Telkom Laba Rp18 Triliun, Pengamat: Bisnis Telekomunikasi Memang Moncer

loading...
Telkom Laba Rp18 Triliun, Pengamat: Bisnis Telekomunikasi Memang Moncer
Foto/ilustrasi.pixabay
BANDUNG - Tingginya pendapatan PT Telkommenunjukkan moncernya bisnis telekomunikasi digital di Indonesia, terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Internet menjadi kebutuhan penting untuk menopang berbagai aktivitas masyarakat, dari belajar hingga pekerjaan.

Baru baru ini, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mencatat laba bersih 2019 Rp18,66 triliun. Pencapaian itu ditopang pendapatan Digital Business Seluler (23,1%) dan pendapatan IndiHome (28,1%).

Pada segmen Mobile, Telkom melalui entitas anak Telkomsel, masih mengukuhkan diri sebagai operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia yaitu 171,1 juta pelanggan. Serta pengguna mobile data tercatat sebanyak 110,3 juta pelanggan.

(Baca: Penerapan New Normal Bikin Investasi Telkom di Sektor Digital Lebih Melesat)



Ekonom dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jawa Barat Acuviarta Kartubi, berdasarkan rekapitulasi data terakhir ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi makro Indonesia hanya tumbuh 2,97%. Namun pertumbuhan lapangan usaha Telekomunikasi Informasi dan Komunikasi (TIK) tumbuh 9,81% atau hampir double digit.

"Jadi, kalau kinerja Telkom terus moncer dalam beberapa tahun terakhir, saya kira memang tidak terlepas dari perkembangan bisnis digital, data, dan TIK yang Telkom kembangkan. Saya kira apa yang dilakukan manajemen sekarang sudah on the right track, kita bisa melihat di semua lini terus tumbuh," katanya.

Menurut dia, kemampuan PT Telkom meningkatkan pertumbuhan laba pada satu sisi, juga diikuti kinerja yang semakin baik dalam menekan biaya operasional. Prinsipnya, secara korporasi, potensi ekonomi di bisnis telekomunikasi mampu dikelola dan dimanfaatkan TLKM secara optimal, sehingga menjadi pendorong utama pendapatan dan laba perusahaan.



"Itu poin penting yang menjadi value utama bisnis Telkom. Saya juga menilai, dalam banyak hal, kondisi kinerja Telkom merefleksikan kondisi industri telekomunikasi secara nasional," sambung Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan itu.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top