di tengah jalan, Sabtu (19/3/2016). Massa juga memblokir jalan menuju lokasi proyek tol yang ada di wilayah Kecamatan Sukomoro-Nganjuk.
Menurut warga, sampai saat ini lahan mereka yang terkena proyek tol di daerah tersebut belum diberi ganti rugi oleh pemerintah. Selain itu, warga juga menolak nilai ganti rugi yang ditawarkan karena terlalu rendah dan tidak sebanding dengan harga normal.
Di daerah Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, harga tanah normalnya Rp600 ribu per meter persegi. Namun, selama ini pemerintah hanya menawarkan ganti rugi sekitar Rp400 ribu. Atas dasar ini, warga menolak menyerahkan lahannya dan menuntut proyek Tol Trans Jawa dihentikan.
"Jika pemerintah tetap meneruskan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, kami terus mempertahankan tanah sampai titik darah penghabisan," kata Ahmad Subeki, korlap aksi.
Untuk diketahui, proyek Jalan Tol Trans Jawa adalah proyek tol yang akan dibangun pemerintah mulai dari Semarang-Solo-Ngawi-Nganjuk, Jombang-Mojokerto, hingga Surabaya.
Di beberapa titik pembangunannya kini sudah selesai termasuk yang di Mojokerto dan akan diresmikan Presiden Jokowi hari ini.
Namun, di banyak daerah termasuk Nganjuk saat ini pembangunannya masih tersendat gara-gara proses pembebasan lahannya masih belum selesai.
Hal itu terjadi karena banyak warga menolak menyerahkan lahannya karena menganggap nilai ganti rugi yang ditawarkan pemerintah terlalu rendah.
(zik)