Resmi Dipilih dalam Munas Yogyakarta, Agus Suparmanto Siap Bawa Anggar Indonesia Go International
Minggu, 14 Juni 2026 - 08:56 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
YOGYAKARTA - Musyawarah Nasional Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) 2026 menetapkan Agus Suparmanto kembali sebagai Ketua Umum PB IKASI periode 2026–2030. Dalam kepemimpinannya yang baru, Agus menegaskan fokus utama organisasi adalah meningkatkan prestasi atlet sekaligus membangun industri anggar di Indonesia.
Munas PB IKASI mengusung tema “Bersama Membangun Olahraga Anggar Indonesia untuk Melahirkan Atlet Berprestasi dan Mengembangkan Karakter yang Tangkas, Kecerdasan Strategi, serta Sportivitas” dan digelar di Swiss-Belhotel Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).
Prestasi Atlet Jadi Prioritas
Agus mengatakan evaluasi terhadap kepengurusan sebelumnya menjadi dasar penyusunan program kerja ke depan. Salah satu target utama adalah mengembalikan prestasi anggar Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
“Untuk periode ini saya akan meningkatkan prestasi atlet, terutama dalam mengembangkan karakter yang tangkas, berkarakter baik, serta sportif,” ujarnya.
Menurut Agus, pembinaan atlet akan diperkuat melalui peningkatan kualitas dan kuantitas pelatih. Saat ini, minat masyarakat terhadap olahraga anggar mulai tumbuh, namun masih terkendala keterbatasan tenaga pelatih profesional.
“Banyak yang ingin menjadi atlet anggar. Karena itu, pembinaan pelatih harus ditingkatkan. Dengan bertambahnya pelatih, peminat anggar akan meningkat dan akan muncul atlet-atlet baru yang potensial,” katanya.
Bangun Industri Anggar Nasional dan Perluas Pembinaan di Daerah
Selain pembinaan atlet, Agus juga berencana mengembangkan industri anggar sebagai bagian dari ekosistem olahraga tersebut. Menurutnya, pertumbuhan industri akan berdampak langsung pada peningkatan jumlah kompetisi dan kualitas atlet.
Ia menjelaskan industri anggar dapat berkembang melalui penyediaan perlengkapan olahraga, pakaian, hingga peralatan pertandingan yang melibatkan pelaku usaha dan masyarakat.
“Semakin banyak peminat anggar, maka supply chain peralatan anggar juga akan berkembang. Saat ini masih sulit menemukan perlengkapan anggar di toko olahraga. Ini peluang besar yang harus dikembangkan,” ujarnya.
Agus menilai daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan atlet berprestasi. Namun, masih diperlukan sosialisasi dan distribusi pengetahuan mengenai olahraga anggar secara lebih merata.
Ia berharap mantan atlet nasional dapat berperan sebagai pelatih dan mentor untuk mempercepat pembinaan di berbagai daerah.
“Justru di daerah banyak potensi. Yang diperlukan adalah sosialisasi dan penyebaran keilmuan anggar sehingga atlet-atlet muda mendapatkan kesempatan berkembang,” katanya.
Agus mengakui salah satu tantangan terbesar pengembangan anggar nasional adalah minimnya pelatih profesional. Untuk mengatasi hal itu, PB IKASI akan memperluas kerja sama dengan negara lain.
“Pelatih masih kurang. Ke depan akan ada kerja sama dengan luar negeri, termasuk Korea, untuk meningkatkan kapasitas atlet dan pelatih melalui program pelatihan,” ujarnya.
Popularitas Anggar Perlu Ditingkatkan
Sekretaris Jenderal PB IKASI, Mohamad Hekal, menyatakan seluruh jajaran pengurus siap mendukung program Ketua Umum untuk meningkatkan prestasi sekaligus memperkuat industri anggar.
Menurutnya, peningkatan popularitas olahraga anggar menjadi kunci untuk menarik lebih banyak generasi muda terlibat dalam olahraga tersebut.
“Kita perlu meningkatkan awareness dan menggairahkan anggar di kalangan generasi Z. Jika popularitasnya meningkat, industri merchandising akan berkembang dan peminat baru akan bermunculan, yang pada akhirnya melahirkan prestasi-prestasi baru,” ujarnya.
Hekal berharap berbagai persoalan organisasi yang sempat menghambat perkembangan anggar dapat diselesaikan pada periode kepengurusan baru sehingga fokus pembinaan atlet bisa berjalan optimal.
Aceh Jadi Contoh Keberhasilan Pembinaan
Sementara itu, Wakil Ketua I PB IKASI, M. Nasir, menyebut Aceh dapat menjadi contoh keberhasilan pembinaan atlet anggar di daerah. Aceh berhasil menjadi juara umum cabang anggar pada PON terakhir dan memiliki ekosistem pembinaan yang kuat.
Menurut Nasir, saat ini dari 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 17 daerah telah memiliki aktivitas pembinaan anggar. Bahkan pasca-PON, Aceh memiliki gedung khusus anggar yang setiap hari dipenuhi atlet muda untuk berlatih.
“Kita punya ekosistem anggar yang berkembang. Sehari bisa sampai 100 anak dan remaja berlatih di gedung anggar. Ini menjadi modal penting untuk menjaga regenerasi atlet,” katanya.
Nasir berharap kepengurusan baru PB IKASI mampu menyelesaikan berbagai dinamika organisasi sehingga atlet-atlet terbaik hasil pembinaan daerah dapat memperoleh kesempatan tampil di SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
“Cita-cita atlet setelah PON adalah SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Itu yang harus kita buka jalannya bersama,” ujar Nasir.
Munas PB IKASI mengusung tema “Bersama Membangun Olahraga Anggar Indonesia untuk Melahirkan Atlet Berprestasi dan Mengembangkan Karakter yang Tangkas, Kecerdasan Strategi, serta Sportivitas” dan digelar di Swiss-Belhotel Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).
Prestasi Atlet Jadi Prioritas
Agus mengatakan evaluasi terhadap kepengurusan sebelumnya menjadi dasar penyusunan program kerja ke depan. Salah satu target utama adalah mengembalikan prestasi anggar Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
“Untuk periode ini saya akan meningkatkan prestasi atlet, terutama dalam mengembangkan karakter yang tangkas, berkarakter baik, serta sportif,” ujarnya.
Menurut Agus, pembinaan atlet akan diperkuat melalui peningkatan kualitas dan kuantitas pelatih. Saat ini, minat masyarakat terhadap olahraga anggar mulai tumbuh, namun masih terkendala keterbatasan tenaga pelatih profesional.
“Banyak yang ingin menjadi atlet anggar. Karena itu, pembinaan pelatih harus ditingkatkan. Dengan bertambahnya pelatih, peminat anggar akan meningkat dan akan muncul atlet-atlet baru yang potensial,” katanya.
Bangun Industri Anggar Nasional dan Perluas Pembinaan di Daerah
Selain pembinaan atlet, Agus juga berencana mengembangkan industri anggar sebagai bagian dari ekosistem olahraga tersebut. Menurutnya, pertumbuhan industri akan berdampak langsung pada peningkatan jumlah kompetisi dan kualitas atlet.
Ia menjelaskan industri anggar dapat berkembang melalui penyediaan perlengkapan olahraga, pakaian, hingga peralatan pertandingan yang melibatkan pelaku usaha dan masyarakat.
“Semakin banyak peminat anggar, maka supply chain peralatan anggar juga akan berkembang. Saat ini masih sulit menemukan perlengkapan anggar di toko olahraga. Ini peluang besar yang harus dikembangkan,” ujarnya.
Agus menilai daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan atlet berprestasi. Namun, masih diperlukan sosialisasi dan distribusi pengetahuan mengenai olahraga anggar secara lebih merata.
Ia berharap mantan atlet nasional dapat berperan sebagai pelatih dan mentor untuk mempercepat pembinaan di berbagai daerah.
“Justru di daerah banyak potensi. Yang diperlukan adalah sosialisasi dan penyebaran keilmuan anggar sehingga atlet-atlet muda mendapatkan kesempatan berkembang,” katanya.
Agus mengakui salah satu tantangan terbesar pengembangan anggar nasional adalah minimnya pelatih profesional. Untuk mengatasi hal itu, PB IKASI akan memperluas kerja sama dengan negara lain.
“Pelatih masih kurang. Ke depan akan ada kerja sama dengan luar negeri, termasuk Korea, untuk meningkatkan kapasitas atlet dan pelatih melalui program pelatihan,” ujarnya.
Popularitas Anggar Perlu Ditingkatkan
Sekretaris Jenderal PB IKASI, Mohamad Hekal, menyatakan seluruh jajaran pengurus siap mendukung program Ketua Umum untuk meningkatkan prestasi sekaligus memperkuat industri anggar.
Menurutnya, peningkatan popularitas olahraga anggar menjadi kunci untuk menarik lebih banyak generasi muda terlibat dalam olahraga tersebut.
“Kita perlu meningkatkan awareness dan menggairahkan anggar di kalangan generasi Z. Jika popularitasnya meningkat, industri merchandising akan berkembang dan peminat baru akan bermunculan, yang pada akhirnya melahirkan prestasi-prestasi baru,” ujarnya.
Hekal berharap berbagai persoalan organisasi yang sempat menghambat perkembangan anggar dapat diselesaikan pada periode kepengurusan baru sehingga fokus pembinaan atlet bisa berjalan optimal.
Aceh Jadi Contoh Keberhasilan Pembinaan
Sementara itu, Wakil Ketua I PB IKASI, M. Nasir, menyebut Aceh dapat menjadi contoh keberhasilan pembinaan atlet anggar di daerah. Aceh berhasil menjadi juara umum cabang anggar pada PON terakhir dan memiliki ekosistem pembinaan yang kuat.
Menurut Nasir, saat ini dari 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 17 daerah telah memiliki aktivitas pembinaan anggar. Bahkan pasca-PON, Aceh memiliki gedung khusus anggar yang setiap hari dipenuhi atlet muda untuk berlatih.
“Kita punya ekosistem anggar yang berkembang. Sehari bisa sampai 100 anak dan remaja berlatih di gedung anggar. Ini menjadi modal penting untuk menjaga regenerasi atlet,” katanya.
Nasir berharap kepengurusan baru PB IKASI mampu menyelesaikan berbagai dinamika organisasi sehingga atlet-atlet terbaik hasil pembinaan daerah dapat memperoleh kesempatan tampil di SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
“Cita-cita atlet setelah PON adalah SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Itu yang harus kita buka jalannya bersama,” ujar Nasir.
(unt)
Lihat Juga :