Ridwan Kamil: Pancasila Goyah, Tidak Ada Indonesia
Sabtu, 01 Juni 2019 - 15:55 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil menjadi pembina upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (1/6/2019). Foto/Istimewa
A
A
A
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menganalogikan Pancasila layaknya sebuah rumah yang harus dirawat dan dijaga, agar penghuninya merasa nyaman. Hal itu dikatakan Ridwan Kamil saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (1/6/2019).
Dalam kesempatan itu, Emil, sapaan akrab Gubernur menyoroti persatuan Indonesia. Menurut dia, ada berbagai persoalan bangsa yang menggerus nilai-nilai persatuan. "Kita melihat keindonesiaan kita banyak tekanan oleh perbedaan. Padahal, sejak zaman dulu perbedaan itulah yang melahirkan keindonesiaan," katanya.
"Perbedaan asal-usul, tradisi, bahasa, dan lain-lain hanya bisa disatukan dengan kesepakatan Pancasila. Jadi, kalau nilai Pancasila goyah, maka tidak ada Indonesia. Istilahnya tadi sederhana, Kita Indonesia-Kita Pancasila," sambung Emil.
Karena itu, Emil berpesan kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga dan merawat nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup bangsa yang digali oleh para pendiri bangsa.
"Pesan saya adalah jangan melihat Pancasila ini sebagai hal yang take it for granted atau suatu yang otomatis. Pancasila itu adalah harga mahal, ideologi yang harus dijaga kalau bangsa Indonesia mau seperti ini selamanya," katanya.
Emil menegaskan, dalam bingkai Pancasila, perbedaan adalah keberagaman yang memperkaya keindonesiaan. Karenanya, sudah semestinya perbedaan disikapi dengan sikap saling menghargai dan menghormati. "Mudah-mudahan perbedaan urusan pilihan, urusan agama, tidak mengemuka lagi pada masa-masa mendatang dan dapat diselesaikan oleh sila-sila Pancasila," harap Emil.
Dalam kesempatan itu, Emil, sapaan akrab Gubernur menyoroti persatuan Indonesia. Menurut dia, ada berbagai persoalan bangsa yang menggerus nilai-nilai persatuan. "Kita melihat keindonesiaan kita banyak tekanan oleh perbedaan. Padahal, sejak zaman dulu perbedaan itulah yang melahirkan keindonesiaan," katanya.
"Perbedaan asal-usul, tradisi, bahasa, dan lain-lain hanya bisa disatukan dengan kesepakatan Pancasila. Jadi, kalau nilai Pancasila goyah, maka tidak ada Indonesia. Istilahnya tadi sederhana, Kita Indonesia-Kita Pancasila," sambung Emil.
Karena itu, Emil berpesan kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga dan merawat nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup bangsa yang digali oleh para pendiri bangsa.
"Pesan saya adalah jangan melihat Pancasila ini sebagai hal yang take it for granted atau suatu yang otomatis. Pancasila itu adalah harga mahal, ideologi yang harus dijaga kalau bangsa Indonesia mau seperti ini selamanya," katanya.
Emil menegaskan, dalam bingkai Pancasila, perbedaan adalah keberagaman yang memperkaya keindonesiaan. Karenanya, sudah semestinya perbedaan disikapi dengan sikap saling menghargai dan menghormati. "Mudah-mudahan perbedaan urusan pilihan, urusan agama, tidak mengemuka lagi pada masa-masa mendatang dan dapat diselesaikan oleh sila-sila Pancasila," harap Emil.
(zik)