Sejarah Jalan Gajah Mada di Batavia, Dibangun Tahun 1648 oleh Kapten Tionghoa Phoa Beng Gan
Sabtu, 04 September 2021 - 05:05 WIB
loading...
Kawasan Molenvliet West di tanah Batavia tahun 1940 (sekarang Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat). Foto: Tropenmuseum
A
A
A
JAKARTA - Jalan Gajah Mada merupakan nama jalan di Jakarta Barat yang menghubungkan kota lama dan kota baru dulunya dikenal Molenvliet West ( Batavia ). Di bagian tengah jalan itu mengalir Kali Ciliwung.
Dikutip dari laman Wikipedia, Sabtu (4/9/2021), jalan ini dibuat tahun 1648 oleh pemuka masyarakat yang juga kapten Tionghoa bernama Phoa Beng Gan. Molenvliet West berarti jalan yang berada di sisi sebelah barat kali. Di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan seperti rumah keluarga Khouw, Gedung Arsip Nasional, kantor Perusahaan Gas Hindia Belanda, Moenswijk, Gedung Harmonie, gedung Freres, bangunan keempat Hotel des Indes, Hotel Marine, dan cabang utama Toko Eigen Hulp.
Baca juga: Siasat Gajah Mada Menaklukkan Kebo Iwa, Patih Kerajaan Bali yang Ditakuti Majapahit
Di kawasan Molenvliet West terdapat Kali Molenvliet yang menghubungkan Kota Tua (Oud Batavia) dan kawasan selatan seperti Lapangan Banteng dan Monas (Weltevreden). Begitu strategisnya daerah ini menjadikan kawasan komersial dan incaran permukiman elite kala itu.
![Sejarah Jalan Gajah Mada di Batavia, Dibangun Tahun 1648 oleh Kapten Tionghoa Phoa Beng Gan]()
Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat tahun 2013. Foto: Wikipedia
Merujuk buku Menyisir Jejak Betawi karya Windoro Adi, Kali Molenvliet dibangun setelah konflik internal di Kesultanan Banten kian tak terbendung pada abad XVII. Kondisi ini dianggap tak menguntungkan perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Gubernur keempat VOC Jan Pieterszoo Coen (JP Coen) lantas memindahkan armadanya ke Batavia yang kala itu masuk tahap pembangunan tepatnya di kota lama Kampung Akuarium atau sekitar Museum Bahari. Namun, aktivitas yang tinggi membuat warga kesulitan mendapatkan air tawar. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya rawa di kawasan ini yang dipenuhi sampah.
Dikutip dari laman Wikipedia, Sabtu (4/9/2021), jalan ini dibuat tahun 1648 oleh pemuka masyarakat yang juga kapten Tionghoa bernama Phoa Beng Gan. Molenvliet West berarti jalan yang berada di sisi sebelah barat kali. Di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan seperti rumah keluarga Khouw, Gedung Arsip Nasional, kantor Perusahaan Gas Hindia Belanda, Moenswijk, Gedung Harmonie, gedung Freres, bangunan keempat Hotel des Indes, Hotel Marine, dan cabang utama Toko Eigen Hulp.
Baca juga: Siasat Gajah Mada Menaklukkan Kebo Iwa, Patih Kerajaan Bali yang Ditakuti Majapahit
Di kawasan Molenvliet West terdapat Kali Molenvliet yang menghubungkan Kota Tua (Oud Batavia) dan kawasan selatan seperti Lapangan Banteng dan Monas (Weltevreden). Begitu strategisnya daerah ini menjadikan kawasan komersial dan incaran permukiman elite kala itu.

Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat tahun 2013. Foto: Wikipedia
Merujuk buku Menyisir Jejak Betawi karya Windoro Adi, Kali Molenvliet dibangun setelah konflik internal di Kesultanan Banten kian tak terbendung pada abad XVII. Kondisi ini dianggap tak menguntungkan perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Gubernur keempat VOC Jan Pieterszoo Coen (JP Coen) lantas memindahkan armadanya ke Batavia yang kala itu masuk tahap pembangunan tepatnya di kota lama Kampung Akuarium atau sekitar Museum Bahari. Namun, aktivitas yang tinggi membuat warga kesulitan mendapatkan air tawar. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya rawa di kawasan ini yang dipenuhi sampah.
Lihat Juga :