La Nina Muncul di Samudera Pasifik, BMKG Minta Warga Waspada
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 09:18 WIB
loading...
Pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator hingga akhir September menunjukkan anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator hingga akhir September menunjukkan anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika meminta masyarakat mewaspadai perubahan cuaca.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir. Dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.
"Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020," kata Herizal lewat keterangan persnya, Sabtu (3/10/2020). (Baca juga; Januari-Oktober 2020, BNPB: 2.162 Bencana dan 4,4 Juta Orang Terdampak )
BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.
"Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya," tambahnya. (Baca juga; Ini Rute Tranjakarta yang Beroperasi Sabtu 3 Oktober, Hanya Sampai Pukul 19.00 WIB )
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir. Dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.
"Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020," kata Herizal lewat keterangan persnya, Sabtu (3/10/2020). (Baca juga; Januari-Oktober 2020, BNPB: 2.162 Bencana dan 4,4 Juta Orang Terdampak )
BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.
"Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya," tambahnya. (Baca juga; Ini Rute Tranjakarta yang Beroperasi Sabtu 3 Oktober, Hanya Sampai Pukul 19.00 WIB )
Lihat Juga :