YLC-8 IKA ITS Siapkan Generasi Pemimpin Adaptif Menuju Indonesia Emas 2045
Senin, 06 Juli 2026 - 17:15 WIB
loading...
Puncak rangkaian Youth Leadership Camp (YLC) 8 diselenggarakan IKA ITS Pengurus Wilayah Jakarta Raya di Pusdiklat PLN Cibogo, Bogor, pada 4-5 Juli 2026. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Puncak rangkaian Youth Leadership Camp (YLC) 8 diselenggarakan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) Pengurus Wilayah Jakarta Raya di Pusdiklat PLN Cibogo, Bogor, pada 4-5 Juli 2026. Selama hampir lima bulan, puluhan alumni muda ITS dari berbagai profesi mengikuti pelatihan kepemimpinan.
Mereka menjalani sebuah proses transformasi yang dirancang secara bertahap, mulai dari membangun pola pikir sebagai value creator, berkembang menjadi executive thinker, hingga belajar menjadi trusted follower yang mampu bertumbuh sebagai influential leader.
Baca juga: Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Mengusung tema 'Trusted Follower, Influential Leader' sesi ketiga ini menjadi titik kulminasi perjalanan kaderisasi kepemimpinan yang telah berlangsung selama hampir lima bulan.
Berbeda dengan pelatihan kepemimpinan pada umumnya, YLC-8 dirancang sebagai proses transformasi yang berjenjang, dimulai dari membangun karakter sebagai Value Creator, berkembang menjadi Executive Thinker. Kemudian mengimplementasikan kepemimpinan melalui penugasan nyata Professional Muda ITS Meet Up & Networking, hingga akhirnya membentuk karakter Trusted Follower yang siap tumbuh menjadi Influential Leader.
Pendekatan ini menjadikan YLC-8 bukan sekadar program pelatihan, melainkan sebuah leadership pipeline untuk menyiapkan kader-kader alumni ITS yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
Baca juga: Prabowo: Indonesia-Singapura Sepakat Jaga Keamanan Selat Malaka
Ketua IKA ITS PW Jakarta Raya, Kusdi Widodo menegaskan bahwa YLC merupakan investasi strategis organisasi dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan alumni.
"Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya sukses dalam karier profesionalnya, tetapi juga memiliki kepedulian untuk membangun organisasi, memperkuat jejaring alumni, serta memberikan kontribusi nyata bagi almamater, bangsa, dan masyarakat," ujar Kusdi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Menurut Kusdi, keberhasilan YLC tidak diukur dari selesainya sebuah kegiatan, melainkan dari sejauh mana para peserta mampu menghadirkan dampak positif setelah kembali ke lingkungan kerja dan organisasi masing-masing serta memulai aktif di IKA ITS Pengurus Wilayah Jakarta Raya.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS Prof Agus Muhamad Hatta menegaskan bahwa alumni merupakan salah satu aset strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem inovasi nasional bahkan internasional.
Menurutnya, kekuatan alumni tidak hanya diukur dari keberhasilan individu, tetapi dari kemampuannya membangun jejaring, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat, serta mendorong hilirisasi riset agar menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.
"Alumni bukan sekadar representasi keberhasilan ITS, tetapi mitra strategis dalam mempercepat inovasi, memperluas kolaborasi, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi bagi Indonesiam," sebutnya.
Perspektif berbeda disampaikan oleh Muhsin Budiono Nurhadi, Global Followership Trainer, Assistant Manager Quality Control PT Pertamina Lubricants, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi dan Kerja Sama IKA ITS PW Jakarta Raya, sekaligus General Manager Region Jatim Balinus CENITS.
Melalui materi "Strategic Followership & Managing Up", Muhsin mengajak peserta mengubah paradigma bahwa kepemimpinan selalu identik dengan posisi tertinggi. Menurutnya, organisasi justru membutuhkan lebih banyak trusted follower, yaitu individu yang mampu berpikir kritis, membangun komunikasi yang sehat, berinisiatif, serta memberikan dukungan konstruktif kepada pemimpinnya.
"Leadership dan followership bukan dua hal yang saling bertentangan. Kepemimpinan yang kuat justru lahir dari kemampuan menjadi pengikut yang mampu dipercaya, mampu memberi pengaruh positif, dan mampu membangun keberhasilan tim secara bersama-sama," jelasnya.
Sementara itu, Deni Budi Kurnianto, Direktur Utama PT Indoturbine sekaligus Ketua Harian III IKA ITS PW Jakarta Raya, mengajak peserta menerjemahkan seluruh pembelajaran YLC ke dalam praktik profesional. Menurutnya, transformasi industri yang dipicu oleh digitalisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan otomatisasi menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan, inovatif dalam berpikir, serta mampu membangun kolaborasi lintas disiplin.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, membangun kepercayaan melalui prinsip 3T (Tepat Waktu, Tepat Kualitas, dan Transparan) serta menghadirkan solusi yang memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat.
Selain sesi kelas, peserta juga mengikuti berbagai simulasi kepemimpinan melalui Outbound Team Building yang dirancang untuk menguji kemampuan komunikasi, kepercayaan, negosiasi, pengambilan keputusan, dan kolaborasi dalam situasi nyata.
Evaluasi melalui Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan bahwa para peserta menilai kualitas narasumber, jejaring lintas profesi, dan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman sebagai kekuatan utama YLC-8. Mereka juga mengusulkan agar program berikutnya diperluas melalui executive networking, kolaborasi lintas organisasi profesional, dan penguatan komunitas pascaprogram sebagai bentuk keberlanjutan kaderisasi.
Koordinator Steering Committee YLC-8 sekaligus Wakil Sekretaris Umum IKA ITS PW Jakarta Raya, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa kekuatan utama YLC-8 terletak pada keberagaman peserta yang berasal dari berbagai profesi, mulai dari kementerian, BUMN, perusahaan swasta, konsultan, hingga wirausaha.
Menurutnya, keberagaman tersebut menjadi laboratorium pembelajaran yang memperkaya perspektif peserta dalam menghadapi tantangan kepemimpinan.
"Program leadership YLC-8 dari Session 1 hingga Session 3 hanyalah pendorong untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta. Kami berharap setelah kembali ke institusi masing-masing, mereka berkembang lebih cepat di bidang profesinya sekaligus menjadi motor penggerak organisasi IKA ITS, baik di tingkat Pengurus Wilayah Jakarta Raya , komisariat jurusan maupun Pengurus Pusatm," tegasnya.
Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya yang juga Steering Committee YLC-8, Dzulfikar Arifuddin mengajak seluruh peserta menjadikan perjalanan YLC-8 sebagai awal terbentuknya jejaring kepemimpinan alumni yang berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa seluruh rangkaian program, mulai dari Session 1, Session 2, penugasan Professional Muda ITS Meet Up & Networking, hingga Session 3, bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan proses membangun hubungan, kepercayaan, dan kolaborasi antarpeserta.
"Jadikan seluruh rangkaian YLC-8 sebagai proses saling mengenal, saling memahami, saling percaya, dan saling terhubung. Momentum ini harus menjadi milestone awal lahirnya sinergi dan kolaborasi lintas profesi yang mampu memberikan manfaat yang lebih luas," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat Manifesto Integralistik harus menjadi identitas alumni ITS, yaitu memandang setiap departemen, fakultas, profesi, maupun angkatan sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling melengkapi.
"Ketika kita telah menjadi alumni, tidak boleh lagi ada sekat jurusan atau fakultas. Yang ada adalah semangat kebersamaan untuk memperkuat solidaritas, membangun kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi almamater, bangsa, negara, bahkan dunia," sebutnya.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, kepemimpinan, semangat kolaborasi, dan partisipasi aktif selama mengikuti seluruh rangkaian program, IKA ITS PW Jakarta Raya memberikan penghargaan Peserta Terbaik YLC-8 Session 3 kepada M. Abd. Rozzaq Khaidhor dan Nur Hafidzah Oktavia.
YLC-8 menjadi titik awal lahirnya jejaring kepemimpinan alumni ITS yang diharapkan terus tumbuh, memperkuat organisasi, mempererat hubungan antargenerasi alumni, serta berkontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
Mereka menjalani sebuah proses transformasi yang dirancang secara bertahap, mulai dari membangun pola pikir sebagai value creator, berkembang menjadi executive thinker, hingga belajar menjadi trusted follower yang mampu bertumbuh sebagai influential leader.
Baca juga: Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Mengusung tema 'Trusted Follower, Influential Leader' sesi ketiga ini menjadi titik kulminasi perjalanan kaderisasi kepemimpinan yang telah berlangsung selama hampir lima bulan.
Berbeda dengan pelatihan kepemimpinan pada umumnya, YLC-8 dirancang sebagai proses transformasi yang berjenjang, dimulai dari membangun karakter sebagai Value Creator, berkembang menjadi Executive Thinker. Kemudian mengimplementasikan kepemimpinan melalui penugasan nyata Professional Muda ITS Meet Up & Networking, hingga akhirnya membentuk karakter Trusted Follower yang siap tumbuh menjadi Influential Leader.
Pendekatan ini menjadikan YLC-8 bukan sekadar program pelatihan, melainkan sebuah leadership pipeline untuk menyiapkan kader-kader alumni ITS yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
Baca juga: Prabowo: Indonesia-Singapura Sepakat Jaga Keamanan Selat Malaka
Ketua IKA ITS PW Jakarta Raya, Kusdi Widodo menegaskan bahwa YLC merupakan investasi strategis organisasi dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan alumni.
"Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya sukses dalam karier profesionalnya, tetapi juga memiliki kepedulian untuk membangun organisasi, memperkuat jejaring alumni, serta memberikan kontribusi nyata bagi almamater, bangsa, dan masyarakat," ujar Kusdi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Menurut Kusdi, keberhasilan YLC tidak diukur dari selesainya sebuah kegiatan, melainkan dari sejauh mana para peserta mampu menghadirkan dampak positif setelah kembali ke lingkungan kerja dan organisasi masing-masing serta memulai aktif di IKA ITS Pengurus Wilayah Jakarta Raya.
Alumni sebagai Kekuatan Strategis Bangsa
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS Prof Agus Muhamad Hatta menegaskan bahwa alumni merupakan salah satu aset strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem inovasi nasional bahkan internasional.
Menurutnya, kekuatan alumni tidak hanya diukur dari keberhasilan individu, tetapi dari kemampuannya membangun jejaring, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat, serta mendorong hilirisasi riset agar menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.
"Alumni bukan sekadar representasi keberhasilan ITS, tetapi mitra strategis dalam mempercepat inovasi, memperluas kolaborasi, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi bagi Indonesiam," sebutnya.
Perspektif berbeda disampaikan oleh Muhsin Budiono Nurhadi, Global Followership Trainer, Assistant Manager Quality Control PT Pertamina Lubricants, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi dan Kerja Sama IKA ITS PW Jakarta Raya, sekaligus General Manager Region Jatim Balinus CENITS.
Melalui materi "Strategic Followership & Managing Up", Muhsin mengajak peserta mengubah paradigma bahwa kepemimpinan selalu identik dengan posisi tertinggi. Menurutnya, organisasi justru membutuhkan lebih banyak trusted follower, yaitu individu yang mampu berpikir kritis, membangun komunikasi yang sehat, berinisiatif, serta memberikan dukungan konstruktif kepada pemimpinnya.
"Leadership dan followership bukan dua hal yang saling bertentangan. Kepemimpinan yang kuat justru lahir dari kemampuan menjadi pengikut yang mampu dipercaya, mampu memberi pengaruh positif, dan mampu membangun keberhasilan tim secara bersama-sama," jelasnya.
Sementara itu, Deni Budi Kurnianto, Direktur Utama PT Indoturbine sekaligus Ketua Harian III IKA ITS PW Jakarta Raya, mengajak peserta menerjemahkan seluruh pembelajaran YLC ke dalam praktik profesional. Menurutnya, transformasi industri yang dipicu oleh digitalisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan otomatisasi menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan, inovatif dalam berpikir, serta mampu membangun kolaborasi lintas disiplin.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, membangun kepercayaan melalui prinsip 3T (Tepat Waktu, Tepat Kualitas, dan Transparan) serta menghadirkan solusi yang memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat.
Selain sesi kelas, peserta juga mengikuti berbagai simulasi kepemimpinan melalui Outbound Team Building yang dirancang untuk menguji kemampuan komunikasi, kepercayaan, negosiasi, pengambilan keputusan, dan kolaborasi dalam situasi nyata.
Evaluasi melalui Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan bahwa para peserta menilai kualitas narasumber, jejaring lintas profesi, dan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman sebagai kekuatan utama YLC-8. Mereka juga mengusulkan agar program berikutnya diperluas melalui executive networking, kolaborasi lintas organisasi profesional, dan penguatan komunitas pascaprogram sebagai bentuk keberlanjutan kaderisasi.
Koordinator Steering Committee YLC-8 sekaligus Wakil Sekretaris Umum IKA ITS PW Jakarta Raya, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa kekuatan utama YLC-8 terletak pada keberagaman peserta yang berasal dari berbagai profesi, mulai dari kementerian, BUMN, perusahaan swasta, konsultan, hingga wirausaha.
Menurutnya, keberagaman tersebut menjadi laboratorium pembelajaran yang memperkaya perspektif peserta dalam menghadapi tantangan kepemimpinan.
"Program leadership YLC-8 dari Session 1 hingga Session 3 hanyalah pendorong untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta. Kami berharap setelah kembali ke institusi masing-masing, mereka berkembang lebih cepat di bidang profesinya sekaligus menjadi motor penggerak organisasi IKA ITS, baik di tingkat Pengurus Wilayah Jakarta Raya , komisariat jurusan maupun Pengurus Pusatm," tegasnya.
Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya yang juga Steering Committee YLC-8, Dzulfikar Arifuddin mengajak seluruh peserta menjadikan perjalanan YLC-8 sebagai awal terbentuknya jejaring kepemimpinan alumni yang berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa seluruh rangkaian program, mulai dari Session 1, Session 2, penugasan Professional Muda ITS Meet Up & Networking, hingga Session 3, bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan proses membangun hubungan, kepercayaan, dan kolaborasi antarpeserta.
"Jadikan seluruh rangkaian YLC-8 sebagai proses saling mengenal, saling memahami, saling percaya, dan saling terhubung. Momentum ini harus menjadi milestone awal lahirnya sinergi dan kolaborasi lintas profesi yang mampu memberikan manfaat yang lebih luas," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat Manifesto Integralistik harus menjadi identitas alumni ITS, yaitu memandang setiap departemen, fakultas, profesi, maupun angkatan sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling melengkapi.
"Ketika kita telah menjadi alumni, tidak boleh lagi ada sekat jurusan atau fakultas. Yang ada adalah semangat kebersamaan untuk memperkuat solidaritas, membangun kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi almamater, bangsa, negara, bahkan dunia," sebutnya.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, kepemimpinan, semangat kolaborasi, dan partisipasi aktif selama mengikuti seluruh rangkaian program, IKA ITS PW Jakarta Raya memberikan penghargaan Peserta Terbaik YLC-8 Session 3 kepada M. Abd. Rozzaq Khaidhor dan Nur Hafidzah Oktavia.
YLC-8 menjadi titik awal lahirnya jejaring kepemimpinan alumni ITS yang diharapkan terus tumbuh, memperkuat organisasi, mempererat hubungan antargenerasi alumni, serta berkontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.
(shf)
Lihat Juga :