Korban Trigana Asal Palu Tak Tercantum dalam Manifes
Senin, 17 Agustus 2015 - 16:18 WIB
Korban Trigana Asal Palu Tak Tercantum dalam Manifes
A
A
A
PALU - Salah satu korban maskapai Trigana Air yang hilang kontak dan menabrak pegunungan di Papua ternyata warga Kota Palu, Sulawesi Tengah. Korban bernama Teguh Warisman Sane (26). Dia tidak terdaftar dalam manifest karena menggantikan pimpinannya bernama Dewa Putu Raka.
Saat dikunjungi sejumlah wartawan, Senin (17/8/2015) siang, Sherly Karundeng (59), ibu kandung Teguh, tak mampu menyembunyikan rasa sedih. Matanya sembab.
Dia juga terus memegang telepon seluler berisikan foto-foto anaknya pada sebuah kesempatan saat liburan Lebaran di Palu.
Sherly mendapat kabar duka Minggu (16/8/2015) malam melalui jaringan telepon. Keluarga juga memantau siaran televisi yang terus memberitakan peristiwa nahas tersebut.
"Tahun ini keluarga akan menikahkan Teguh dengan pacarnya bernama Ika," kata Sherly.
Sebelum terbang, Teguh masih sempat menghubungi ibunya dan meminta agar melakukan kebaktian. Teguh menggantikan atasannya, Dewa Putu Raka, untuk menuju Oksibil.
Diperoleh informasi, Teguh yang merupakan Manajer Keuangan Kantor Pos Papua membawa uang Rp6,5 miliar sebagai dana kompensasi kenaikan bahan bakar minyak bagi masyarakat Pegunungan Bintang.
Sebelumnya, Direktur Operasional Trigana Jayapura Kapten Benny menolak untuk diwawancarai oleh sejumlah awak media terkait dugaan adanya penumpang ilegal.
Pesawat Trigana Air berpenumpang 49 orang ini take off dari Bandara Sentani Jayapura, Minggu (16/8/2015) sekitar pukul 14.23 WIT dan direncanakan tiba di Bandara Oksibil pada pukul 15.04 WIT. Namun, pada pukul 14.55 WIT, pesawat tersebut hilang kontak.
Pesawat itu membawa sebanyak 49 penumpang, terdiri dari 44 dewasa, tiga anak-anak, dan dua bayi. Pesawat dipiloti Kapten Hasanudin, Kopilot Ariadin F, mekanik Mario, serta pramugari Ika dan Dita.
Pesawat Trigana ini diperkirakan jatuh di Kampung Bape, sekitar 13 mil dari Oksibil yang bisa ditempuh dalam empat jam jalan darat.
Saat dikunjungi sejumlah wartawan, Senin (17/8/2015) siang, Sherly Karundeng (59), ibu kandung Teguh, tak mampu menyembunyikan rasa sedih. Matanya sembab.
Dia juga terus memegang telepon seluler berisikan foto-foto anaknya pada sebuah kesempatan saat liburan Lebaran di Palu.
Sherly mendapat kabar duka Minggu (16/8/2015) malam melalui jaringan telepon. Keluarga juga memantau siaran televisi yang terus memberitakan peristiwa nahas tersebut.
"Tahun ini keluarga akan menikahkan Teguh dengan pacarnya bernama Ika," kata Sherly.
Sebelum terbang, Teguh masih sempat menghubungi ibunya dan meminta agar melakukan kebaktian. Teguh menggantikan atasannya, Dewa Putu Raka, untuk menuju Oksibil.
Diperoleh informasi, Teguh yang merupakan Manajer Keuangan Kantor Pos Papua membawa uang Rp6,5 miliar sebagai dana kompensasi kenaikan bahan bakar minyak bagi masyarakat Pegunungan Bintang.
Sebelumnya, Direktur Operasional Trigana Jayapura Kapten Benny menolak untuk diwawancarai oleh sejumlah awak media terkait dugaan adanya penumpang ilegal.
Pesawat Trigana Air berpenumpang 49 orang ini take off dari Bandara Sentani Jayapura, Minggu (16/8/2015) sekitar pukul 14.23 WIT dan direncanakan tiba di Bandara Oksibil pada pukul 15.04 WIT. Namun, pada pukul 14.55 WIT, pesawat tersebut hilang kontak.
Pesawat itu membawa sebanyak 49 penumpang, terdiri dari 44 dewasa, tiga anak-anak, dan dua bayi. Pesawat dipiloti Kapten Hasanudin, Kopilot Ariadin F, mekanik Mario, serta pramugari Ika dan Dita.
Pesawat Trigana ini diperkirakan jatuh di Kampung Bape, sekitar 13 mil dari Oksibil yang bisa ditempuh dalam empat jam jalan darat.
(zik)