Kali Ciliwung Meluap, Ratusan Rumah di Pejaten Timur Terendam Banjir
Sabtu, 24 Januari 2026 - 10:31 WIB
loading...
Ratusan rumah warga di kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kembali terendam banjir pada Sabtu (24/1/2026) pagi. Foto/Dok IMG
A
A
A
JAKARTA - Ratusan rumah warga di kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kembali terendam banjir pada Sabtu (24/1/2026) pagi. Banjir ini disebabkan meluapnya debit air Kali Ciliwung akibat kiriman air dari hulu.
Kondisi terparah terpantau di permukiman warga yang berlokasi di Jalan Gang Buntu, RT 05 RW 08, Pejaten Timur. Di titik terdalam, ketinggian air dilaporkan mencapai kurang lebih satu meter.
"Untuk saat ke pagi hari ini pukul 08.16 WIB ini ketinggian masih di 130 sampai dengan 135 CM untuk di titik tertingginya," ungkap Petugas Satgas BPBD DKI Jakarta Kendar, Sabtu (24/1/2026).
Baca Juga: BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Sukses Tekan Intensitas Hujan Jabodetabek hingga 39,57 Persen
Bahkan, kata Kendar, pada Jumat (23/1/2026) malam ketinggian air mencapai 2 meter. Sehingga, sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang aman.
"Untuk sementara dari kemarin kita standby di sini dan semalam sempat melakukan evakuasi warga di RT 17 RW 5 itu, ada empat KK yang dievakuasi karena memang ketinggiannya itu semalam cukup tinggi, sampai dengan di angka 210 cm," ujarnya.
Kendar pun mengonfirmasi bahwa luapan air mulai masuk ke permukiman warga setelah kawasan hulu di Bogor, Jawa Barat, diguyur hujan deras. Namun, ia memastikan bahwa warga terdampak sudah melakukan langkah antisipasi.
"Sebelum banjir tiba dari hulu sungai kawasan Bogor, warga yang terdampak sudah mengungsi terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman," ujar Kendar.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah berupaya menekan intensitas hujan dengan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang dikenal sebagai UMC. Langkah ini telah dilakukan selama sepekan terakhir, termasuk hingga hari ini di wilayah Selat Sunda, guna memecah awan hujan agar tidak masuk secara ekstrem ke wilayah Jakarta.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah petugas SAR gabungan masih bersiaga di lokasi banjir. Petugas terus memantau pergerakan debit air dan memastikan keamanan warga yang masih berada di sekitar lokasi.
Meskipun sebagian warga sudah mengungsi, petugas tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Sementara, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut penanganan persoalan banjir di Jakarta membutuhkan solusi jangka panjang.
"Memang ini harus dikerjakan secara panjang, tidak bisa dalam waktu lima tahun," kata Rano, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Menurut Rano, upaya teknis di lapangan telah dilakukan, salah satunya di kawasan Perumahan Taman Kota, Kelurahan Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat. Seluruh pompa stasioner di dua rumah pompa (Rupom) di sekitar lokasi telah dioperasikan. Namun, genangan tetap sulit surut karena debit air Kali Mokevart sedang tinggi.
"Bila diterjunkan pompa mobile pun tidak akan banyak berpengaruh, terhadap upaya pengentasan genangan," tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di satu lokasi. Sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan lain juga mengalami genangan karena saluran makro sebagai muara air sudah penuh.
Rano menilai, salah satu langkah mendasar yang perlu dilakukan adalah normalisasi kali yang mengalami penyempitan. Ia mencontohkan Kali Krukut yang sebelumnya memiliki lebar sekitar 20 meter, kini menyempit hingga tersisa sekitar tiga meter.
"Untuk bisa melakukan normalisasi, tantangan terbesarnya adalah menyosialisasikan ke masyarakat yang tinggal di bantaran kali," kata Rano.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan opsi relokasi warga bantaran kali ke rumah susun (rusun). Namun, Rano mengakui tidak seluruh warga bersedia pindah dari tempat tinggalnya saat ini.
"Maka itu kami turun. Seperti tadi kita diskusi, ada kebutuhan yang harus dilakukan, ya itu kita evaluasi," tandasnya.
Kondisi terparah terpantau di permukiman warga yang berlokasi di Jalan Gang Buntu, RT 05 RW 08, Pejaten Timur. Di titik terdalam, ketinggian air dilaporkan mencapai kurang lebih satu meter.
"Untuk saat ke pagi hari ini pukul 08.16 WIB ini ketinggian masih di 130 sampai dengan 135 CM untuk di titik tertingginya," ungkap Petugas Satgas BPBD DKI Jakarta Kendar, Sabtu (24/1/2026).
Baca Juga: BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Sukses Tekan Intensitas Hujan Jabodetabek hingga 39,57 Persen
Bahkan, kata Kendar, pada Jumat (23/1/2026) malam ketinggian air mencapai 2 meter. Sehingga, sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang aman.
"Untuk sementara dari kemarin kita standby di sini dan semalam sempat melakukan evakuasi warga di RT 17 RW 5 itu, ada empat KK yang dievakuasi karena memang ketinggiannya itu semalam cukup tinggi, sampai dengan di angka 210 cm," ujarnya.
Kendar pun mengonfirmasi bahwa luapan air mulai masuk ke permukiman warga setelah kawasan hulu di Bogor, Jawa Barat, diguyur hujan deras. Namun, ia memastikan bahwa warga terdampak sudah melakukan langkah antisipasi.
"Sebelum banjir tiba dari hulu sungai kawasan Bogor, warga yang terdampak sudah mengungsi terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman," ujar Kendar.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah berupaya menekan intensitas hujan dengan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang dikenal sebagai UMC. Langkah ini telah dilakukan selama sepekan terakhir, termasuk hingga hari ini di wilayah Selat Sunda, guna memecah awan hujan agar tidak masuk secara ekstrem ke wilayah Jakarta.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah petugas SAR gabungan masih bersiaga di lokasi banjir. Petugas terus memantau pergerakan debit air dan memastikan keamanan warga yang masih berada di sekitar lokasi.
Meskipun sebagian warga sudah mengungsi, petugas tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Solusi Jangka Panjang
Sementara, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut penanganan persoalan banjir di Jakarta membutuhkan solusi jangka panjang.
"Memang ini harus dikerjakan secara panjang, tidak bisa dalam waktu lima tahun," kata Rano, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Menurut Rano, upaya teknis di lapangan telah dilakukan, salah satunya di kawasan Perumahan Taman Kota, Kelurahan Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat. Seluruh pompa stasioner di dua rumah pompa (Rupom) di sekitar lokasi telah dioperasikan. Namun, genangan tetap sulit surut karena debit air Kali Mokevart sedang tinggi.
"Bila diterjunkan pompa mobile pun tidak akan banyak berpengaruh, terhadap upaya pengentasan genangan," tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di satu lokasi. Sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan lain juga mengalami genangan karena saluran makro sebagai muara air sudah penuh.
Rano menilai, salah satu langkah mendasar yang perlu dilakukan adalah normalisasi kali yang mengalami penyempitan. Ia mencontohkan Kali Krukut yang sebelumnya memiliki lebar sekitar 20 meter, kini menyempit hingga tersisa sekitar tiga meter.
"Untuk bisa melakukan normalisasi, tantangan terbesarnya adalah menyosialisasikan ke masyarakat yang tinggal di bantaran kali," kata Rano.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan opsi relokasi warga bantaran kali ke rumah susun (rusun). Namun, Rano mengakui tidak seluruh warga bersedia pindah dari tempat tinggalnya saat ini.
"Maka itu kami turun. Seperti tadi kita diskusi, ada kebutuhan yang harus dilakukan, ya itu kita evaluasi," tandasnya.
(zik)
Lihat Juga :