IKA ITS Jakarta Raya Rumuskan Kepemimpinan Naik Kelas di Era AI
Senin, 16 Februari 2026 - 21:12 WIB
loading...
Youth Leadership Camp (YLC) 8 IKA ITS PW Jakarta Raya membahas insinyur di era AI yang tak hanya memiliki kecakapan teknis, namun naik kelas jadi value creator. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Youth Leadership Camp (YLC) 8 IKA ITS PW Jakarta Raya membahas insinyur di era kecerdasan artifisial (AI) yang tidak hanya memiliki kecakapan teknis. Forum ini mendorong lahirnya engineer yang mampu naik kelas menjadi value creator, manusia yang diperkuat teknologi, bukan tergantikan olehnya.
Dalam sesi utama bertajuk “From Engineer to Value Creator: Personal Branding & Leadership in the Age of AI”, pakar pemasaran Hermawan Kartajaya menjelaskan bahwa masa depan adalah milik mereka yang berbeda dan relevan. “Anda tidak perlu menjadi seseorang yang lebih baik, tidak perlu menjadi yang terbaik. Anda cukup menjadi seseorang yang berbeda,” ujarnya, dikutip Senin (16/2/2026).
Baca juga: Deretan Prodi Baru UI, ITB, IPB, Unpad, dan ITS di SNBP 2026, Peluang Lolos Lebih Besar
Menurut Hermawan, stagnasi banyak usaha kecil bukan disebabkan kurangnya modal, melainkan ketiadaan mental entrepreneur. Seorang entrepreneur, katanya, memiliki tiga karakter utama: mampu melihat peluang, berani mengambil risiko, dan aktif membangun kolaborasi.
Dalam kerangka entrepreneurial marketing, ia memperkenalkan dua simbol penting: PIPM (Productivity, Improvement, Professionalism, Management) dan CIEL (Creativity, Innovation, Entrepreneur, Leadership). Jika PIPM adalah fondasi manajerial, maka CIEL adalah jiwa kepemimpinan berbasis kreativitas dan inovasi.
Lebih jauh, Hermawan memaparkan konsep PDB, Positioning, Differentiation, Branding—sebagai inti manajemen modern. Dalam customer management, perusahaan harus cermat melakukan segmentasi, targeting, dan positioning. Dalam product management, diferensiasi dibangun lewat nilai (content), cara penyampaian (context), dan dukungan sistem (infrastructure).
Baca juga: PLTN Pertama Indonesia Disiapkan, ITPLN dan ITS Fokus Bangun SDM Nuklir Nasional
Sementara dalam brand management, pengalaman pelanggan menjadi penentu, mulai dari identitas merek hingga proses layanan yang konsisten. Di tengah lima pendorong perubahan, teknologi, politik/hukum, ekonomi, sosial-budaya, dan pasar, kemampuan membaca perubahan menjadi kunci.
Kerangka 4C Diamond (Change, Customer, Competitor, Company) ditawarkan sebagai kompas strategis agar organisasi tidak reaktif, melainkan adaptif.
Sesi berikutnya menghadirkan Muhammad Fauzan, Direktur Human Capital & Legal PT Hutama Karya, sekaligus Wakil Ketua Umum/ Ketua Harian PP IKA ITS yang menekankan pentingnya dekade pertama karier. Tema “Winning the First 10 Years: Talent, Integrity & Leadership Readiness” menggarisbawahi bahwa reputasi profesional dibangun dari integritas dan konsistensi.
Di sektor infrastruktur yang kompleks dan sarat risiko, integritas bukan sekadar nilai moral, melainkan fondasi keberlanjutan organisasi. Talenta tanpa integritas akan rapuh; integritas tanpa kompetensi tak akan cukup.
Dzulfikar Arifuddin, Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya sekaligus Steering Committee YLC 8, menekankan bahwa transformasi engineer menjadi value creator harus dibingkai dalam perspektif kebangsaan. Menurutnya, tantangan Indonesia, mulai dari hilirisasi industri, transisi energi, hingga digitalisasi, membutuhkan talenta yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan positioning dan diferensiasi dalam skala global.
“Insyinyur hari ini harus memahami makna perubahan dan mampu membaca lanskap strategis, bukan sekadar menjalankan proyek,” ujarnya.
Sementara itu, Putut Panji Utomo, Sekretaris Umum IKA ITS PW Jakarta Raya sekaligus juga Steering Committee YLC 8, menegaskan bahwa YLC dirancang sebagai akselerator kepemimpinan alumni muda. Ia melihat pentingnya kesinambungan antara integritas, kompetensi, dan jejaring. “YLC adalah ruang bertumbuh dan berkolaborasi. Di sinilah nilai CIEL dan PDB diterjemahkan menjadi praktik nyata,” katanya.
Ketua IKA ITS Jakarta Raya, Kusdi Widodo menyampaikan terima kasih kepada Hermawan Kartajaya, Alumni Kehormatan IKA ITS dan pendiri MarkPlus Inc., atas kesediaannya berbagi ilmu sekaligus menyediakan tempat dan hospitality bagi penyelenggaraan kegiatan.
YLC 8 Session 1 ini, Apresiasi juga diberikan kepada Muhammad Fauzan dan PT Hutama Karya atas kontribusi pemikiran dan dukungan terhadap pengembangan kepemimpinan generasi muda. Kolaborasi antara praktisi pemasaran strategis dan pemimpin BUMN konstruksi itu mencerminkan sinergi dunia bisnis, industri, dan komunitas alumni.
Dalam sesi utama bertajuk “From Engineer to Value Creator: Personal Branding & Leadership in the Age of AI”, pakar pemasaran Hermawan Kartajaya menjelaskan bahwa masa depan adalah milik mereka yang berbeda dan relevan. “Anda tidak perlu menjadi seseorang yang lebih baik, tidak perlu menjadi yang terbaik. Anda cukup menjadi seseorang yang berbeda,” ujarnya, dikutip Senin (16/2/2026).
Baca juga: Deretan Prodi Baru UI, ITB, IPB, Unpad, dan ITS di SNBP 2026, Peluang Lolos Lebih Besar
Menurut Hermawan, stagnasi banyak usaha kecil bukan disebabkan kurangnya modal, melainkan ketiadaan mental entrepreneur. Seorang entrepreneur, katanya, memiliki tiga karakter utama: mampu melihat peluang, berani mengambil risiko, dan aktif membangun kolaborasi.
Dalam kerangka entrepreneurial marketing, ia memperkenalkan dua simbol penting: PIPM (Productivity, Improvement, Professionalism, Management) dan CIEL (Creativity, Innovation, Entrepreneur, Leadership). Jika PIPM adalah fondasi manajerial, maka CIEL adalah jiwa kepemimpinan berbasis kreativitas dan inovasi.
Lebih jauh, Hermawan memaparkan konsep PDB, Positioning, Differentiation, Branding—sebagai inti manajemen modern. Dalam customer management, perusahaan harus cermat melakukan segmentasi, targeting, dan positioning. Dalam product management, diferensiasi dibangun lewat nilai (content), cara penyampaian (context), dan dukungan sistem (infrastructure).
Baca juga: PLTN Pertama Indonesia Disiapkan, ITPLN dan ITS Fokus Bangun SDM Nuklir Nasional
Sementara dalam brand management, pengalaman pelanggan menjadi penentu, mulai dari identitas merek hingga proses layanan yang konsisten. Di tengah lima pendorong perubahan, teknologi, politik/hukum, ekonomi, sosial-budaya, dan pasar, kemampuan membaca perubahan menjadi kunci.
Kerangka 4C Diamond (Change, Customer, Competitor, Company) ditawarkan sebagai kompas strategis agar organisasi tidak reaktif, melainkan adaptif.
Integritas dan 10 Tahun Pertama
Sesi berikutnya menghadirkan Muhammad Fauzan, Direktur Human Capital & Legal PT Hutama Karya, sekaligus Wakil Ketua Umum/ Ketua Harian PP IKA ITS yang menekankan pentingnya dekade pertama karier. Tema “Winning the First 10 Years: Talent, Integrity & Leadership Readiness” menggarisbawahi bahwa reputasi profesional dibangun dari integritas dan konsistensi.
Di sektor infrastruktur yang kompleks dan sarat risiko, integritas bukan sekadar nilai moral, melainkan fondasi keberlanjutan organisasi. Talenta tanpa integritas akan rapuh; integritas tanpa kompetensi tak akan cukup.
Dzulfikar Arifuddin, Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya sekaligus Steering Committee YLC 8, menekankan bahwa transformasi engineer menjadi value creator harus dibingkai dalam perspektif kebangsaan. Menurutnya, tantangan Indonesia, mulai dari hilirisasi industri, transisi energi, hingga digitalisasi, membutuhkan talenta yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan positioning dan diferensiasi dalam skala global.
“Insyinyur hari ini harus memahami makna perubahan dan mampu membaca lanskap strategis, bukan sekadar menjalankan proyek,” ujarnya.
Sementara itu, Putut Panji Utomo, Sekretaris Umum IKA ITS PW Jakarta Raya sekaligus juga Steering Committee YLC 8, menegaskan bahwa YLC dirancang sebagai akselerator kepemimpinan alumni muda. Ia melihat pentingnya kesinambungan antara integritas, kompetensi, dan jejaring. “YLC adalah ruang bertumbuh dan berkolaborasi. Di sinilah nilai CIEL dan PDB diterjemahkan menjadi praktik nyata,” katanya.
Ketua IKA ITS Jakarta Raya, Kusdi Widodo menyampaikan terima kasih kepada Hermawan Kartajaya, Alumni Kehormatan IKA ITS dan pendiri MarkPlus Inc., atas kesediaannya berbagi ilmu sekaligus menyediakan tempat dan hospitality bagi penyelenggaraan kegiatan.
YLC 8 Session 1 ini, Apresiasi juga diberikan kepada Muhammad Fauzan dan PT Hutama Karya atas kontribusi pemikiran dan dukungan terhadap pengembangan kepemimpinan generasi muda. Kolaborasi antara praktisi pemasaran strategis dan pemimpin BUMN konstruksi itu mencerminkan sinergi dunia bisnis, industri, dan komunitas alumni.
(shf)
Lihat Juga :