Tari-tarian Sarat Makna Tampil di Istana

Sabtu, 16 Mei 2015 - 09:53 WIB
Tari-tarian Sarat Makna...
Tari-tarian Sarat Makna Tampil di Istana
A A A
SOLO - Tarian tradisional yang digelar dalam Mangkunegaran Performing Art tadi malam mampu memukau para penonton Pendapa Pura Mangkunegaran. Tarian tradisional yang sarat makna mampu menggugah kembali bahwa seni budaya memang patut dipertahankan.

Seperti tari Gambyong Retno Kusumo yang diciptakan KPGAA Mangkunegara VIII menggambarkan sekelompok gadis kerajaan yang sedang menari dengan lemah gemulai. Kata Retno mengandung arti emas dan Kusumo berarti bunga, sehingga dapat diartikan bahwa tarian itu menggambarkan gadis yang tumbuh dewasa, harum, dan bersinar bagaikan emas.

“Tari Gambyong Retno Kusumo dibawakan sembilan penari putri. Spesifikasi geraknya khas Mangkunegaran,” ungkap Sutrisno, pelatih tari Sanggar Tari Suryo Sumirat. Salah satu ciri khasnya adalah kostum yang dipakai berbeda dengan tarian Gambyong biasanya. Tarian Gambyong biasa kostumnya memakai kemban dari kain biasa, sedangkan Gambyong Retno Kusumo memakai mekak dari kain beludru dan jamak. Selain itu, dari gerak juga menggunakan khas Keraton Mangkunegaran.

Demikian pula tarian Kudakuda dibawakan sepuluh penari anak yang merupakan gambaran keceriaan dari sekelompok anak laki-laki sedang bermain dan menari. Tarian ini terinspirasi dari gerakan kuda sehingga wujud gerak tariannya banyak menggunakan lompat dan lari tranjal yang mempunyai kesan lincah.

“Tarian ini diciptakan oleh almarhum S Mardi, empu tari Keraton Kasunanan Surakarta,” tuturnya. Selanjutnya tarian Kembangkan Setaman menggambarkan sekelompok gadis tengah menginjak remaja. Sembilan penari dengan gerak lemah gemulai menggambarkan suasana riang gembira. Mereka bermain bercengkerama serta bersolek diri bagaikan bidadari.

Para penari mampu membawakan dengan penuh penghayatan. Tak kalah menarik adalah tarian Mustakaweni yang dikemas dengan konsep wayang bocah. Menceritakan keinginan Dewi Mustakaweni yang akan balas dendam kepada Arjuna karena telah membunuh ayahnya, Prabu Newata Kawaca. Mustakaweni mampu mengubah diri menjadi Gatotkaca, keponakan Arjuna, dan menemui ratu Drupadi untuk mengambil Jamus Kalimasada, pusaka andalan Pandawa.

Namun, hal itu dicurigai Srikandi karena Gatotkaca berani mengambil Jamus Kalimasada. Karena tidak diberikan, terjadi peperangan yang selanjutnya muncul wajah asli Mustakaweni. Ketika Srikandi terdesak, datang Priyambada dan Punokawan. Berkat bantuan Priyambada, Jamus Kalimasada berhasil direbut kembali. “Untuk wayang bocah mengambil spesifikasi gerak umum karena ciri khas Mangkunegaran memang sulit diterapkan,” katanya.

Karena itu, konsep yang dipakai sederhana, yakni dengan garapannya dan konsep pengendapan. Garapan dipentaskan di Pendapa Ageng sehingga sebelum dan setelah menari dilakukan sembahan kepada raja. Sebenarnya, tarian ini menggambarkan percintaan. Namun berhubung yang melakukan anak, maka nilai-nilai percintaan sengaja dihilangkan dan diambil sesuai dengan unsur psikologis anak, di antaranya keharmonisan. Khusus untuk wayang bocah, penarinya mencapai 50 penari.

Sementara total penari yang terlibat dalam acara mencapai 100 orang. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Surakarta, Eni Tyasni Susana mengatakan, tarian Gambyong Retno Kusumo selama ini tidak sembarang digelar. Sajian hanya dilakukan di tempat tertentu mengingat berasal dari serat-serat Mangkunegaran.

Tempat yang diperkenankan di antaranya Pendapa Mangkunegaran yang menjadi lokasi acara Mangkunegaran Performing Art. Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (Rudy) memberikan apresiasi kepada keluarga besar Mangkunegaran sehingga acara ini bisa digelar. Mangkunegaran Performing Arat merupakan kegiatan tahunan yang digelar Disparbud Kota Solo. “Setiap tahun di Solo ada 56 acara bersifat nasional, regional, dan internasional,” kata Rudi.

Pihaknya berharap tahun depan lanskap bisa berbeda tampilannya, di antaranya bisa di depan Kavaleri di bagian depan Pura Mangkunegaran. Pemkot memproyeksikan Solo sebagai Kota Budaya, yakni bagaimana Solo masa depan adalah masa lalu memiliki ciri khas sopan, gotong royong, dan keramahan masyarakatnya.

Ary wahyu wibowo
(ftr)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
51 menit yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
2 jam yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
2 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
2 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
2 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
4 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved