Pakar Gender UNS Terbitkan Buku Cegah Kekerasan Seksual pada Remaja
Senin, 08 Juni 2020 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Satu kasus diceritakan dari sudut pandang siswa yang secara sadar melakukan tindakan menyimpang. Mereka membuat taruhan untuk sebuah tantangan yang merujuk pada pelecehan, seperti menantang keberanian untuk melakukan tindakan pada siswa lain yang menjadi target. Namun di sisi lain terdapat kasus yang terjadi akibat minimnya pengetahuan bersikap apabila mendapat ancaman dari pelaku kekerasan seksual.
Dari beberapa informasi dan kasus, Prof Ismi dan tim akhirnya memutuskan untuk menulis buku yang mampu memberikan edukasi untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi. Buku disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua pihak terutama guru dan siswa serta nantinya dapat diakses secara online.
Tidak berhenti pada merilis buku, pada tahun ini penelitian masih berlanjut dan menargetkan untuk membuat model sekolah yang ramah terhadap kekerasan seksual. "Harapannya jika nantinya kembali ada kasus kekerasan seksual, sekolah bisa mengetahui harus bersikap bagaimana," katanya.
Prof Ismi juga membagikan suka duka dalam menulis buku. Menurut pengalamannya dalam menulis buku, menentukan konten itu mudah dilakukan bagi kalangan dosen. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana memformulasikan buku tersebut supaya bisa dipahami oleh masyarakat yang berbeda-beda latar belakang.
Guru besar FISIP UNS tersebut juga membagikan pendapat bahwa menulis adalah panggilan bagi dirinya. Pengalamannya bergelut dengan dunia penelitian ketika di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS mendorongnya untuk terus melahirkan karya baru. Tidak saja dirilis dalam bentuk tulisan tetapi juga mempublikasikannya dalam konferensi, baik tingkat nasional maupun internasional.
Dari beberapa informasi dan kasus, Prof Ismi dan tim akhirnya memutuskan untuk menulis buku yang mampu memberikan edukasi untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi. Buku disusun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua pihak terutama guru dan siswa serta nantinya dapat diakses secara online.
Tidak berhenti pada merilis buku, pada tahun ini penelitian masih berlanjut dan menargetkan untuk membuat model sekolah yang ramah terhadap kekerasan seksual. "Harapannya jika nantinya kembali ada kasus kekerasan seksual, sekolah bisa mengetahui harus bersikap bagaimana," katanya.
Prof Ismi juga membagikan suka duka dalam menulis buku. Menurut pengalamannya dalam menulis buku, menentukan konten itu mudah dilakukan bagi kalangan dosen. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana memformulasikan buku tersebut supaya bisa dipahami oleh masyarakat yang berbeda-beda latar belakang.
Guru besar FISIP UNS tersebut juga membagikan pendapat bahwa menulis adalah panggilan bagi dirinya. Pengalamannya bergelut dengan dunia penelitian ketika di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS mendorongnya untuk terus melahirkan karya baru. Tidak saja dirilis dalam bentuk tulisan tetapi juga mempublikasikannya dalam konferensi, baik tingkat nasional maupun internasional.
(abd)
Lihat Juga :