Sisa-Sisa Penambang Belerang ‘Pemberani’ di Kawah Ijen

loading...
Sisa-Sisa Penambang Belerang ‘Pemberani’ di Kawah Ijen
Para penambang belerang di Kawah Ijen terus berkurang. Pekerjaan yang berbahaya itu mulai ditinggalkan dan beralih menjadi tukang ojek di gunung.
BANYUWANGI - Beberapa tahun silam ratusan penambang belerang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Mereka menantang bahaya dengan setiap hari menghirup asap belerang, memanggulnya turun dari puncak gunung dengan harapan bisa membawa Rp100-200 ribu untuk keluarganya di rumah.

Kini, cerita para penambang belarang tak lagi memiliki daya tarik. Perlahan, mereka sudah menyudahi pekerjaan mereka untuk menambang. Mereka beralih menjadi tukang ojek wisata yang mengantarkan para pelancong naik dan turun ke kawah ijen.

“Berat sekarang kalau jadi penambang. Kalau ojek bisa lebih banyak dapatnya, dan kita tetap sehat,” kata Hidayat, salah satu tukang ojek di Pegunungan Ijen, Sabtu (28/11/2020).

(Baca juga: IRT Gelapkan Belasan Mobil, Modusnya Sewa lalu Digadaikan )



Ia sudah 23 tahun menjadi penambang belerang. Bahunya pun sudah tebal dan seperti karet keras setelah setiap hari dulunya mengangkat belarang sampai 70 kilogram. Sebelum matahari muncul di permukaan, mereka sudah mendaki ke puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.386 mdpl.

Semua peralatan keamanan masih terbetas. Ia hanya menggunakan senter di kepala, jaket tipis dan sarung tangan. Perjalanan ke puncak Gunung Ijen memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai puncak para penambang menuruni lereng yang terjal untuk menuju kawah dengan iringan asap beracun yang bisa memeras paru-paru mereka.





Di sekitar kawah Gunung Ijen dengan jalanan yang berbatu tajam, mereka mengambil belerang. Menatanya dengan rapi dan harus bisa sebanyak-banyaknya untuk meraup pundi rupiah setelah ditimbang di bawah.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top