Masa Pandemi, Transaksi Digital di Jawa Timur Meningkat

loading...
Masa Pandemi, Transaksi Digital di Jawa Timur Meningkat
Transaksi digital di Jawa Timur justru mengalami kenaikan di saat pandemi COVID-19.Foto/Lukman Hakim
SURABAYA - Pandemi COVID-19 membuat masyarakat harus disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Seperti memakai masker, cuci tangan pakai sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Hal tersebut berdampak pada perubahan pola transaksi di masyarakat.

Laporan perekonomian Jawa Timur (Jatim) oleh Bank Indonesia (BI) menyebutkan transaksi via Layanan Keuangan Digital (LKD) pada triwulan III 2020, naik 0,79% yakni menjadi Rp1,69 triliun dibandingkan triwulan II 2020.

Baca juga: Klinik BUMDesa Jatim Sasar Empat Desa Wisata Potensial

Peningkatan ini tak lepas dari banyaknya aplikasi layanan transaksi keuangan secara digital. Salah satunya aplikasi BebasBayar. Dengan BebasBayar, masyarakat bisa bayar dan beli apa saja, dengan harga murah dan cara mudah cukup menggunakan smartphone,” kata EVP BebasBayar, Bagus Cahyono, Kamis (28/1/2021).



Bagus menambahkan, BebasBayar telah dilengkapi sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mendukung digitalisasi keuangan dan membantu mencegah tersebarnya virus corona. Sistem transaksi juga mudah, karena cukup dengan scan QRIS di semua merchant.

Baca juga: Cerita Penyintas COVID-19 Blitar, Setelah Sembuh Tubuh Menjadi Cepat Lelah

“BebasBayar menggunakan e-money SpeedCash yang telah memiliki izin dari BI. Sehingga keamanannya terjaga. Dilengkapi dengan beragam produk tersedia mulai dari beli pulsa, paket data, transfer bank tanpa melalui ATM dan internet banking,” imbuhnya.



Dia menjelaskan, berbagai kebutuhan bisa dilakukan mulai top up e-money voucher game, bayar tagihan bulanan mulai dari PLN, PDAM, BPJS, Indihome, TV kabel, Gas PGN, hingga cicilan bisa dibayar dan dibeli cukup dari satu aplikasi BebasBayar.

“Saat ini aplikasi BebasBayar bisa diunduh melalui Playstore, dimana 1,7 juta pengguna android di Indonesia telah mengunduh dan merasakan manfaat dari aplikasi ini,” ujarnya.

Sementara itu, data BI menyebutkan, tren LKD di Jatim pada tahun lalu ternyata didominasi oleh transaksi pembayaran tagihan rutin dan top up e-money atau uang elektronik. Dari total transaksi Rp1,69 triliun, sebanyak 94,79% atau Rp1,6 triliun didominasi pembayaran tagihan rutin.

Disusul transaksi top up 3,36% dengan nominal Rp56,85 miliar, dan layanan tarik tunai 1,73% atau Rp29,24 miliar. “Transaksi pembayaran tagihan rutin ini sangat mendominasi karena adanya peningkatan aktivitas stay at home yang dilakukan masyarakat imbas dari pandemi COVID-19,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah.
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top