Tugas Pertahanan Udara, Tapi Menolong Siapa Saja
Minggu, 13 September 2015 - 12:41 WIB
Tugas Pertahanan Udara, Tapi Menolong Siapa Saja
A
A
A
INGAT insiden kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 buatan Rusia di pegunungan Salak Bogor tahun 2012? Tidak bermaksud membuka duka lama, tapi tahukah bahwa orang pertama yang menemukan lokasi pesawat nahas itu adalah putra asal Pagaralam, Sumsel?
Sosok membanggakan itu yakni Letkol Pnb M Riza Yudha Fahlefie. Keberhasilan menemukan lokasi reruntuhan pesawat dan membantu operasi evakuasi jasad para korban pesawat buatan Rusia itu, Pemerintah Rusia secara khusus menganugerahkan nya tanda penghargaan Emergency Humanitarian Operation.
Kini dengan segala pengalaman serta keberhasilan di berbagai tempat operasi, Letkol Pnb M. Riza Yudha Fahlefie dipercaya menjabat Danlanud Palembang. Ditemui baru-baru ini, putra pasangan Sjarifuddin Zein, dari dusun Pelang Kenidai Pagaralam, dan Farida Siamit, dusun Tanjung Agung Pagaralam, ini tampak begitu bersahabat menerima kedatangan KORAN SINDO PALEMBANG. Mau mengenal lebih jauh dengan sosok Letkol Pnb M. Riza Yudha Fahlefie, berikut wawancaranya dengan reporter KORAN SINDO PALEMBANGRetno Palupi.
Berkaitan dengan tugas pokok TNI AU, tentu Lanud Palembang memiliki sejumlah renstra atau program dalam waktu dekat?
Dalam menjamin kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, memiliki tugas TNI matra udara di bidang pertahanan serta pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara. Kita pun, melaksanakan kegiatan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.
Termasuk upaya penguatan potensi kedirgantaraan, meningkatkan profesionalisme prajurit, dan kesiapan alutsita untuk mengemban tugas menjaga NKRI. Di samping itu, Lanud Palembang pun memiliki tugas tambahan dalam pertahanan aset.
Selama beberapa tahun terakhir mempertahankan aset menjadi isu hangat di Lanud Palembang, bagaimana perkem - bangannya?
Hal itu ditujukan dalam merapikan pendataan aset yang dimiliki serta untuk menunjang peningkatan pangkalan agar lebih baik. Apalagi, sudah diajukan kepada Panglima TNI bahwa ada tujuh Lanud yang direncanakan dinaikkan statusnya. Rencana peningkatan tersebut pada 3 Lanud perbatasan dan 4 Lanud di ibu kota provinsi termasuk Lanud Palembang mendesak naik status tipe B.
Tentu hal itu menjadi kebijakan pusat dan kami mendukung penuh. Memang ada berbagai prasyarat dan persiapan. Seperti ditunjang dengan kondisi luas lahan dan segi keamanan wilayah. Saat ini sayangnya, kawasan yang menjadi aset Kementerian Pertahanan RI yang dikuasakan kepada TNI AU banyak yang diserobot.
Untuk itulah TNI AU bertugas dalam mempertahankan dan mengamankan aset yang sudah dikuasakan kepada TNI AU berdasarkan Keputusan Panglima Angkatan Perang (KSAP) Tahun 1950. Namun masyarakat justru makin marak melakukan pembangunan di kawasan (borders) aset TNI AU.
Di satu sisi, dari sisi keamanan dan keselamatan memang ada ketentuan tentang kawasan keselamatan operasi penerbangan di mana harus cleardan jarak aman dengan pemukiman warga.
Kondisi saat ini apa sudah relevan untuk naik status dari tipe C menjadi tipe B?
Di satu sisi, Lanud Palembang memiliki peran penting dan strategis sebagai wilayah penyangga ibu kota negara dan juga sebagai home baseoperasi udara. Di mana master plan untuk pengembangan menjadi tipe B pun memiliki beberapa rencana strategis. Apalagi, Lanud Palembang merupakan Lanud penyangga ibu kota sehingga hal itu pun menyangkut tugas pokok.
Sehingga, layaknya Lanud penyangga seharusnya ditunjang berbagai sarana operasi, fasilitas, kelengkapan dan personel yang memadai. Wilayah penyangga ini pun bertugas mem-backupatau menjadi alternatif jika pusat membutuhkan segera. Misalkan ada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan di pusat, maka Lanud Palembang yang dinilai strategis dapat menjadi alternatif.
Makanya standar operasi dan fasilitas seharusnya dapat ditingkatkan lagi. Misal adanya shelter pesawat, area parkir dan hanggar pesawat, taxiway, De-Arming Area, Jetison area, dll. Dimungkinkan, jika nantinya dinaikan status menjadi tipe B maka butuh berbagai persiapan internal seperti SDM atau pejabat eselon dan personel prajurit, Satuan Pasukan Khas, Skadron Udara dan teknik serta kesiapan eksternal.
Seperti saat ini, apa saja yang mendesak dan dibutuhkan menuju peningkatan status?
Nah, saat ini kita butuh penambahantaxiway dan de-arming area, dan itu sangat dibutuhkan. Meski belum dinaikkan status, posisi Lanud Palembang kerap menjadi home base dalam setiap latihan dan operasi udara yang melibatkan berbagai pesawat tempur seperti pesawat Hawk 100/200, F 16 Fighting Falcon, T 50i Golden Eagle, dan kedatangan pesawat lainnya seperti Hercules C- 130, CN 295, Cassa dan Helikopter.
Selain itu, butuh De-arming Area, merupalan lokasi untuk mengamankan seperti rudal dan bom yang dibawa pesawat tempur sebelum pesawat take offatau setelah landingagar safety. Sejauh ini, Lanud Palembang merupakan tipe C dan itu bukan kendala berarti. Sebab, dalam tugas Satgas Udara kami mewakili atau perpanjangan Kepala Staf TNI Angakatan Udara (KSAU) di wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu.
Lanud Palembang ini menjadi Lanud penyangga ibu kota, jadi Danlanud selaku Kordinator Pengamanan/Satgas Udara. Tamu negara atau VVIP yang akan ke daerah secara otomatis melalui kita, dan kordinasi dengan pihak bandara (PT AP) dan Airnav Indonesia sangat baik.
Beberapa tahun terakhir lalu lintas udara di Sumsel cukup tinggi. Tak hanya kerapnya kedatangan RI 1, bahkan dalam waktu dekat RI 2 beserta tamu VVIP lainnya. Bagaimana melihat potensi atau trafik yang tinggi tersebut?
Kedatangan Presiden atau RI1 tentu merupakan kehormatan, sehingga terkait pengamanan VVIP dan juga keberadaan pesawat kepresidenan tentu saja ada SOP dalam pelayanan dan pengamanannya. Jadi kami upayakan sebaik mungkin, sebab sebelum menuju lokasi tujuan kunjungan secara otomatis tamu akan berada di area kita dan itu sangat penting diperhatikan.
Bagaimana menyambut kedatangan, bagaimaman standar pengamanan pesawat kepresidenan hingga soal perlengkapan, soal menu yang semua harus diganti dalam pesawat, sampai bentuk pengamanan lainnya, agar berjalan lancar.
Nah, bagaimana sebenarnya latar belakang Anda memilih dunia militer, memang cita - cita?
Sebenarnya sejak SMP saya ingin masuk AKABRI. Kebetulan ayah Purn TNI AD. Saya awalnya tertarik melihat para Taruna AKABRI saat masih SMP, diantaranya adik ayah saya. Selain itu, saat SMA barulah saya serius ingin masuk AKMIL. Ayah tidak pernah memaksa saya harus menjadi tentara karena saat itu pun ayah saya sedang tugas di Tim-Tim, namun ini tumbuh dari dalam diri saya sendiri agar bisa mengabdi pada negara.
Saya pun rutin olahraga dan mempersiapkan diri agar dapat lulus tes AKMIL. Selepas tamat SMA saya sempat gagal, namun kembali saya ikut lagi. Awalnya ingin masuk TNI AD dan belum ada bayangan seperti apa TNI AU dan TNI AL, namun saat setahun kuliah saya memutuskan mendaftar AAU dan Alhamdulillah lulus.
Saya pun menjalani pendidikan, di sana saya benar-benar kuliah karena banyak sekali materi yang diberikan berbau teknik dan matematika. Saat penjurusan, tanpa beban akhirnya saya tes penerbang dan saya berusaha maksimal dan Ahmadulillah lulus. Berbagai seleksi pun dijalani seperti pendidikan penerbangan latih dasar dan lanjut. Kemudian, kami berlatih juga soal instrumen, terbang malam, dan aerobatik. Saya pun akhirnya masuk kategori penerbang helikopter.
Pengalaman menerbangkan helikopter jenis apa saja?
Diantaranya Helikopter Sikorsky S-58T twinpac dan Super Puma. Saat itu, saya berdinas di Skadron Udara 6, Lanud Suryadarma Kalijati dan bertugas menjadi instruktur penerbang di Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta.
Pengalaman unik dan berharga apa saja selama menerbangkan helikopter?
Sebenarnya, kalau sudah posisi terbang itu, saya langsung mengingat kesalahan dan kealpaan. Apalagi misal saat kondisi cuaca buruk dan kondisi medan yang kurang baik. Kita tahu manusia ditakdirkan bukan hidup di udara. Namun itu konsekuensi kita dalam bertugas apalagi Helikopter ini biasanya difungsikan sebagai pesawat “penolong”.
Seperti apa pengalaman operasi SAR saat kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100di pegunungan Salak Bogor?
Ya, saya ditugaskan ikut ops SAR pesawat Sukhoi super jet 100 yang melaksanakan Joy flight dari Lanud Halim. Saya adalah orang yang menemukan pertama kali reruntuhan pesawat tersebut yang menabrak Gunung Salak Bogor tahun 2012, pada ketinggian 7.000 kaki di atas permukaan laut.
Salah satu proses penemuan tercepat dalam secara operasi pencarian reruntuhan pesawat yang mengalami kecelakaan, ditemukan hanya sekitar 18 jam setelah kejadian pesawat hilang kontak. Kemudian sekaligus dilanjutkan dengan operasi evakuasi jasad 56 korban dari puncak Gunung Salak menggunakan helikopter NAS 332 Super Puma Skadron Udara 6 TNI AU.
Saat itu, saya baru pulang dari Papua dan Singapura. Saya pun bersama crew menyisir kawasan Gunung Salak dengan Heli Super Puma. Cuaca sangat buruk dan berkabut saat itu namun kami tetap terbang. Saya memprediksi, pesawat jatuh di bagian puncak gunung sehingga saya mencoba mengitari. Dan benar, saya melihat seperti tanah atau lahan terbakar di posisi kemiringan tebing batu.
Saya kembali memutari dan “Allahu Akbar” makin terlihat reruntuhan pesawat. Saya melihat bagian ekor pesawat, posisinya seperti terselip di bawah jurang. Saya yakin betul, itu pesawatnya dan langsung kembali ke Lanud Atang Sendjaya untuk melaporkannya.
Setelah itu langsung dilaporkan ke tim SAR gabungan dan dilaporkan pada presiden. Kami pun bolak balik melakukan evakuasi jenazah, kami landing di kaki bukit sehari sampai 5-6 sortie. Saya melakukannya dengan ikhlas untuk menolong sekitar 7 hari operasi.
Bagaimana rasanya membawa jenazah korban kecelakaan pesawat atau pengalaman operasi SAR lainnya?
Ada rasa nervous awalnya namun ini adalah tugas. Saya lakukan dengan ikhlas dan seoptimal mungkin. Memang ada pengalaman yang bisa dibilang agak aneh. Jadi, saat mengangkut jenazah yang terakhir kami membawa potongan kaki wanita, bisa jadi pramugari atau siapa saya kurang begitu tahu.
Saat melintas pegunungan itu, saya mendengar “sholawat” terngiang lumayan keras, saya sempat merinding namun juga heran. Kalau suara radio sepertinya tidak mungkin. Semua crew terdiam. Baru saat landing semua mengutarakan terkejut mendengarkan Sholawat tersebut dan saya pikir jenazah yang kami evakuasi itu orang baik.
Yah, itu sebagian pengalaman yang selalu saya ingat. Pengalaman lainnya, saat saya operasi Rajawali (Papua), Opslihkam (Aceh), Ops Tameng Panah (papua). Kami membantu evakuasi korban, membawa obat-obatan dan logistik. Di situ kami menolong siapa saja yang membutuhkan baik sipil dantentara.
Sosok membanggakan itu yakni Letkol Pnb M Riza Yudha Fahlefie. Keberhasilan menemukan lokasi reruntuhan pesawat dan membantu operasi evakuasi jasad para korban pesawat buatan Rusia itu, Pemerintah Rusia secara khusus menganugerahkan nya tanda penghargaan Emergency Humanitarian Operation.
Kini dengan segala pengalaman serta keberhasilan di berbagai tempat operasi, Letkol Pnb M. Riza Yudha Fahlefie dipercaya menjabat Danlanud Palembang. Ditemui baru-baru ini, putra pasangan Sjarifuddin Zein, dari dusun Pelang Kenidai Pagaralam, dan Farida Siamit, dusun Tanjung Agung Pagaralam, ini tampak begitu bersahabat menerima kedatangan KORAN SINDO PALEMBANG. Mau mengenal lebih jauh dengan sosok Letkol Pnb M. Riza Yudha Fahlefie, berikut wawancaranya dengan reporter KORAN SINDO PALEMBANGRetno Palupi.
Berkaitan dengan tugas pokok TNI AU, tentu Lanud Palembang memiliki sejumlah renstra atau program dalam waktu dekat?
Dalam menjamin kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, memiliki tugas TNI matra udara di bidang pertahanan serta pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara. Kita pun, melaksanakan kegiatan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.
Termasuk upaya penguatan potensi kedirgantaraan, meningkatkan profesionalisme prajurit, dan kesiapan alutsita untuk mengemban tugas menjaga NKRI. Di samping itu, Lanud Palembang pun memiliki tugas tambahan dalam pertahanan aset.
Selama beberapa tahun terakhir mempertahankan aset menjadi isu hangat di Lanud Palembang, bagaimana perkem - bangannya?
Hal itu ditujukan dalam merapikan pendataan aset yang dimiliki serta untuk menunjang peningkatan pangkalan agar lebih baik. Apalagi, sudah diajukan kepada Panglima TNI bahwa ada tujuh Lanud yang direncanakan dinaikkan statusnya. Rencana peningkatan tersebut pada 3 Lanud perbatasan dan 4 Lanud di ibu kota provinsi termasuk Lanud Palembang mendesak naik status tipe B.
Tentu hal itu menjadi kebijakan pusat dan kami mendukung penuh. Memang ada berbagai prasyarat dan persiapan. Seperti ditunjang dengan kondisi luas lahan dan segi keamanan wilayah. Saat ini sayangnya, kawasan yang menjadi aset Kementerian Pertahanan RI yang dikuasakan kepada TNI AU banyak yang diserobot.
Untuk itulah TNI AU bertugas dalam mempertahankan dan mengamankan aset yang sudah dikuasakan kepada TNI AU berdasarkan Keputusan Panglima Angkatan Perang (KSAP) Tahun 1950. Namun masyarakat justru makin marak melakukan pembangunan di kawasan (borders) aset TNI AU.
Di satu sisi, dari sisi keamanan dan keselamatan memang ada ketentuan tentang kawasan keselamatan operasi penerbangan di mana harus cleardan jarak aman dengan pemukiman warga.
Kondisi saat ini apa sudah relevan untuk naik status dari tipe C menjadi tipe B?
Di satu sisi, Lanud Palembang memiliki peran penting dan strategis sebagai wilayah penyangga ibu kota negara dan juga sebagai home baseoperasi udara. Di mana master plan untuk pengembangan menjadi tipe B pun memiliki beberapa rencana strategis. Apalagi, Lanud Palembang merupakan Lanud penyangga ibu kota sehingga hal itu pun menyangkut tugas pokok.
Sehingga, layaknya Lanud penyangga seharusnya ditunjang berbagai sarana operasi, fasilitas, kelengkapan dan personel yang memadai. Wilayah penyangga ini pun bertugas mem-backupatau menjadi alternatif jika pusat membutuhkan segera. Misalkan ada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan di pusat, maka Lanud Palembang yang dinilai strategis dapat menjadi alternatif.
Makanya standar operasi dan fasilitas seharusnya dapat ditingkatkan lagi. Misal adanya shelter pesawat, area parkir dan hanggar pesawat, taxiway, De-Arming Area, Jetison area, dll. Dimungkinkan, jika nantinya dinaikan status menjadi tipe B maka butuh berbagai persiapan internal seperti SDM atau pejabat eselon dan personel prajurit, Satuan Pasukan Khas, Skadron Udara dan teknik serta kesiapan eksternal.
Seperti saat ini, apa saja yang mendesak dan dibutuhkan menuju peningkatan status?
Nah, saat ini kita butuh penambahantaxiway dan de-arming area, dan itu sangat dibutuhkan. Meski belum dinaikkan status, posisi Lanud Palembang kerap menjadi home base dalam setiap latihan dan operasi udara yang melibatkan berbagai pesawat tempur seperti pesawat Hawk 100/200, F 16 Fighting Falcon, T 50i Golden Eagle, dan kedatangan pesawat lainnya seperti Hercules C- 130, CN 295, Cassa dan Helikopter.
Selain itu, butuh De-arming Area, merupalan lokasi untuk mengamankan seperti rudal dan bom yang dibawa pesawat tempur sebelum pesawat take offatau setelah landingagar safety. Sejauh ini, Lanud Palembang merupakan tipe C dan itu bukan kendala berarti. Sebab, dalam tugas Satgas Udara kami mewakili atau perpanjangan Kepala Staf TNI Angakatan Udara (KSAU) di wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu.
Lanud Palembang ini menjadi Lanud penyangga ibu kota, jadi Danlanud selaku Kordinator Pengamanan/Satgas Udara. Tamu negara atau VVIP yang akan ke daerah secara otomatis melalui kita, dan kordinasi dengan pihak bandara (PT AP) dan Airnav Indonesia sangat baik.
Beberapa tahun terakhir lalu lintas udara di Sumsel cukup tinggi. Tak hanya kerapnya kedatangan RI 1, bahkan dalam waktu dekat RI 2 beserta tamu VVIP lainnya. Bagaimana melihat potensi atau trafik yang tinggi tersebut?
Kedatangan Presiden atau RI1 tentu merupakan kehormatan, sehingga terkait pengamanan VVIP dan juga keberadaan pesawat kepresidenan tentu saja ada SOP dalam pelayanan dan pengamanannya. Jadi kami upayakan sebaik mungkin, sebab sebelum menuju lokasi tujuan kunjungan secara otomatis tamu akan berada di area kita dan itu sangat penting diperhatikan.
Bagaimana menyambut kedatangan, bagaimaman standar pengamanan pesawat kepresidenan hingga soal perlengkapan, soal menu yang semua harus diganti dalam pesawat, sampai bentuk pengamanan lainnya, agar berjalan lancar.
Nah, bagaimana sebenarnya latar belakang Anda memilih dunia militer, memang cita - cita?
Sebenarnya sejak SMP saya ingin masuk AKABRI. Kebetulan ayah Purn TNI AD. Saya awalnya tertarik melihat para Taruna AKABRI saat masih SMP, diantaranya adik ayah saya. Selain itu, saat SMA barulah saya serius ingin masuk AKMIL. Ayah tidak pernah memaksa saya harus menjadi tentara karena saat itu pun ayah saya sedang tugas di Tim-Tim, namun ini tumbuh dari dalam diri saya sendiri agar bisa mengabdi pada negara.
Saya pun rutin olahraga dan mempersiapkan diri agar dapat lulus tes AKMIL. Selepas tamat SMA saya sempat gagal, namun kembali saya ikut lagi. Awalnya ingin masuk TNI AD dan belum ada bayangan seperti apa TNI AU dan TNI AL, namun saat setahun kuliah saya memutuskan mendaftar AAU dan Alhamdulillah lulus.
Saya pun menjalani pendidikan, di sana saya benar-benar kuliah karena banyak sekali materi yang diberikan berbau teknik dan matematika. Saat penjurusan, tanpa beban akhirnya saya tes penerbang dan saya berusaha maksimal dan Ahmadulillah lulus. Berbagai seleksi pun dijalani seperti pendidikan penerbangan latih dasar dan lanjut. Kemudian, kami berlatih juga soal instrumen, terbang malam, dan aerobatik. Saya pun akhirnya masuk kategori penerbang helikopter.
Pengalaman menerbangkan helikopter jenis apa saja?
Diantaranya Helikopter Sikorsky S-58T twinpac dan Super Puma. Saat itu, saya berdinas di Skadron Udara 6, Lanud Suryadarma Kalijati dan bertugas menjadi instruktur penerbang di Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta.
Pengalaman unik dan berharga apa saja selama menerbangkan helikopter?
Sebenarnya, kalau sudah posisi terbang itu, saya langsung mengingat kesalahan dan kealpaan. Apalagi misal saat kondisi cuaca buruk dan kondisi medan yang kurang baik. Kita tahu manusia ditakdirkan bukan hidup di udara. Namun itu konsekuensi kita dalam bertugas apalagi Helikopter ini biasanya difungsikan sebagai pesawat “penolong”.
Seperti apa pengalaman operasi SAR saat kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100di pegunungan Salak Bogor?
Ya, saya ditugaskan ikut ops SAR pesawat Sukhoi super jet 100 yang melaksanakan Joy flight dari Lanud Halim. Saya adalah orang yang menemukan pertama kali reruntuhan pesawat tersebut yang menabrak Gunung Salak Bogor tahun 2012, pada ketinggian 7.000 kaki di atas permukaan laut.
Salah satu proses penemuan tercepat dalam secara operasi pencarian reruntuhan pesawat yang mengalami kecelakaan, ditemukan hanya sekitar 18 jam setelah kejadian pesawat hilang kontak. Kemudian sekaligus dilanjutkan dengan operasi evakuasi jasad 56 korban dari puncak Gunung Salak menggunakan helikopter NAS 332 Super Puma Skadron Udara 6 TNI AU.
Saat itu, saya baru pulang dari Papua dan Singapura. Saya pun bersama crew menyisir kawasan Gunung Salak dengan Heli Super Puma. Cuaca sangat buruk dan berkabut saat itu namun kami tetap terbang. Saya memprediksi, pesawat jatuh di bagian puncak gunung sehingga saya mencoba mengitari. Dan benar, saya melihat seperti tanah atau lahan terbakar di posisi kemiringan tebing batu.
Saya kembali memutari dan “Allahu Akbar” makin terlihat reruntuhan pesawat. Saya melihat bagian ekor pesawat, posisinya seperti terselip di bawah jurang. Saya yakin betul, itu pesawatnya dan langsung kembali ke Lanud Atang Sendjaya untuk melaporkannya.
Setelah itu langsung dilaporkan ke tim SAR gabungan dan dilaporkan pada presiden. Kami pun bolak balik melakukan evakuasi jenazah, kami landing di kaki bukit sehari sampai 5-6 sortie. Saya melakukannya dengan ikhlas untuk menolong sekitar 7 hari operasi.
Bagaimana rasanya membawa jenazah korban kecelakaan pesawat atau pengalaman operasi SAR lainnya?
Ada rasa nervous awalnya namun ini adalah tugas. Saya lakukan dengan ikhlas dan seoptimal mungkin. Memang ada pengalaman yang bisa dibilang agak aneh. Jadi, saat mengangkut jenazah yang terakhir kami membawa potongan kaki wanita, bisa jadi pramugari atau siapa saya kurang begitu tahu.
Saat melintas pegunungan itu, saya mendengar “sholawat” terngiang lumayan keras, saya sempat merinding namun juga heran. Kalau suara radio sepertinya tidak mungkin. Semua crew terdiam. Baru saat landing semua mengutarakan terkejut mendengarkan Sholawat tersebut dan saya pikir jenazah yang kami evakuasi itu orang baik.
Yah, itu sebagian pengalaman yang selalu saya ingat. Pengalaman lainnya, saat saya operasi Rajawali (Papua), Opslihkam (Aceh), Ops Tameng Panah (papua). Kami membantu evakuasi korban, membawa obat-obatan dan logistik. Di situ kami menolong siapa saja yang membutuhkan baik sipil dantentara.
(bbg)