Pemerhati Jakarta Sebut Biaya Bongkar Tiang Monorel Hanya Rp300 Juta
Minggu, 11 Januari 2026 - 15:08 WIB
loading...
Pemprov DKI Jakarta bakal membongkar tiang monorel di Jalan Rasuna Said. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerhati Jakarta Sugiyanto (SGY) menyebut biaya membongkar tiang monorel sebesar Rp300 juta. Hal itu meluruskan adanya kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait biaya pembongkaran tiang monorel di sepanjang Jalan HR. Rasuna Said.
Dia menegaskan, angka Rp100 miliar yang selama ini ramai diberitakan bukanlah biaya khusus untuk pembongkaran 109 tiang monorel, melainkan estimasi total anggaran penataan kawasan secara menyeluruh.
"Terjadi mispersepsi di masyarakat. Seolah-olah biaya pembongkaran 109 tiang monorel mencapai Rp100 miliar. Padahal, angka itu merupakan estimasi total biaya penataan kawasan Jalan HR. Rasuna Said secara terpadu, bukan hanya pembongkaran tiang," katanya, Minggu (11/1/2026).
Baca juga: Tiang Monorel Mangkrak, Pramono: Kalau Adhi Karya Tak Bisa Bongkar, Kami yang Eksekusi
Menurut dia, jika dihitung secara rasional dengan mengacu pada harga satuan pembongkaran beton yang lazim digunakan dalam dunia konstruksi, biaya pembongkaran fisik tiang monorel justru berada pada kisaran ratusan juta rupiah, bukan puluhan miliar.
Dia menjelaskan, harga satuan pembongkaran beton umumnya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp600.000 per meter kubik. Sementara jumlah tiang monorel di Jalan HR. Rasuna Said tercatat sebanyak 109 tiang, dengan estimasi volume masing-masing tiang sekitar 3 hingga 5 meter kubik.
Menurut dia, jika dihitung total volume pembongkaran berada di kisaran 300 sampai 500 meter kubik. Dengan harga satuan Rp400.000 per meter kubik, biayanya sekitar Rp120 juta sampai Rp200 juta.
Baca juga: Tiang Monorel Mangkrak Dibongkar Awal 2026, Pramono Ngaku Tak Bisa Tidur dan Bermimpi
"Jika memakai harga tertinggi Rp600.000 per meter kubik, biayanya sekitar Rp180 juta sampai Rp300 juta. Jadi, secara logika teknis, pembongkaran 109 tiang monorel hanya memerlukan sekitar Rp300 juta," bebernya.
Dia menambahkan, dengan asumsi tertinggi sekalipun, yakni volume 500 meter kubik dan harga Rp600.000 per meter kubik, total biaya pembongkaran tetap tidak akan melebihi Rp300 juta.
"Ini perhitungan sederhana yang bisa diverifikasi melalui berbagai referensi biaya konstruksi yang tersedia secara terbuka. Jadi, tidak benar kalau pembongkaran tiang monorel saja disebut menelan biaya Rp100 miliar,' tegasnya.
Lihat video: Kondisi Tiang Monorel di Jalan Rasuna Said, Akan Dibongkar Pekan Ketiga Januari?
Dia menilai, kesalahpahaman ini muncul karena banyak masyarakat hanya membaca judul berita tanpa mencermati isi secara utuh. Padahal, dalam pemberitaan sebenarnya telah dijelaskan bahwa angka Rp100 miliar merupakan estimasi total biaya untuk penataan kawasan, yang mencakup pembongkaran tiang monorel, penataan trotoar, serta perbaikan dan penataan badan jalan.
"Judul berita sering kali menyebut angka Rp100 miliar dan dikaitkan langsung dengan pembongkaran tiang monorel. Padahal, di dalam isi beritanya dijelaskan bahwa itu adalah satu paket pekerjaan penataan kawasan. Ini yang kemudian menimbulkan persepsi keliru di masyarakat," ungkapnya.
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) ini juga merujuk pada pernyataan Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo yang memastikan proyek tersebut merupakan bagian dari penataan menyeluruh koridor Jalan HR. Rasuna Said agar kawasan menjadi lebih rapi, tertata, dan fungsional.
"Artinya, anggaran sekitar Rp100 miliar itu masuk akal karena digunakan untuk banyak pekerjaan sekaligus. Pembongkaran tiang monorel hanya sebagian kecil saja, sisanya untuk penataan trotoar dan badan jalan," ucapnya.
Dia memaparkan, penataan trotoar biasanya meliputi peningkatan kualitas permukaan agar lebih aman dan nyaman, penyediaan jalur disabilitas, ramp, jalur pemandu tunanetra, serta penataan fasilitas pendukung seperti lampu penerangan, tempat duduk, tempat sampah, rambu, dan penghijauan. Selain itu, penataan juga mencakup perbaikan drainase serta penataan utilitas agar lebih rapi dan terintegrasi.
Sementara itu, pekerjaan badan jalan mencakup perbaikan perkerasan, penambalan lubang, perataan permukaan, penguatan struktur jalan, penataan marka dan rambu lalu lintas, drainase, hingga rekayasa lalu lintas untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran kendaraan.
"Kalau seluruh pekerjaan itu digabungkan dalam satu paket penataan kawasan, maka estimasi Rp100 miliar menjadi logis dan relevan. Bukan hanya untuk merobohkan tiang monorel," jelasnya.
Sebagai warga Jakarta, dia mengaku mendukung penuh kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam menata kota, termasuk pembongkaran tiang monorel yang telah lama mangkrak.
"Saya merasa perlu meluruskan persoalan ini agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jangan sampai kesalahpahaman ini dimanfaatkan untuk merusak citra pemerintah yang sedang serius membenahi Jakarta," pungkas SGY.
Dia berharap masyarakat dapat memahami secara utuh bahwa estimasi Rp100 miliar adalah anggaran penataan kawasan Jalan HR. Rasuna Said secara menyeluruh, bukan semata-mata biaya pembongkaran tiang monorel.
"Pembongkaran tiangnya hanya sekitar Rp300 juta. Selebihnya untuk menata trotoar dan badan jalan agar kawasan HR. Rasuna Said menjadi lebih tertib, manusiawi, dan berkelanjutan," katanya.
Dia menegaskan, angka Rp100 miliar yang selama ini ramai diberitakan bukanlah biaya khusus untuk pembongkaran 109 tiang monorel, melainkan estimasi total anggaran penataan kawasan secara menyeluruh.
"Terjadi mispersepsi di masyarakat. Seolah-olah biaya pembongkaran 109 tiang monorel mencapai Rp100 miliar. Padahal, angka itu merupakan estimasi total biaya penataan kawasan Jalan HR. Rasuna Said secara terpadu, bukan hanya pembongkaran tiang," katanya, Minggu (11/1/2026).
Baca juga: Tiang Monorel Mangkrak, Pramono: Kalau Adhi Karya Tak Bisa Bongkar, Kami yang Eksekusi
Menurut dia, jika dihitung secara rasional dengan mengacu pada harga satuan pembongkaran beton yang lazim digunakan dalam dunia konstruksi, biaya pembongkaran fisik tiang monorel justru berada pada kisaran ratusan juta rupiah, bukan puluhan miliar.
Dia menjelaskan, harga satuan pembongkaran beton umumnya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp600.000 per meter kubik. Sementara jumlah tiang monorel di Jalan HR. Rasuna Said tercatat sebanyak 109 tiang, dengan estimasi volume masing-masing tiang sekitar 3 hingga 5 meter kubik.
Menurut dia, jika dihitung total volume pembongkaran berada di kisaran 300 sampai 500 meter kubik. Dengan harga satuan Rp400.000 per meter kubik, biayanya sekitar Rp120 juta sampai Rp200 juta.
Baca juga: Tiang Monorel Mangkrak Dibongkar Awal 2026, Pramono Ngaku Tak Bisa Tidur dan Bermimpi
"Jika memakai harga tertinggi Rp600.000 per meter kubik, biayanya sekitar Rp180 juta sampai Rp300 juta. Jadi, secara logika teknis, pembongkaran 109 tiang monorel hanya memerlukan sekitar Rp300 juta," bebernya.
Dia menambahkan, dengan asumsi tertinggi sekalipun, yakni volume 500 meter kubik dan harga Rp600.000 per meter kubik, total biaya pembongkaran tetap tidak akan melebihi Rp300 juta.
"Ini perhitungan sederhana yang bisa diverifikasi melalui berbagai referensi biaya konstruksi yang tersedia secara terbuka. Jadi, tidak benar kalau pembongkaran tiang monorel saja disebut menelan biaya Rp100 miliar,' tegasnya.
Lihat video: Kondisi Tiang Monorel di Jalan Rasuna Said, Akan Dibongkar Pekan Ketiga Januari?
Dia menilai, kesalahpahaman ini muncul karena banyak masyarakat hanya membaca judul berita tanpa mencermati isi secara utuh. Padahal, dalam pemberitaan sebenarnya telah dijelaskan bahwa angka Rp100 miliar merupakan estimasi total biaya untuk penataan kawasan, yang mencakup pembongkaran tiang monorel, penataan trotoar, serta perbaikan dan penataan badan jalan.
"Judul berita sering kali menyebut angka Rp100 miliar dan dikaitkan langsung dengan pembongkaran tiang monorel. Padahal, di dalam isi beritanya dijelaskan bahwa itu adalah satu paket pekerjaan penataan kawasan. Ini yang kemudian menimbulkan persepsi keliru di masyarakat," ungkapnya.
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) ini juga merujuk pada pernyataan Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo yang memastikan proyek tersebut merupakan bagian dari penataan menyeluruh koridor Jalan HR. Rasuna Said agar kawasan menjadi lebih rapi, tertata, dan fungsional.
"Artinya, anggaran sekitar Rp100 miliar itu masuk akal karena digunakan untuk banyak pekerjaan sekaligus. Pembongkaran tiang monorel hanya sebagian kecil saja, sisanya untuk penataan trotoar dan badan jalan," ucapnya.
Dia memaparkan, penataan trotoar biasanya meliputi peningkatan kualitas permukaan agar lebih aman dan nyaman, penyediaan jalur disabilitas, ramp, jalur pemandu tunanetra, serta penataan fasilitas pendukung seperti lampu penerangan, tempat duduk, tempat sampah, rambu, dan penghijauan. Selain itu, penataan juga mencakup perbaikan drainase serta penataan utilitas agar lebih rapi dan terintegrasi.
Sementara itu, pekerjaan badan jalan mencakup perbaikan perkerasan, penambalan lubang, perataan permukaan, penguatan struktur jalan, penataan marka dan rambu lalu lintas, drainase, hingga rekayasa lalu lintas untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran kendaraan.
"Kalau seluruh pekerjaan itu digabungkan dalam satu paket penataan kawasan, maka estimasi Rp100 miliar menjadi logis dan relevan. Bukan hanya untuk merobohkan tiang monorel," jelasnya.
Sebagai warga Jakarta, dia mengaku mendukung penuh kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam menata kota, termasuk pembongkaran tiang monorel yang telah lama mangkrak.
"Saya merasa perlu meluruskan persoalan ini agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jangan sampai kesalahpahaman ini dimanfaatkan untuk merusak citra pemerintah yang sedang serius membenahi Jakarta," pungkas SGY.
Dia berharap masyarakat dapat memahami secara utuh bahwa estimasi Rp100 miliar adalah anggaran penataan kawasan Jalan HR. Rasuna Said secara menyeluruh, bukan semata-mata biaya pembongkaran tiang monorel.
"Pembongkaran tiangnya hanya sekitar Rp300 juta. Selebihnya untuk menata trotoar dan badan jalan agar kawasan HR. Rasuna Said menjadi lebih tertib, manusiawi, dan berkelanjutan," katanya.
(cip)
Lihat Juga :