Duel, Harisal Hantam Kepala Begal dengan Batu
Rabu, 06 Januari 2016 - 03:00 WIB
Duel, Harisal Hantam Kepala Begal dengan Batu
A
A
A
MAJALENGKA - Aksi begal kian meresahkan masyarakat di Majalengka. Komplotan begal itu beraksi pada malam hari seperti yang dialami warga Jatitujuh Majalengka.
"Saat itu saya dari Indramayu hendak ke Jatitujuh bertemu dengan istri saya sekitar pukul 19.45 WIB menggunakan motor. Namun, di tengah perjalanan di daerah perbatasan Indramayu-Majalengka tepatnya di dekat pohon tebu, tidak diduga saya dibegal oleh dua orang pengendara motor," kata Harisal (29), Selasa (5/1/2016).
Saat itu, sepeda motornya ditendang oleh pengendara motor yang datang dari arah berlawanan hingga terjungkal ke tanah. Saat terjatuh, dia pun mengambil batu dan menghantamkannya ke kepala pelaku begal.
"Saya di sana adu jotos dengan begal. Beruntung saat itu ada petani yang satu jalur dengan saya dan melihat perkelahian saya dan dia membantu melawan para begal," katanya.
Ketika itu lawan yang dihadapinya berlumuran darah karena dirinya memukulnya di bagian kepala hingga tak sadarkan diri.
"Saya malam itu berusaha membela diri, dia membawa senjata tajam. Terpaksa saya mengambil batu dan memukulnya hingga salah seorang begal itu jatuh terkapar," ucapanya.
Sedangkan satu orang lagi dihadapi petani dan perkelahian dimenangkan petani karena petani tersebut membawa semacam celurit.
"Setelah itu begal itu lari dan meninggalkan temannya yang saya pukul. Setelah kejadian itu saya dan petani pulang. Dan baru beberapa menit kemudian setelah saya pergi agak jauh dari TKP, begal satunya datang menolong temannya yang tak sadarkan diri tersebut," ujarnya.
Pihaknya berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali pada warga lainnya karena aksi pembegalan banyak merenggut nyawa.
"Saya tidak melapor polisi karena takut urusannya panjang, yang penting saat itu saya sudah selamat. Kejadiannya sebulan lalu. Tapi yang pasti saya berharap petugas kepolisiaan giat melaksanakan patroli di sepanjang jalan Kadipaten-Jatitujuh karena rawan pembegalan," harapnya.
Kapolsek Jatitujuh AKP Asep Supriadi mengaku selama bertugas di wilayah hukum Jatitujuh belum menerima laporan kasus pencurian dan kekerasan (curas).
Dirinya hanya pernah mendapatkan kabar ada aksi pembegalan yang terjadi di wilayah Polsek Ligung sekitar daerah Desa Beber dan Bendungan Rentang.
"Kalau aksi curas selama saya bertugas belum ada laporan. kejadian di siang hari maupun malam hari. Terlebih kami dari petugas juga kerap melaksanakan patroli," katanya.
Menurut dia, kemungkinan besar kejadian itu terjadi di daerah Kabupaten Indramayu karena wilayahnya berbatasan dengan Indramayu.
"Kalau memang benar ada kejadian curas dan tidak melapor. Kami mengimbau kepada seluruh warga terutama wanita dan anak-anak agar tidak mengendari kendaraan di tengah malam secara sendirian. Karena pelaku curas itu menyerang terhadap kaum yang lemah," katanya.
Sementara itu, di wilayah selatan Majalengka warga bernama Yayat Hidayat mengatakan, dirinya kerap mendapatkan kabar jika memasuki tengah malam di jalur Cihaur Maja menuju Bantarujeg rawan terjadi pembegalan karena jalurnya melalui hutan dan pegunungan.
"Jalan pintas itu memang dekat bagi warga yang ingin ke Bantarujeg atau ke Majalengka, jika dibandingkan lewat Talaga. Tapi kalau tengah malam itu kabarnya sering terjadi pembegalan," ucapnya.
Pihaknya berharap kepada aparat kepolisian, baik Polres maupun Polsek agar giat menggelar patroli guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengguna jalan ketika melintas di jalur tersebut.
"Kalau pagi, siang dan sore itu aman. Kalau malam itu rawan. Banyak orang menyarankan agar tidak melewati jalur pintas tersebut, meski memangkas waktu yang cepat, tapi keselamatan lebih utama," pungkasnya.
"Saat itu saya dari Indramayu hendak ke Jatitujuh bertemu dengan istri saya sekitar pukul 19.45 WIB menggunakan motor. Namun, di tengah perjalanan di daerah perbatasan Indramayu-Majalengka tepatnya di dekat pohon tebu, tidak diduga saya dibegal oleh dua orang pengendara motor," kata Harisal (29), Selasa (5/1/2016).
Saat itu, sepeda motornya ditendang oleh pengendara motor yang datang dari arah berlawanan hingga terjungkal ke tanah. Saat terjatuh, dia pun mengambil batu dan menghantamkannya ke kepala pelaku begal.
"Saya di sana adu jotos dengan begal. Beruntung saat itu ada petani yang satu jalur dengan saya dan melihat perkelahian saya dan dia membantu melawan para begal," katanya.
Ketika itu lawan yang dihadapinya berlumuran darah karena dirinya memukulnya di bagian kepala hingga tak sadarkan diri.
"Saya malam itu berusaha membela diri, dia membawa senjata tajam. Terpaksa saya mengambil batu dan memukulnya hingga salah seorang begal itu jatuh terkapar," ucapanya.
Sedangkan satu orang lagi dihadapi petani dan perkelahian dimenangkan petani karena petani tersebut membawa semacam celurit.
"Setelah itu begal itu lari dan meninggalkan temannya yang saya pukul. Setelah kejadian itu saya dan petani pulang. Dan baru beberapa menit kemudian setelah saya pergi agak jauh dari TKP, begal satunya datang menolong temannya yang tak sadarkan diri tersebut," ujarnya.
Pihaknya berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali pada warga lainnya karena aksi pembegalan banyak merenggut nyawa.
"Saya tidak melapor polisi karena takut urusannya panjang, yang penting saat itu saya sudah selamat. Kejadiannya sebulan lalu. Tapi yang pasti saya berharap petugas kepolisiaan giat melaksanakan patroli di sepanjang jalan Kadipaten-Jatitujuh karena rawan pembegalan," harapnya.
Kapolsek Jatitujuh AKP Asep Supriadi mengaku selama bertugas di wilayah hukum Jatitujuh belum menerima laporan kasus pencurian dan kekerasan (curas).
Dirinya hanya pernah mendapatkan kabar ada aksi pembegalan yang terjadi di wilayah Polsek Ligung sekitar daerah Desa Beber dan Bendungan Rentang.
"Kalau aksi curas selama saya bertugas belum ada laporan. kejadian di siang hari maupun malam hari. Terlebih kami dari petugas juga kerap melaksanakan patroli," katanya.
Menurut dia, kemungkinan besar kejadian itu terjadi di daerah Kabupaten Indramayu karena wilayahnya berbatasan dengan Indramayu.
"Kalau memang benar ada kejadian curas dan tidak melapor. Kami mengimbau kepada seluruh warga terutama wanita dan anak-anak agar tidak mengendari kendaraan di tengah malam secara sendirian. Karena pelaku curas itu menyerang terhadap kaum yang lemah," katanya.
Sementara itu, di wilayah selatan Majalengka warga bernama Yayat Hidayat mengatakan, dirinya kerap mendapatkan kabar jika memasuki tengah malam di jalur Cihaur Maja menuju Bantarujeg rawan terjadi pembegalan karena jalurnya melalui hutan dan pegunungan.
"Jalan pintas itu memang dekat bagi warga yang ingin ke Bantarujeg atau ke Majalengka, jika dibandingkan lewat Talaga. Tapi kalau tengah malam itu kabarnya sering terjadi pembegalan," ucapnya.
Pihaknya berharap kepada aparat kepolisian, baik Polres maupun Polsek agar giat menggelar patroli guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengguna jalan ketika melintas di jalur tersebut.
"Kalau pagi, siang dan sore itu aman. Kalau malam itu rawan. Banyak orang menyarankan agar tidak melewati jalur pintas tersebut, meski memangkas waktu yang cepat, tapi keselamatan lebih utama," pungkasnya.
(nag)