Sektor Pertanian Butuh Perhatian Khusus

Senin, 12 September 2022 - 19:28 WIB
loading...
Sektor Pertanian Butuh...
Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto
A A A
SEMARANG - Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto mengatakan, kesuksesan Indonesia mencapai swasembada pangan harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan petani. Pasalnya, meski inflasi terjadi dan harga barang-barang lain terus naik, harga beras tak banyak berubah. Kondisi tersebut berdampak pada kesejahteraan petani yang minim dan jauh dari Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

Sumanto menegaskan, sebagai negara agraris dan memiliki dua musim, Indonesia tak kesulitan mencapai swasembada pangan. Jateng sendiri merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Provinsi ini menjadi penghasil beras utama meski luas lahan pertaniannya kalah dengan Jatim. Walaupun begitu, lanjutnya, peningkatan produktivitas pangan hendaknya diimbangi dengan meningkatnya kesejahteraan petani.

Politisi PDI Perjuangan ini mengungkapkan sektor pertanian butuh penanganan khusus. Di Jateng misalnya, ada sekitar 3,5 juta penduduk yang menjadi petani. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 1,5 juta petani yang memiliki lahan dengan luas dibawah 2.000 m2. Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah hanya Rp 4.200 per kilogram, penghasilan mereka hanya sekitar Rp 400 ribu per bulan. Jumlah tersebut jauh dari UMK di Jateng yang mencapai Rp 2 juta hingga Rp 2,8 juta per bulan.

"Kalau kita lihat petani dari dulu begitu-begitu saja. Mereka menanam, walaupun penghasilannya kecil diam saja. Padahal ongkos produksi, tenaga kerja, harga pupuk, obat-obatan terus naik," katanya, Sabtu (10/9/2022).

Dia membandingkan dengan kalangan buruh yang setiap tahun menuntut kenaikan UMK. "Petani ini tidak pernah demo. Walaupun penghasilannya kecil mereka akan tetap menanam karena kulturnya begitu," kata mantan Ketua DPRD Karanganyar ini.

Sumanto menambahkan, kondisi tersebut juga membuat angka kemiskinan sulit diturunkan. Dia merinci dari 19 kabupaten/kota di Jateng yang masuk kategori kemiskinan ekstrem, sebagian besar merupakan wilayah penghasil pangan seperti Kabupaten Klaten, Karanganyar, Sragen, Purworejo, dan Grobogan.

"Tanah yang loh jinawi penduduknya miskin ekstrem karena harga gabah tak dinaikkan," katanya.

Menurut Sumanto, jika harga beras dinaikkan sesuai inflasi, angka kemiskinan akan turun. Dia mengusulkan HPP gabah dinaikkan menjadi Rp 5.000 - Rp 6.000 per kilogram. Dengan begitu, penghasilan petani akan naik di rata-rata Rp 1,5 juta per bulan. Saat ini lanjutnya, harga beras di Indonesia jauh lebih murah dari sejumlah negara lain. Di Malaysia misalnya, harga beras di kisaran Rp 18 ribu - Rp 20 ribu per kilogram, di Jepang Rp 50 ribu - Rp 70 ribu, dan di Korea Selatan Rp 30 ribu per kilogram.

"Jika petani sejahtera, efeknya akan kemana-mana. UMKM dan sektor lainnya akan ikut tumbuh," ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Jateng Bidang Pertanian dan Perkebunan ini.

Selain itu, tata kelola beras perlu dipegang pemerintah dan tak diserahkan ke swasta. Sebab, jika tata kelola diserahkan ke swasta, akan banyak yang bermain.

Dikatakannya, penghasilan petani yang minim membuat tak banyak orang yang mau jadi petani. Jumlah petani semakin menurun. Sumanto mengungkapkan dulu 60 persen penduduk Indonesia bekerja sebagai petani, saat ini jumlah petani hanya sekitar 28 persen jumlah penduduk. Dia bahkan menyebut di Jateng tidak ada milenial yang mau bertani. Mereka memilih menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pekerja swasta. Dia mengaku sudah pernah mendatangi sejumlah kelompok tani dan mendapati usia petani yang paling muda 50 tahun.

"Yang disebut petani milenial di Jateng tidak bekerja di sektor produksi. Mereka jualan produk pertanian. Penghasilannya bisa Rp 50 juta sampai Rp 60 juta, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari," paparnya.
(atk)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Provinsi Sepakat...
10 Provinsi Sepakat Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi di Rakergub FKD-MPU 2026
Seluruh Kantor Pertanahan...
Seluruh Kantor Pertanahan di Jateng Tetap Buka selama Libur Nyepi dan Idulfitri
19.000 Orang Ikuti Program...
19.000 Orang Ikuti Program Mudik Gratis ke Jawa Tengah di TMII
Partai Perindo dan Pemprov...
Partai Perindo dan Pemprov Jateng Bersinergi Entaskan Kemiskinan
Binawan dan Poltekkes...
Binawan dan Poltekkes Kemenkes Semarang Resmikan Pusat Karier Internasional
Wujudkan Green Tourism,...
Wujudkan Green Tourism, Karimunjawa Hadirkan Inovasi Energi dari Sampah
Pemprov Jateng Raih...
Pemprov Jateng Raih Penghargaan Provinsi Informatif Tujuh Kali Berturut-turut
Pemprov Jateng Berhasil...
Pemprov Jateng Berhasil Borong 3 Penghargaan Pengelolaan Keuangan Daerah dari Kemendagri
Kado Akhir Tahun, Jateng...
Kado Akhir Tahun, Jateng Sabet Dua Penghargaan Anugerah Bangga Berwisata di Indonesia
Rekomendasi
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Web3 University Tour...
Web3 University Tour 2026 Digelar ITERA Lampung, Ratusan Mahasiswa Belajar Blockchain
Berita Terkini
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
Klive Beach Club Gandeng...
Klive Beach Club Gandeng Happiness Foundation Gelar CSR Kebahagiaan
Catat Ekspansi Signifikan,...
Catat Ekspansi Signifikan, Dyputu Studio Bekasi Jadi Subjek Penelitian Akademis
Infografis
AS Butuh Rp15.919 Triliun...
AS Butuh Rp15.919 Triliun untuk Memodernisasi Senjata Nuklirnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved