Proyek Jalan di Kecamatan Sajoangin Disebut Asal Jadi, Batu Tidak Ditanam
Senin, 15 Juni 2020 - 19:52 WIB
loading...
Proyek peningkatan kapasitas struktur jalan ruas Solo-Paneki-Kulampu di Kecamatan Sajoangin, Kabupaten Wajo disebut asal jadi dan pengerjaannya asal-asalan. Foto : SINDOnews/M Reza Pahlevi
A
A
A
WAJO - Proyek peningkatan kapasitas struktur jalan ruas Solo-Paneki-Kulampu di Kecamatan Sajoangin, Kabupaten Wajo disebut asal jadi dan pengerjaannya asal-asalan.
Menurut warga setempat bernama Hasrullah, proyek tersebut sebelumnya dikerjakan pada bulan April 2020 yang lalu.
Baca : Jalan Ambles di Cempa Wajo Ditimbun, Warga: Uang Negara Habis Percuma
"Masa batu yang digunakan untuk talud cuma disandarkan. Padahal setahu saya kalau mau berkualitas digali dulu tanahnya," ungkap Hasrullah mengurai kejanggalan proyek kepada SINDOnews, Senin (15/06/2020).
Tak hanya soal batu pondasi yang tidak digali/ditanam, Ia juga menyebut jenis batu yang digunakan tidak sesuai dengan proyek-proyek pemerintah pada umumnya. "Itu juga batu dipakai beda. Bukan batu belah yang dipakai pada umumnya kalau buat talud," ketusnya.
Proyek ini sendiri dianggarkan dengan nilai fantastis sebesar Rp22.995.136.794, dan dikerjakan PT. Genytov Fajar.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Wajo, Mustafa, angkat bicara soal keluhan warga. Ia sependapat jika penggunaan material seperti batuan untuk talud, harus berdasarkan uji laboratorium.
"Kalau material seperti ditemukan di lapangan sudah sesuai standar uji. Pihak rekanan wajib memperlihatkan itu," tegas Mustafa.
Ia sendiri mengaku akan melaporkan adanya dugaan pengerjaan serampangan tersebut kepada pimpinan Komisi III DPRD. Baca Juga : Pemkab Wajo Raup Ratusan Juta Rupiah dari Lelang Randis Tak Layak Pakai (ADV)
Menurut warga setempat bernama Hasrullah, proyek tersebut sebelumnya dikerjakan pada bulan April 2020 yang lalu.
Baca : Jalan Ambles di Cempa Wajo Ditimbun, Warga: Uang Negara Habis Percuma
"Masa batu yang digunakan untuk talud cuma disandarkan. Padahal setahu saya kalau mau berkualitas digali dulu tanahnya," ungkap Hasrullah mengurai kejanggalan proyek kepada SINDOnews, Senin (15/06/2020).
Tak hanya soal batu pondasi yang tidak digali/ditanam, Ia juga menyebut jenis batu yang digunakan tidak sesuai dengan proyek-proyek pemerintah pada umumnya. "Itu juga batu dipakai beda. Bukan batu belah yang dipakai pada umumnya kalau buat talud," ketusnya.
Proyek ini sendiri dianggarkan dengan nilai fantastis sebesar Rp22.995.136.794, dan dikerjakan PT. Genytov Fajar.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Wajo, Mustafa, angkat bicara soal keluhan warga. Ia sependapat jika penggunaan material seperti batuan untuk talud, harus berdasarkan uji laboratorium.
"Kalau material seperti ditemukan di lapangan sudah sesuai standar uji. Pihak rekanan wajib memperlihatkan itu," tegas Mustafa.
Ia sendiri mengaku akan melaporkan adanya dugaan pengerjaan serampangan tersebut kepada pimpinan Komisi III DPRD. Baca Juga : Pemkab Wajo Raup Ratusan Juta Rupiah dari Lelang Randis Tak Layak Pakai (ADV)
(sri)
Lihat Juga :