alexametrics

Ratusan Hektare Lahan di Kendal Kritis

loading...
Ratusan Hektare Lahan di Kendal Kritis
Ilustasi. (sindonews.com)
A+ A-
KENDAL - Ratusan hektare lahan di Kabupaten Kendal masuk dalam kategori lahan kritis. Lahan kritis tersebut biasanya disebabkan karena tidak memiliki pohon tanaman keras atau yang bisa menyimpan dan manahan sumber air.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kendal, Sri Purwati mengatakan dari total lahan kritis, 1,8 hektare diantaranya tergolong lahan sangat kritis. Sebab, lahan tersebut kondisinya miring tidak bisa ditanami tanaman keras.

“Kalau lahan seperti itu disarankan untuk ditanami tanaman buah. Jadi petani atau pemilik lahan hanya bisa memetik hasilnya tanpa menebang pohonnya,” ujarnya, saat kegiatan menanam satu miliyar pohon untuk memperingati Hari Menanan Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) serta Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional di Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Senin (8/12/2014).



Dia menambahkan, kondisi lahan kritis tidak bisa digunakan dalam mengurangi gas emisi karbon. Lahan kritis ini tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal diantaranya Kecamatan Gemuh, Plantungan, Sukorejo,Limbangan, dan Boja.“Untuk itu perlu adanya penanaman pohon,” lanjutnya.

Dalam kegiatan tanam satu milyar pohon, dia mengatakan, ada sebanyak 1,2 juta pohon dari berbagai jenis rencananya akan ditanam di seluruh wilayah Kabupaten Kendal. Selain penanaman pohon juga dilakukan pelepasan satwa jenis burung kutilang.

Dari sekian banyaknya jenis tanaman, kata dia, 80%-nya tanaman sengon dan 20% jenis MPTS (Multi Purpose Tree Species-RED) seperti Nangka, Glodok Pecut, Petai, Alpukat, Durian, Mangga, serta Rambutan.

“Kegiatan ini sebagai upaya untuk menjaga pelestarian hutan serta mendukung kedaulatan pangan, air dan energi terbarukan. Selain itu, diharapkan dapat mendorong terwujudnya budaya menanam di masyarakat,” paparnya.
(lis)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak