Ditangkap Densus 88, 3 Warga Depok Jadi Korban Laporan Palsu Anak
Jum'at, 15 Januari 2016 - 16:47 WIB
Ditangkap Densus 88, 3 Warga Depok Jadi Korban Laporan Palsu Anak
A
A
A
DEPOK - Polresta Depok memastikan tiga warga Jalan H Dul, Pondok Terong, Pancoranmas, Depok, yang ditangkap Densus 88 Antiteror tidak terkait dengan aksi terorisme.
Tiga warga yakni, Saipul Bahri (50), Sudirmansyah (43) dan Isra Tamami (36) belakangan diketahui menjadi korban pelaporan palsu. Ironisnya pelaku laporan palsu tersebut ialah Nurul (19) anak dari Saipul Bahri.
Polisi bertindak karena meyakini laporan Nurul yang mengatakan sempat diancam dengan senjata. Hingga akhirnya polisi mengamankan Saipul Bahri, Sudirmansyah dan Isra Tamami. Namun setelah didalami ternyata laporan yang dibuat Nurul tidak benar.
Penyidik kepolisian menduga, pelapor sakit hati terhadap salah satu terlapor yaitu Saipul Bahri. Ketiga warga itu pun masih dimintai keterangan lebih lanjut, termasuk Nurul dan Meli, ibunya yang juga ikut diperiksa.
Sudirmansyah, salah satu korban mengatakan, penangkapan diri dan dua saudaranya terjadi sebelum subuh pada Jumat (15/1/2016). Polisi masuk dan meminta ketiganya menunduk lalu tangan mereka diborgol.
"Kemudian saya ditanya kenal dengan Nurul lantas diminta tiarap kemudian diborgol dan dibawa keluar rumah," kata Sudirmansyah, Jumat (15/1/2016). Ketika diciduk tim kepolisian, Sudirmansyah sudah menduga jika dituding teroris.
Namun karena tak merasa bersalah maka Sudirmansyah pun tetap tenang. Ketiganya dibawa ke Polsek Cimanggis dan kemudian ke Polresta Depok.
"Pak polisi mengatakan ke saya bahwa penangkapan ini laporan dari keponakan (Nurul) yang mengatakan bahwa kami ini teroris. Padahal tidak sama sekali, kami hanya pegawai toko komputer saja di salah satu mal di Depok," kata Sudirmansyah.
Sudirmansyah menceritakan, Nurul melaporkan ke polisi karena sakit hati Nurul terhadap Saipul. Nurul adalah anak kandung Saipul, namun Saipul sudah bercerai dengan Meli, ibu Nurul.
Kapolresta Depok Kombes Pol Dwiyono menegaskan, ketiga orang itu tidak terkait dengan terorisme. Dwiyono membenarkan sempat menerima laporan dari Nurul bahwa telah diancam dengan menggunakan senjata tajam.(Baca: Densus 88 Tangkap Tiga Warga Depok)
Pihaknya masih mendalami proses penyelidikan. "Kemudian dilakukan penangkapan dan interogasi kepada tersangka. Tapi mereka tidak terlibat terorisme," katanya.
Nurul tidak bersedia memberikan komentar terkait laporan yang menyebutkan ayah dan pamannya teroris. Nurul dan ibunya, Melly lebih memilih menghindar dari awak media ketika hendak dimintai keterangan.
Tiga warga yakni, Saipul Bahri (50), Sudirmansyah (43) dan Isra Tamami (36) belakangan diketahui menjadi korban pelaporan palsu. Ironisnya pelaku laporan palsu tersebut ialah Nurul (19) anak dari Saipul Bahri.
Polisi bertindak karena meyakini laporan Nurul yang mengatakan sempat diancam dengan senjata. Hingga akhirnya polisi mengamankan Saipul Bahri, Sudirmansyah dan Isra Tamami. Namun setelah didalami ternyata laporan yang dibuat Nurul tidak benar.
Penyidik kepolisian menduga, pelapor sakit hati terhadap salah satu terlapor yaitu Saipul Bahri. Ketiga warga itu pun masih dimintai keterangan lebih lanjut, termasuk Nurul dan Meli, ibunya yang juga ikut diperiksa.
Sudirmansyah, salah satu korban mengatakan, penangkapan diri dan dua saudaranya terjadi sebelum subuh pada Jumat (15/1/2016). Polisi masuk dan meminta ketiganya menunduk lalu tangan mereka diborgol.
"Kemudian saya ditanya kenal dengan Nurul lantas diminta tiarap kemudian diborgol dan dibawa keluar rumah," kata Sudirmansyah, Jumat (15/1/2016). Ketika diciduk tim kepolisian, Sudirmansyah sudah menduga jika dituding teroris.
Namun karena tak merasa bersalah maka Sudirmansyah pun tetap tenang. Ketiganya dibawa ke Polsek Cimanggis dan kemudian ke Polresta Depok.
"Pak polisi mengatakan ke saya bahwa penangkapan ini laporan dari keponakan (Nurul) yang mengatakan bahwa kami ini teroris. Padahal tidak sama sekali, kami hanya pegawai toko komputer saja di salah satu mal di Depok," kata Sudirmansyah.
Sudirmansyah menceritakan, Nurul melaporkan ke polisi karena sakit hati Nurul terhadap Saipul. Nurul adalah anak kandung Saipul, namun Saipul sudah bercerai dengan Meli, ibu Nurul.
Kapolresta Depok Kombes Pol Dwiyono menegaskan, ketiga orang itu tidak terkait dengan terorisme. Dwiyono membenarkan sempat menerima laporan dari Nurul bahwa telah diancam dengan menggunakan senjata tajam.(Baca: Densus 88 Tangkap Tiga Warga Depok)
Pihaknya masih mendalami proses penyelidikan. "Kemudian dilakukan penangkapan dan interogasi kepada tersangka. Tapi mereka tidak terlibat terorisme," katanya.
Nurul tidak bersedia memberikan komentar terkait laporan yang menyebutkan ayah dan pamannya teroris. Nurul dan ibunya, Melly lebih memilih menghindar dari awak media ketika hendak dimintai keterangan.
(whb)