BBM Naik, Demokrat DKI Soroti Pemerintah yang Tidak Berhemat

Minggu, 04 September 2022 - 19:42 WIB
loading...
BBM Naik, Demokrat DKI...
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Mujiyono. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Partai Demokrat DKI Jakarta menyoroti sikap pemerintah yang tidak melakukan upaya-upaya penghematan sebelum menyuruh rakyat berhemat dengan menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Saya tidak melihat upaya pemerintah berhemat sebelum meminta rakyat hidup lebih sulit dengan menaikkan harga BBM. Padahal, kenaikan harga BBM berimplikasi terhadap kenaikan harga lainnya, termasuk bahan pokok," ujar Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Mujiyono, Minggu (4/9/2022).

Misalnya, anggaran-anggaran besar tetap digelontorkan untuk pembangunan berbagai proyek pencitraan.
Baca juga: Legislator Demokrat Sebut Kenaikan Harga BBM Bikin Rakyat Makin Terpuruk

Mujiyono juga menilai pejabat dan aparat pemerintah saat ini sedang memperlihatkan gaya hidup yang jauh dari kesengsaraan rakyat. Tidak terlihat tanda-tanda upaya mengencangkan ikat pinggang dari operasional pemerintah.

"Kondisi masyarakat saat ini belum siap menghadapi kenaikan harga BBM, apalagi setelah inflasi bahan pangan (volatile food) secara tahunan hampir menyentuh 11 persen YoY pada Juli 2022," jelasnya.

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta ini menggarisbawahi bahwa harga minyak dunia saat ini yaitu USD 89 per barrel masih di bawah asumsi makro yang tercantum dalam APBN 2022 sebesar USD 100 per barrel.

"Seharusnya APBN 2022 masih dapat menutupi kebutuhan subsidi BBM hingga akhir tahun 2022 seperti janji Jokowi sendiri pada pertengahan tahun ini," kata Mujiyono.

"Selain itu, ketika harga minyak dunia turun, harga BBM di Indonesia tidak turun. Lalu, uangnya sekarang ke mana?" ucapnya.

Mujiyono juga mempertanyakan kebocoran penyaluran BBM bersubsidi. "Pemerintah belum melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegah kebocoran penyaluran BBM bersubsidi yang lari ke industri-industri besar. Jika kebocoran ini bisa ditekan, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM bersubsidi," ujarnya.

“Kenaikan BBM akan menciptakan efek berantai berupa kenaikan harga-harga barang secara umum. Apalagi dari data BPS dan BI mencatat kenaikan harga pangan telah melewati angka 10 persen," lanjutnya.

Menurut dia, inflasi diprediksi menyentuh 7-8 persen jika harga BBM mencapai Rp10.000. Dalam hal ini, inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat dan angka kemiskinan berpotensi melonjak signifikan.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Rekomendasi
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Pemerintah Evaluasi...
Pemerintah Evaluasi Program Prioritas, Bakom RI: Waspadai Disinformasi
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Berita Terkini
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
Polisi Sebut Demo di...
Polisi Sebut Demo di Bundaran HI Tidak Sesuai Aturan, Begini Respons BEM UI
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
BNPB: Bencana Banjir...
BNPB: Bencana Banjir hingga Karhutla Melanda 4 Daerah
Kemenhut Bongkar Perdagangan...
Kemenhut Bongkar Perdagangan 100 Satwa Dilindungi dari Papua, 2 Oknum Aparat Ditangkap
Kemendagri Sebut Transformasi...
Kemendagri Sebut Transformasi BUMD sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved