Mahasiswa Gelar Solidarity Campaign di Area CFD Sudirman-MH Thamrin, Buka Percakapan dengan Rakyat
Minggu, 28 Juni 2026 - 16:07 WIB
loading...
Sejumlah mahasiswa serta masyarakat sipil menggelar Solidarity Campaign di area Car Free Day (CFD) Jalan Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (28/6/2026). Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah mahasiswa serta masyarakat sipil menggelar Solidarity Campaign di area Car Free Day ( CFD ) Jalan Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan tersebut tidak bertujuan merusak aktivitas pagi hari masyarakat, tetapi mengajak warg bersama-sama mengisi ruang publik dengan sesuatu yang lebih bermakna dari sekadar lari pagi.
"Pagi hari ini, saat Jakarta merayakan ulang tahunnya dan warga menikmati Car Free Day. Mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI, Kepresma Usakti, BEM PNJ, BPM FH UP, BEM Esa Unggul, BEM FTI UG, dan elemen gerakan masyarakat sipil lain hadir di Bundaran HI untuk menggelar Solidarity Campaign CFD," kata Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Yatalathof Imawan dalam keterangannya.
Dalam kesempatan itu, Yatalathof mengungkit bahwa beberapa pekan terakhir, ribuan orang telah tumpah ruah ke kawasan sekitar Bundaran HI untuk melakukan aksi demo. Mereka yang turun ke jalan itu mengkritik beberapa progam pemerintahan saat ini.
"Pemerintah masih mengelak. MBG masih bergerak tanpa transparansi, KDMP terus memakan nyawa, dan anggaran negara terus bocor ke program-program yang tidak jelas hasilnya. Militer dan Polisi masih represif dengan merangsek ke ruang-ruang sipil dan akademik. Dan pemimpin yang seharusnya mendengar? Masih sibuk memoles citra sambil mengejek rakyatnya dengan pidato omong kosongnya," ucap dia.
Baca Juga: Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan meski Banyak Aktivis Masuk Pemerintahan, Ini Analisis Ubedilah Badrun
Oleh karenanya, Solidarity Campaign di area CFD menjadi bentuk lanjutan dari rangkaian aksi yang sebelumnya digelar. Kegiatan tersebut bertujuan sebagai ruang dialog langsung bagi masyarakat mengenai berbagai persoalan yang ada saat ini.
"Di saat pemerintah memilih tutup telinga dari data dan fakta, kami memilih membuka percakapan langsung dengan rakyat. Di saat gedung-gedung kekuasaan menghadirkan audiensi semu, kami membuka mimbar bebas di jalanan untuk siapa pun yang ingin bersuara. Di saat kebenaran dibungkam di ruang-ruang formal, kami memajangnya sebagai instalasi di ruang terbuka, untuk dibaca oleh siapa pun yang lewat."
Ia menilai, sejumlah isu yang disuarakan ketika aksi demo tak berubah dalam kegiatan solidarity campaign. "Kampanye yang dihadirkan variatif seperti, mimbar bebas berupa ruang bicara terbuka untuk siapa pun dan instalasi publik yang menghadirkan pesan-pesan rakyat dipajang di jalanan."
"Pagi hari ini, saat Jakarta merayakan ulang tahunnya dan warga menikmati Car Free Day. Mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI, Kepresma Usakti, BEM PNJ, BPM FH UP, BEM Esa Unggul, BEM FTI UG, dan elemen gerakan masyarakat sipil lain hadir di Bundaran HI untuk menggelar Solidarity Campaign CFD," kata Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Yatalathof Imawan dalam keterangannya.
Dalam kesempatan itu, Yatalathof mengungkit bahwa beberapa pekan terakhir, ribuan orang telah tumpah ruah ke kawasan sekitar Bundaran HI untuk melakukan aksi demo. Mereka yang turun ke jalan itu mengkritik beberapa progam pemerintahan saat ini.
"Pemerintah masih mengelak. MBG masih bergerak tanpa transparansi, KDMP terus memakan nyawa, dan anggaran negara terus bocor ke program-program yang tidak jelas hasilnya. Militer dan Polisi masih represif dengan merangsek ke ruang-ruang sipil dan akademik. Dan pemimpin yang seharusnya mendengar? Masih sibuk memoles citra sambil mengejek rakyatnya dengan pidato omong kosongnya," ucap dia.
Baca Juga: Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan meski Banyak Aktivis Masuk Pemerintahan, Ini Analisis Ubedilah Badrun
Oleh karenanya, Solidarity Campaign di area CFD menjadi bentuk lanjutan dari rangkaian aksi yang sebelumnya digelar. Kegiatan tersebut bertujuan sebagai ruang dialog langsung bagi masyarakat mengenai berbagai persoalan yang ada saat ini.
"Di saat pemerintah memilih tutup telinga dari data dan fakta, kami memilih membuka percakapan langsung dengan rakyat. Di saat gedung-gedung kekuasaan menghadirkan audiensi semu, kami membuka mimbar bebas di jalanan untuk siapa pun yang ingin bersuara. Di saat kebenaran dibungkam di ruang-ruang formal, kami memajangnya sebagai instalasi di ruang terbuka, untuk dibaca oleh siapa pun yang lewat."
Ia menilai, sejumlah isu yang disuarakan ketika aksi demo tak berubah dalam kegiatan solidarity campaign. "Kampanye yang dihadirkan variatif seperti, mimbar bebas berupa ruang bicara terbuka untuk siapa pun dan instalasi publik yang menghadirkan pesan-pesan rakyat dipajang di jalanan."
(zik)
Lihat Juga :