Cerita Pagi

Makam Kiai Damarjati, Jadi Tempat Ziarah untuk Ngalap Berkah

loading...
Makam Kiai Damarjati, Jadi Tempat Ziarah untuk Ngalap Berkah
Seorang warga saat ziarah di Makam Kiai Damarjati yang berada tak jauh dari Masjid Darmarjati, Dukuh Krajan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Foto: SINDOnews/Angga Rosa
Nama besar Kiai Damarjati hingga sekarang masih dikenal masyarakat Kota Salatiga dan daerah lain. Hingga sekarang makam kiai bernama asli Sirojudin yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus penyebar agama Islam di Salatiga itu, sering dikunjungi masyarakat.

Mereka datang ke makam yang berada di lingkungan Dukuh Krajan RT 02 RW V, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga itu, untuk ziarah sekaligus memanjatkan doa dan ngalap (mengharapkan) berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka meyakini, makam Kiai Damarjati merupakan tempat mustajab untuk memanjatkan doa. (Baca juga : Masjid Awal yang Pernah Dibakar Belanda Jadi Bukti Toleransi Umat Beragama di Simalungun)

Tokoh masyarakat Krajan, Yahya (75) menceritakan, Kyai Sirojudin atau Damarjati diyakini merupakan panglima perang kerajaan Mataram. Beliau datang ke Salatiga bersama Kiai Ronosentiko pada tahun 1826 masehi. Kedua panglima perang Laskar Pangeran Diponegoro itu, tiba di Salatiga saat melakukan perang gerilya melawan penjajah kolonial Belanda.
Makam Kiai Damarjati, Jadi Tempat Ziarah untuk Ngalap Berkah

"Dua panglima perang itu melakukan perlawanan dengan cara ngayam alas (gerilya). Supaya gerak-geriknya tidak diketahui oleh Belanda, maka saat membuka perkampungan baru bersama laskarnya di Dukuh Krajan, Kiai Sirojudin memakai nama samaran yaitu Kiai Damarjati. Sedangkan Kiai Ronosentiko membuka perkampungan baru di daerah Bancaan, Salatiga, sekitar 3 km dari Masjid Damarjati," jelasnya.



Tak hanya itu, Kiai Sirojudin juga mendirikan langgar (masjid) yang kemudian diberi nama Damarjati. Langgar itu didirikan untuk melakukan syiar agama Islam. Disamping itu, masjid itu juga difungsikan sebagai tempat untuk berdiskusi dan menyusun strategi melawan Belanda.

"Kyai Sirojudin juga bertugas mengawasi sepak terjang Belanda di Salatiga dan sekitarnya. Karena sejak dahulu, Salatiga, Ambarawa, Ungaran, dan Semarang merupakan basis militer Belanda di Jawa Tengah," katanya.(Baca juga : Berburu Karomah di Makam Nyai Kopek, Penyebar Agama Islam di Salatiga)

Mulai saat itu, syiar Islam di Salatiga tersebar luas dan terus berkembang. Dan langgar yang dulunya berukuruan 6 x 6 meter persegi itu, juga berkembang menjadi masjid.



"Kiai Sirojudin tinggal di Krajan hingga beliau wafat. Saat wafat, jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati," ucapnya.

Sejak dulu hingga sekarang, makam Kiai Damarjati sering dikunjungi orang dari berbagai daerah. Selain berziarah, ada beberapa warga yang datang ke makam Kyai Damarjati untuk melakukan tirakat.
(nun)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top