Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Pagi

Legenda Buaya Putih di Keraton Kasepuhan, Anak Sultan Dikutuk Gegara Rebahan Usai Makan

loading...
“Konon dia akan muncul kalau ada pesta, bahkan dikawal oleh ikan kakap yang dikenal kakap seprada dan rombongan ikan,” ujar Suwari menceritakan. Bahkan saat ini ada tradisi tersendiri saat masyarakat sekitar melihat buaya putih lempar tumpengan ke sungai.

Legenda buaya putih ini juga diceritakan oleh Polmak Keraton Kasepuhan, Raden Raharjo Djali. Dia menyebutkan, konon, selain tidak patuh, anak Sultan Syamsudin ini memiliki kebiasaan kalau makan sambil tiduran dan tengkurap.

“Sultan selalu menasihati agar tidak seperti itu, tapi kerap diabaikan, hingga akhirnya Sultan berucap anaknya kalau makan tengkurap seperti buaya,” katanya.

Boy warga Cirebon juga mengaku sering mendengar tentang buaya putih yang biasa muncul di Sungai Kriyan. “Yang saya dengar dari warga itu, buaya putih yang muncul tidak mengganggu warga, konon di masayarakat sekitar setiap jumat kliwon muncul dengan sendirinya, di Lawang Sanga,” ujarnya.

Legenda Buaya Putih di Keraton Kasepuhan, Anak Sultan Dikutuk Gegara Rebahan Usai Makan

Baca juga: Berdiri Ratusan Tahun, Langgar Gipo Jadi Saksi Sejarah Pergerakan Ulama NU

Berdasarkan naskah Negara Kertabumi, Situs Lawang Sanga dibangun pada masa pemerintahan sepuh pertama Syamsuddin Marta Wijaya tahun 1677 Masehi, yang pada saat itu akan menyelenggarakan gotra sawala yang diselenggarakan oleh Pangeran Wangsa Kerta.

Menurut Raden Raharjo, Lawang Sanga saat itu sebagai pintu masuk bagi perhu-perahu yang berlabuh dari penjuru nusantara dan perdagangan mancanegara, sebelum mereka memasuki keraton pakumuati dan semua awak perahu harus menugggu di kawasan Lawang Sanga.

Diketahui Lawang Sanga memiliki Sembilan pintu. “Satu pintu berada di depan, empat pintu berada di samping, tiga pintu berada di belakang dan satu pintu berada di tengah,” katanya.

Dia menjelaskan jumlah pintu yang ada di Lawang Sanga juga sebagai simbol sembilan lubang di tubuh manusia. Lubang hidung, mulut, telinga, mata, dubur dan kelamin. “Artinya memiliki nilai filosofis soal kehidupan sembilan ini dianggap sebagai angka sempurna,” tandasnya.
(nic)
halaman ke-2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top