Pembangunan Jembatan Sirnaruju Membuka Akses Wisata di Karawang
Rabu, 02 Maret 2022 - 12:43 WIB
loading...
Jembatan Sirnaruju terlihat dari udara menuju lokasi lahan yang dipenuhi alang-alang. Foto ist
A
A
A
KARAWANG - Pembangunan jembatan Sirnaruju di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten merupakan bagian dari rencana pembangunan jalan lingkar Sirnaruju menuju objek wisata Curug Cigentis dan sekitarnya. Demikian penjelasan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karawang, Acep Jamhuri. Penjelasan itu menepis angapan bahwa pembangunan jembatan tersebut tidak memenuhi azas kemanfaatan.
"Ini sesuai dengan Perda No. 3 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPD). Jadi, pembangunan jembatan bagian dari rencana pembangunan jalan lingkar menuju objek wisata dan sudah tercantum dalam rencana pembangunan akses jalan daerah," kata Acep Jamhuri, Rabu (2/3/22). Baca juga: Wanita Muda Coba Bunuh Diri Lompat dari JPO Cengkareng
Sebelumnya, pembangunan Jembatan Sirnaruju tersebut banyak disoroti warga. Alasannya pembangunan jembatan yang menghabiskan anggaran Rp 3,6 miliar tersebut belum menjadi prioritas untuk dibangun karena lokasi di sekitarnya tidak ada penghuni. Akses jembatan hanya menuju lokasi lahan tidur disekitarnya alias buntu. Karena itu, jembatan yang panjangnya 20 meter dan lebar 6 meter itu dinilai tidak memiliki azas kemanfaatan.
Acep Jamhuri menjelaskan, proses pembangunan jalan tersebut diawali dengan perencanaan akses dan pembebasan lahan tanah masyarakat berdasarkan harga yang ditetapkan oleh tim appraisal.
"Ini sesuai dengan Perda No. 3 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPD). Jadi, pembangunan jembatan bagian dari rencana pembangunan jalan lingkar menuju objek wisata dan sudah tercantum dalam rencana pembangunan akses jalan daerah," kata Acep Jamhuri, Rabu (2/3/22). Baca juga: Wanita Muda Coba Bunuh Diri Lompat dari JPO Cengkareng
Sebelumnya, pembangunan Jembatan Sirnaruju tersebut banyak disoroti warga. Alasannya pembangunan jembatan yang menghabiskan anggaran Rp 3,6 miliar tersebut belum menjadi prioritas untuk dibangun karena lokasi di sekitarnya tidak ada penghuni. Akses jembatan hanya menuju lokasi lahan tidur disekitarnya alias buntu. Karena itu, jembatan yang panjangnya 20 meter dan lebar 6 meter itu dinilai tidak memiliki azas kemanfaatan.
Acep Jamhuri menjelaskan, proses pembangunan jalan tersebut diawali dengan perencanaan akses dan pembebasan lahan tanah masyarakat berdasarkan harga yang ditetapkan oleh tim appraisal.
Lihat Juga :