Pembunuh Eneng Manfaatkan Anak-anak Boeltacuz Jadi Kurir Narkoba
Minggu, 11 Oktober 2015 - 21:25 WIB
Pembunuh Eneng Manfaatkan Anak-anak Boeltacuz Jadi Kurir Narkoba
A
A
A
JAKARTA - Pelaku pembunuhan Putri Nur Fauziah (PNF) alias Eneng (9), Agus Dermawan alias Pea alias Om mengaku, hanya memanfaatkan anak-anak yang tergabung dalam kelompok Boeltacuz untuk jadi kurir narkoba. Hal itu diketahui dari hasil pemeriksaan Agus kepada polisi.
"Ternyata anggota Boeltacuz itu dimanfaatkan Agus untuk jadi kurir Narkoba. Agus ini kami duga memang jual Narkoba," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Khrisna Murti di Jakarta, Minggu (11/10/2015).
Kelompok Boeltacuz bentukan Agus yang beranggotakan anak-anak seusia Sekolah Menengah Pertama (SMP), kerap diajak menghisap ganja dan sabu bareng. Barang haram itu dibeli dari hasil patungan kepada Agus.
"Anak-anak ini diminta patungan Rp50 ribu satu anak. Kemudian beli ganja yang dikoordinatori oleh Agus," tambahnya.
Maka itu, kata dia, anak-anak itu disuruh patungan dan menghisapnya barengan dengan Agus, yang juga menjual barang haram itu kepada mereka. Hal itu sama saja Agus sudah mengelabui anak-anak Boeltacuz.
Hal itu juga dibenarkan oleh pengakuan orangtua yang anaknya masuk ke dalam kelompok Boeltacuz itu. Menurut orangtua itu, sambung Krhisna, anak-anak mereka kerap bercerita bahwa Agus menyuruh bertemu orang ini atau orang itu untuk menyerahkan benda semacam butiran garam agak besar yang dikemas dalam plastik-plastik kecil, penyelidik menduga itu adalah sabu.
Tidak hanya itu, masih kata Khrisna, nama kelompok itu juga agak aneh begitu juga dengan kepanjangan nama gank itu. Penjelasan nama itu juga didapat polisi dari kakak Agus. "Kakak Agus yang menceritakan soal Boeltacuz itu ke kami," ujarnya.
Saat polisi meringkus Agus, kata dia, kelompok ini hendak membuat membuat jaket yang bertuliskan Boeltacuz. Agus yang lagi-lagi mengkoordinir. "Setiap anak disuruh mencicil untuk pembuatan baju," ujarnya lagi.
Semua uang tabungan, sambungnya, dikumpulkan ke Agus dan dicatat di sebuah buku untuk mencatat siapa saja yang mulai menabung untuk membuat jaket itu.
"Ternyata anggota Boeltacuz itu dimanfaatkan Agus untuk jadi kurir Narkoba. Agus ini kami duga memang jual Narkoba," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Khrisna Murti di Jakarta, Minggu (11/10/2015).
Kelompok Boeltacuz bentukan Agus yang beranggotakan anak-anak seusia Sekolah Menengah Pertama (SMP), kerap diajak menghisap ganja dan sabu bareng. Barang haram itu dibeli dari hasil patungan kepada Agus.
"Anak-anak ini diminta patungan Rp50 ribu satu anak. Kemudian beli ganja yang dikoordinatori oleh Agus," tambahnya.
Maka itu, kata dia, anak-anak itu disuruh patungan dan menghisapnya barengan dengan Agus, yang juga menjual barang haram itu kepada mereka. Hal itu sama saja Agus sudah mengelabui anak-anak Boeltacuz.
Hal itu juga dibenarkan oleh pengakuan orangtua yang anaknya masuk ke dalam kelompok Boeltacuz itu. Menurut orangtua itu, sambung Krhisna, anak-anak mereka kerap bercerita bahwa Agus menyuruh bertemu orang ini atau orang itu untuk menyerahkan benda semacam butiran garam agak besar yang dikemas dalam plastik-plastik kecil, penyelidik menduga itu adalah sabu.
Tidak hanya itu, masih kata Khrisna, nama kelompok itu juga agak aneh begitu juga dengan kepanjangan nama gank itu. Penjelasan nama itu juga didapat polisi dari kakak Agus. "Kakak Agus yang menceritakan soal Boeltacuz itu ke kami," ujarnya.
Saat polisi meringkus Agus, kata dia, kelompok ini hendak membuat membuat jaket yang bertuliskan Boeltacuz. Agus yang lagi-lagi mengkoordinir. "Setiap anak disuruh mencicil untuk pembuatan baju," ujarnya lagi.
Semua uang tabungan, sambungnya, dikumpulkan ke Agus dan dicatat di sebuah buku untuk mencatat siapa saja yang mulai menabung untuk membuat jaket itu.
(mhd)