Paracetamol Teluk Jakarta Tinggi, Akibat Buruknya Pengelolaan Limbah Farmasi
Selasa, 05 Oktober 2021 - 05:23 WIB
loading...
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher . Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyinggung tingginya kadar paracetamol di Teluk Jakarta yang tengah ramai diperbincangkan publik. Menurut Netty, hal ini menunjukkan buruknya pengelolaan limbah farmasi.
Baca juga: Teluk Jakarta Diduga Tercemar Paracetamol, DLH Periksa Sampel Air Laut
"Tingginya kadar parasctamol tentu berbahaya bagi kehidupan biota laut dan juga manusia yang mengonsumsi makanan dari laut. Kondisi ini menunjukkan cara pengelolaan limbah farmasi yang buruk dan tidak tertata dengan baik," kata Netty dalam keterangannya yang dikutip Selasa (5/10/2021).
Baca juga: Kandungan Paracetamol di Teluk Jakarta, DLH DKI Akan Mendalami Pencemaran Air Laut
Menurut Netty, pengelolaan limbah farmasi harus menjadi perhatian pemerintah, apalagi pada saat pandemi, di mana konsumsi obat-obatan meningkat yang berdampak pada tingginya limbah.
Oleh sebab itu, Netty mendorong pemerintah agar mengatur tata kelola limbah farmasi dengan tegas, terutama pengelolaan limbah cair, baik yang diproduksi rumah tangga maupun pabrik.
"Sikap tegas diperlukan agar tidak berdampak buruk pada kerusakan lingkungan. Harus ada sanksi bagi rumah tangga, apartemen, industri dan lain-lain yang membuang limbah cair sembarangan," ujarnya.
Selain sanksi, kata Netty, pemerintah juga harus melakukan edukasi kepada publik terkait pemakaian produk farmasi yang benar. "Edukasi dan sanksi akan membuat masyarakat lebih bertanggung jawab soal pengelolaan limbah. Sisa obat yang tidak digunakan tidak boleh dibuang sembarangan," tutur dia.
Netty meminta agar pemerintah DKI segera investigasi penyebab tingginya kadar paracetamol di perairan Teluk Jakarta.
"Apakah ini akibat konsumsi masyarakat yang tinggi atau memang berasal dari industri atau rumah sakit yang sistem pengelolaan air limbahnya sembarangan. Tindak tegas apabila terjadi kelalaian agar menjadi pelajaran bagi yang lainnya tentang pentingnya menjaga lingkungan," pungkasnya.
Baca juga: Teluk Jakarta Diduga Tercemar Paracetamol, DLH Periksa Sampel Air Laut
"Tingginya kadar parasctamol tentu berbahaya bagi kehidupan biota laut dan juga manusia yang mengonsumsi makanan dari laut. Kondisi ini menunjukkan cara pengelolaan limbah farmasi yang buruk dan tidak tertata dengan baik," kata Netty dalam keterangannya yang dikutip Selasa (5/10/2021).
Baca juga: Kandungan Paracetamol di Teluk Jakarta, DLH DKI Akan Mendalami Pencemaran Air Laut
Menurut Netty, pengelolaan limbah farmasi harus menjadi perhatian pemerintah, apalagi pada saat pandemi, di mana konsumsi obat-obatan meningkat yang berdampak pada tingginya limbah.
Oleh sebab itu, Netty mendorong pemerintah agar mengatur tata kelola limbah farmasi dengan tegas, terutama pengelolaan limbah cair, baik yang diproduksi rumah tangga maupun pabrik.
"Sikap tegas diperlukan agar tidak berdampak buruk pada kerusakan lingkungan. Harus ada sanksi bagi rumah tangga, apartemen, industri dan lain-lain yang membuang limbah cair sembarangan," ujarnya.
Selain sanksi, kata Netty, pemerintah juga harus melakukan edukasi kepada publik terkait pemakaian produk farmasi yang benar. "Edukasi dan sanksi akan membuat masyarakat lebih bertanggung jawab soal pengelolaan limbah. Sisa obat yang tidak digunakan tidak boleh dibuang sembarangan," tutur dia.
Netty meminta agar pemerintah DKI segera investigasi penyebab tingginya kadar paracetamol di perairan Teluk Jakarta.
"Apakah ini akibat konsumsi masyarakat yang tinggi atau memang berasal dari industri atau rumah sakit yang sistem pengelolaan air limbahnya sembarangan. Tindak tegas apabila terjadi kelalaian agar menjadi pelajaran bagi yang lainnya tentang pentingnya menjaga lingkungan," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :