Irama Angklung Pengamen Jalanan Segarkan Jalanan Mojokerto
Selasa, 31 Juli 2018 - 08:47 WIB
Kehadiran pengamen angklung Satria Nada di simpang empat Jalan RA Basuni, Sooko, Kabupaten Mojokerto, sangat menghibur masyarakat. Foto/SINDONews/Tritus Julan
A
A
A
Bagi pengguna jalan, keberadaan pengamen kerap menjadi pengganggu. Apalagi, saat kondisi jalanan macet, lengkap dengan terik mentari yang menyengat.
Kehadiran pengamen jalanan yang sering kali berpenampilan kumal, dan menyanyikan musik ala kadarnya, sering kali membuat pengguna jalan yang berhenti di lampu merah sengaja menghidar.
Tetapi tidak dengan kelompok pengamen angklung yang mangkal di simpang empat Jalan RA Basuni, Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Seluruh anggapan negatif terhadap pengamen jalanan, seolah luruh. Lima pengamen dengan pakaian sopan, tampak memberikan hiburan sebenarnya bagi pengguna jalan di lampu merah itu.
Apalagi, lagu-lagu yang dimainkan cukup akrab di telinga kita. Termasuk, irama lembut lagu berjudul Sayang, yang biasa dibawakan penyanyi Via Valen.
Deretan angklung dengan apik dimainkan Firdaus, salah satu pengamen. Irama semakin rancak ketika Adek mengikutinya dengan memainkan perkusi buatan mereka sendiri.
Sementara sebagai pelengkap, Indra memukul jegug dan bass drum tradisional. Sembari memainkan alat musik masing-masing, ketiganya bernyanyi dengan tidak asal-asalan.
Saat irama musik dimainkan, dan lag-lagu dinyanyikan. Dua kawan mereka lainnya, sibuk memutar kotak dan berharap sumbangan dari pengguna jalan.
Kesan angker tak terlihat. Sebaliknya, dua orang yang bertugas mengais receh pengguna jalan itu kerap melontarkan senyum.
"Sudah enam bulan kami mangkal di sini. Kita berlima tinggal di rumah kost di Jombang," tutur Indra, sangat ramah.
Mereka yang tergabung dalam kesenian angklung Satria Nada ini, sudah setahun lalu terbentuk. Mereka hidup berpindah-pindah tempat, ke berbagai kota di Jawa.
"Kami berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Kalau sudah sepi, kita beranjak ke kota lain. Rezeki kita di jalanan," ujarnya.
Bagi grup pengamen ini, memainkan musik angklung di jalanan, bukan sekedar untuk mengamen mencari uang. Tetapi, mereka juga memiliki misi mulia, yakni mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta kepada angklung.
Angklung, menurutnya merupakan alat musik kebanggan bangsa Indonesia, yang harus terus dijaga kelestariannya.
Indra mengaku, bersama teman-temannya tidak sepenuh menghabiskan waktu untuk mengamen. Kegiatan mereka mengamen di jalanan, dimulai Pukul 09.00 WIB, dan akan berakhir sekitar pukul 15.00 WIB.
Hasil dari mengamen, selain untuk biaya hidup, juga untuk membeli peralatan tambahan. "Rata-rata kami mendapat Rp100.000. Tapi sering juga ada pengguna jalan yang memberikan yang cukup banyak," paparnya.
Adhis Suroso, salah satu pengguna jalan mengaku, keberadaan pengamen angklung ini dirasakannya tidak mengganggu. Bahkan sebaliknya, lantunan lagu dan irama yang dimainkan cukup memberikan hiburan.
"Mereka sopan, bermain musiknya bagus dan tak memakam badan jalan, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. Ini justru patut dicontoh," ujar Adhis.
Kehadiran pengamen jalanan yang sering kali berpenampilan kumal, dan menyanyikan musik ala kadarnya, sering kali membuat pengguna jalan yang berhenti di lampu merah sengaja menghidar.
Tetapi tidak dengan kelompok pengamen angklung yang mangkal di simpang empat Jalan RA Basuni, Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Seluruh anggapan negatif terhadap pengamen jalanan, seolah luruh. Lima pengamen dengan pakaian sopan, tampak memberikan hiburan sebenarnya bagi pengguna jalan di lampu merah itu.
Apalagi, lagu-lagu yang dimainkan cukup akrab di telinga kita. Termasuk, irama lembut lagu berjudul Sayang, yang biasa dibawakan penyanyi Via Valen.
Deretan angklung dengan apik dimainkan Firdaus, salah satu pengamen. Irama semakin rancak ketika Adek mengikutinya dengan memainkan perkusi buatan mereka sendiri.
Sementara sebagai pelengkap, Indra memukul jegug dan bass drum tradisional. Sembari memainkan alat musik masing-masing, ketiganya bernyanyi dengan tidak asal-asalan.
Saat irama musik dimainkan, dan lag-lagu dinyanyikan. Dua kawan mereka lainnya, sibuk memutar kotak dan berharap sumbangan dari pengguna jalan.
Kesan angker tak terlihat. Sebaliknya, dua orang yang bertugas mengais receh pengguna jalan itu kerap melontarkan senyum.
"Sudah enam bulan kami mangkal di sini. Kita berlima tinggal di rumah kost di Jombang," tutur Indra, sangat ramah.
Mereka yang tergabung dalam kesenian angklung Satria Nada ini, sudah setahun lalu terbentuk. Mereka hidup berpindah-pindah tempat, ke berbagai kota di Jawa.
"Kami berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Kalau sudah sepi, kita beranjak ke kota lain. Rezeki kita di jalanan," ujarnya.
Bagi grup pengamen ini, memainkan musik angklung di jalanan, bukan sekedar untuk mengamen mencari uang. Tetapi, mereka juga memiliki misi mulia, yakni mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta kepada angklung.
Angklung, menurutnya merupakan alat musik kebanggan bangsa Indonesia, yang harus terus dijaga kelestariannya.
Indra mengaku, bersama teman-temannya tidak sepenuh menghabiskan waktu untuk mengamen. Kegiatan mereka mengamen di jalanan, dimulai Pukul 09.00 WIB, dan akan berakhir sekitar pukul 15.00 WIB.
Hasil dari mengamen, selain untuk biaya hidup, juga untuk membeli peralatan tambahan. "Rata-rata kami mendapat Rp100.000. Tapi sering juga ada pengguna jalan yang memberikan yang cukup banyak," paparnya.
Adhis Suroso, salah satu pengguna jalan mengaku, keberadaan pengamen angklung ini dirasakannya tidak mengganggu. Bahkan sebaliknya, lantunan lagu dan irama yang dimainkan cukup memberikan hiburan.
"Mereka sopan, bermain musiknya bagus dan tak memakam badan jalan, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. Ini justru patut dicontoh," ujar Adhis.
(eyt)