Cucurmin Bisa Meningkatkan Imun Tubuh Tapi Bukan Obat Covid-19
Kamis, 19 Maret 2020 - 19:11 WIB
Kiri ke kanan: Praktisi Jamu dan Herbal Iwan Setiawan, Peneliti LIPI Dr Akhmad Darmawan, Peneliti LIPI Prof D Muhammad Hanafi, Apt Rekayasa Obat dari Bahan Alami BPPT Dr rer nat Chaidir, dan Praktisi Jamu dan Herbal Edward Basilianus. Foto/Ist
A
A
A
Cucurmin berkhasiat untuk meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh sehingga dapat membantu memulihkan stamina tubuh seseorang. Namun cucurmin bukanlah obat dan tidak bisa dijadikan obat, apalagi untuk sakit infeksi atau inflamasi.
Peneliti LIPI Prof Dr Muhammad Hanafi mengatakan, selama ini curcumin dikenal punya banyak manfaat. Misalnya digunakan untuk pengobatan hepatitis B.
Namun demikian untuk menjadikan atau membuat obat dari cucurmin herbal-kunyit, bukanlah hal yang mudah. Sebab penggunaan untuk obat medis dan obat herbal berbeda.
Selama ini sudah banyak yang menggunakan curcumin meskipun ekstraknya. Misalnya dalam bentuk jamu. Sejauh ini jamu terbuat dari cucrmin sudah diuji efektif dan aman untuk dikonsumsi.
“Cucurmin memang belum terbukti bisa mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona baru bernama Covid 19. Meskipun faktanya cucurmin dipakai bisa digunakan dan mematikan virus covid 19,” kata Hanafi dalam konferensi pers di LIPI Kimia Serpong, Kamis (19/3/2020).
Menurut Hanafi, untuk menguji cucurmin dijadikan obat bisa dilakukan dengan cara mengujinya ke binatang yang disuntikkan terlebih dulu dengan virus corona. Lalu binatang tersebut diberikan cucurmin murni. Pemberiannya diberikan tergantung dosisnya seperti penggunaan obat untuk satu penyakit.
Sementara itu, Apt Rekayasa Obat dari Bahan Alami BPPT Dr rer nat Chaidir mengatakan, terkait isu curcumin, ada miskonsepsi tentang cucurmin sebagai senyawa tunggal (obat modern) dan curcumin sebagai obat herbal atau alami.
“Namun penyakit infeksi sebaiknya tidak mengandalkan obat herbal. Jadi untuk mengobati infeksi tidak dilakukan dengan obat herbal. Sebab penyakit infeksi sifatnya darurat. Sebaiknya infeksi diobati dengan antibiotok, vaksin dan obat-obatan medis lainnya,” jelas Chaidir.
Menurut Chaidir, obat herbal lebih difokuskan dalam rangka meningkatkan imunutas tubuh. Misalnya dalam kasus Covid-19, terjadi radang paru-paru, jadi ketika masyarakat menggunakan obat herbal, mungkin bisa mengatasi inflamasi dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam tahap tertentu. Tapi bukan berati obat herbal itu bisa menyembuhkan penyakit Covid-19.
“Jadi soal temulawak dan kunyit bukan untuk mengobati tapi bagaimana kita bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Namun jangan dikonsumsi secara berlebihan. Sebab sesuatu yang dikonsumsi berlebihan juga akan mengakibatkan efek samping,” kata dia.
Chaidir menjelaskan, beda obat konvensional dengan obat herbal, obat herbal biasanya berupa ekstrak dari sebuah tanaman dan bisa memberikan multi efek pada tubuh. Sedangkan obat medis konvensional fokus pada satu aspek pengobatan penyakit yang dituju.
“Saya ingin mengatakan, temulawak dan kunyit adalah tanaman obat yang sudah menjadi bagian tradisional dan sudah digunakan secara turun menurun dan bermanfaat,” kata dia.
Menurut dia, selama ini obat herbal sangat bayak membantu pengobatan berdasarkan pengalaman empiris. Bahkan ada beberapa yang mengklaim bisa mengobati satu penyakit tertentu. “Namun sebaiknya tidak untuk infeksi. Cucurmin hanya bisa untuk mencegah dan meningkatkan imunitas tubuh kita,” kata Chaidir dengan nada tegas.
Menurut Chaidir, BPPT sudah melakukan upaya kontribusi dalam penanganan penyakit akibat virus. “BPPT sudah memiliki beragam ekstrak bahan alam dari tanaman dan mikroba sebagai sumber senyawa obat anti-virus. Namun memerlukan akses ke kultur virus Corona untuk uji atau skrining aktivitas,” jelas dia.
Sedangkan, Peneliti LIPI, Dr Akhmad Darmawan menjelaskan, obat-obat herbal hanya bisa untuk menigkatkan daya tahan tubuh dan bukan sebagai obat. “Dalam rangka meningaktkan daya tahan tubuh bagus dalam mengatasi Covid-19 bisa saja tapi bukan sebagai obat,” kata dia.
Menurut dia, obat tradisional biasanya hanya ditujukan untuk meningkatkan imunitas tubuh tapi tidak begitu berpengaruh kepada aspek resepstor penyakit. “Pada dasarnya tubuh kita bisa membuat antibodi sendiri dan dibutuhkan waktu 7 Hari dalam membentuk antibodi. Jadi ketika ada virus yang sama masuk ke tubuh maka antibodi tidak butuh waktu lama untuk menangkal virus. Intinya kita harus membiasakan diri hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan sehat, olahraga, dan minum vitamin,” pungkas dia.
Peneliti LIPI Prof Dr Muhammad Hanafi mengatakan, selama ini curcumin dikenal punya banyak manfaat. Misalnya digunakan untuk pengobatan hepatitis B.
Namun demikian untuk menjadikan atau membuat obat dari cucurmin herbal-kunyit, bukanlah hal yang mudah. Sebab penggunaan untuk obat medis dan obat herbal berbeda.
Selama ini sudah banyak yang menggunakan curcumin meskipun ekstraknya. Misalnya dalam bentuk jamu. Sejauh ini jamu terbuat dari cucrmin sudah diuji efektif dan aman untuk dikonsumsi.
“Cucurmin memang belum terbukti bisa mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona baru bernama Covid 19. Meskipun faktanya cucurmin dipakai bisa digunakan dan mematikan virus covid 19,” kata Hanafi dalam konferensi pers di LIPI Kimia Serpong, Kamis (19/3/2020).
Menurut Hanafi, untuk menguji cucurmin dijadikan obat bisa dilakukan dengan cara mengujinya ke binatang yang disuntikkan terlebih dulu dengan virus corona. Lalu binatang tersebut diberikan cucurmin murni. Pemberiannya diberikan tergantung dosisnya seperti penggunaan obat untuk satu penyakit.
Sementara itu, Apt Rekayasa Obat dari Bahan Alami BPPT Dr rer nat Chaidir mengatakan, terkait isu curcumin, ada miskonsepsi tentang cucurmin sebagai senyawa tunggal (obat modern) dan curcumin sebagai obat herbal atau alami.
“Namun penyakit infeksi sebaiknya tidak mengandalkan obat herbal. Jadi untuk mengobati infeksi tidak dilakukan dengan obat herbal. Sebab penyakit infeksi sifatnya darurat. Sebaiknya infeksi diobati dengan antibiotok, vaksin dan obat-obatan medis lainnya,” jelas Chaidir.
Menurut Chaidir, obat herbal lebih difokuskan dalam rangka meningkatkan imunutas tubuh. Misalnya dalam kasus Covid-19, terjadi radang paru-paru, jadi ketika masyarakat menggunakan obat herbal, mungkin bisa mengatasi inflamasi dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam tahap tertentu. Tapi bukan berati obat herbal itu bisa menyembuhkan penyakit Covid-19.
“Jadi soal temulawak dan kunyit bukan untuk mengobati tapi bagaimana kita bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Namun jangan dikonsumsi secara berlebihan. Sebab sesuatu yang dikonsumsi berlebihan juga akan mengakibatkan efek samping,” kata dia.
Chaidir menjelaskan, beda obat konvensional dengan obat herbal, obat herbal biasanya berupa ekstrak dari sebuah tanaman dan bisa memberikan multi efek pada tubuh. Sedangkan obat medis konvensional fokus pada satu aspek pengobatan penyakit yang dituju.
“Saya ingin mengatakan, temulawak dan kunyit adalah tanaman obat yang sudah menjadi bagian tradisional dan sudah digunakan secara turun menurun dan bermanfaat,” kata dia.
Menurut dia, selama ini obat herbal sangat bayak membantu pengobatan berdasarkan pengalaman empiris. Bahkan ada beberapa yang mengklaim bisa mengobati satu penyakit tertentu. “Namun sebaiknya tidak untuk infeksi. Cucurmin hanya bisa untuk mencegah dan meningkatkan imunitas tubuh kita,” kata Chaidir dengan nada tegas.
Menurut Chaidir, BPPT sudah melakukan upaya kontribusi dalam penanganan penyakit akibat virus. “BPPT sudah memiliki beragam ekstrak bahan alam dari tanaman dan mikroba sebagai sumber senyawa obat anti-virus. Namun memerlukan akses ke kultur virus Corona untuk uji atau skrining aktivitas,” jelas dia.
Sedangkan, Peneliti LIPI, Dr Akhmad Darmawan menjelaskan, obat-obat herbal hanya bisa untuk menigkatkan daya tahan tubuh dan bukan sebagai obat. “Dalam rangka meningaktkan daya tahan tubuh bagus dalam mengatasi Covid-19 bisa saja tapi bukan sebagai obat,” kata dia.
Menurut dia, obat tradisional biasanya hanya ditujukan untuk meningkatkan imunitas tubuh tapi tidak begitu berpengaruh kepada aspek resepstor penyakit. “Pada dasarnya tubuh kita bisa membuat antibodi sendiri dan dibutuhkan waktu 7 Hari dalam membentuk antibodi. Jadi ketika ada virus yang sama masuk ke tubuh maka antibodi tidak butuh waktu lama untuk menangkal virus. Intinya kita harus membiasakan diri hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan sehat, olahraga, dan minum vitamin,” pungkas dia.
(nth)