Ini Saran Pengamat untuk Parpol Soal Ucapan Ahok
Selasa, 15 Maret 2016 - 10:28 WIB
Ini Saran Pengamat untuk Parpol Soal Ucapan Ahok
A
A
A
JAKARTA - Partai politik (parpol) diminta untuk melakukan evaluasi terhadap munculnya kelompok masyarakat yang mendukung calon pemimpin non partai. Jika saat ini muncul kelompok tersebut, maka hal itu perlu ditelisik apa yang salah dengan parpol sehingga kekuatan itu menjadi besar.
Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Pancasila (FHUP) Edie Toet Hendratno. Kata dia, padahal amanat undang-undang menyebutkan calon pemimpin harus lewat partai politik.
"Pasti ada yang salah. Apakah ada kadernya yang kurang atau kinerja parpol yang tidak memuaskan. Itu yang harus dievaluasi," kata Edie di Jakarta, Selasa (15/3/2016).
Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pembina UP ini menilai, sangat berbahaya jika ada muncul distrust dalam masyarakat. Karena itu bisa berdampak pada penurunan pamor parpol. Saat ini antusias masyarakat untuk mengumpulkan dukungan semakin besar. "Itu tandanya ada distrust terhadap parpol," katanya.
Menurut dia, parpol tidak usai mengomentari lebih jauh soal adanya mahar politik yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Karena, hal itu bisa menjadi bumerang untuk parpol.
"Ini bisa menjadi tak terbendung. Jadi (parpol) harus ambil langkah persuasif dengan kembali merebut hati rakyat," saran Edie. (Baca: Singgung Soal Mahar, PDIP: Ahok Perburuk Citra Partai)
Maka itu, dia menyarankan, agar parpol tidak memberi penilaian soal ucapan Ahok itu sebagai upaya deparpolisasi. Karena, hal itu akan merugikan parpol itu sendiri. (Baca: Kritik Ahok, Adhyaksa Dault Sampaikan Falsafah China)
"Kalau sudah ada distrust maka pamor parpol menjadi kurang diuntungkan," tutupnya. (Baca: Taufik Sebut Ahok Pembohong Soal Mahar Politik)
Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Pancasila (FHUP) Edie Toet Hendratno. Kata dia, padahal amanat undang-undang menyebutkan calon pemimpin harus lewat partai politik.
"Pasti ada yang salah. Apakah ada kadernya yang kurang atau kinerja parpol yang tidak memuaskan. Itu yang harus dievaluasi," kata Edie di Jakarta, Selasa (15/3/2016).
Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pembina UP ini menilai, sangat berbahaya jika ada muncul distrust dalam masyarakat. Karena itu bisa berdampak pada penurunan pamor parpol. Saat ini antusias masyarakat untuk mengumpulkan dukungan semakin besar. "Itu tandanya ada distrust terhadap parpol," katanya.
Menurut dia, parpol tidak usai mengomentari lebih jauh soal adanya mahar politik yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Karena, hal itu bisa menjadi bumerang untuk parpol.
"Ini bisa menjadi tak terbendung. Jadi (parpol) harus ambil langkah persuasif dengan kembali merebut hati rakyat," saran Edie. (Baca: Singgung Soal Mahar, PDIP: Ahok Perburuk Citra Partai)
Maka itu, dia menyarankan, agar parpol tidak memberi penilaian soal ucapan Ahok itu sebagai upaya deparpolisasi. Karena, hal itu akan merugikan parpol itu sendiri. (Baca: Kritik Ahok, Adhyaksa Dault Sampaikan Falsafah China)
"Kalau sudah ada distrust maka pamor parpol menjadi kurang diuntungkan," tutupnya. (Baca: Taufik Sebut Ahok Pembohong Soal Mahar Politik)
(mhd)