Jelang Semester Baru, Pembersihan Sekolah Pascabencana di Pidie Jaya hingga Aceh Tamiang Dikebut
Minggu, 04 Januari 2026 - 16:45 WIB
loading...
Proses pembersihan sekolah-sekolah terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, hingga Aceh Tamiang dikebut jelang semester baru yang dimulai pada 5 Januari 2026. Foto: Ist
A
A
A
ACEH TAMIANG - Proses pembersihan sekolah-sekolah terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, hingga Aceh Tamiang dikebut jelang semester baru yang dimulai pada 5 Januari 2026. Personel TNI AD terus bergerak ke berbagai titik agar anak-anak bisa kembali ke sekolah .
Sejak Sabtu (3/1/2026) personel TNI membersihkan MIN 29 Aceh Utara, MIN 21 Aceh Utara, SMAN 1 Baktiya, SMPN 1 Lapang, SDN 19 Jambo Aye, TK Pelangi, dan SDN 7 Kuala Simpang.
Baca juga: Pascabencana, Sekolah di Aceh Utara Kembali Beraktivitas Awal Januari 2026
Kemudian, TK Quratul Aqyun, PAUD Nurul Ikhlas, SDN Grong-Grong, SDN Ketibung, Pondok Dayah Asasul Huda, dan SDN 8 Meureudu. Lalu, MIN 2 Meurah Dua, MTs Meurah Dua, SMPN 5 Kejuruan Muda, SDN Simpang Kiri, TK Al Fatih, dan MIS Al Amin.
Di SDN 7 Kuala Simpang, proses pembersihan sudah signifikan. Lantai kelas sudah bersih dari lumpur, rak-rak juga mulai ditata. Sementara itu, di MIN 2 Meurah Dua, lumpur masih terlihat menumpuk di halaman sekolah, bangku-bangku juga masih ada di luar kelas. Alat berat berupa eskavator bahkan diturunkan ke MIN 2 Meurah Dua.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno telah menyampaikan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana tetap akan dimulai pada 5 Januari 2026. Pemerintah menyiapkan tenda darurat sebagai ruang kelas sementara untuk sekolah rusak berat.
Berdasarkan data pemerintah, terdapat 3.700 sekolah terdampak bencana di Sumatera, dengan 3.100 di antaranya mengalami kerusakan berat. Fokus utama pemerintah saat ini melakukan percepatan pembersihan sekolah yang masih tertimbun material sisa bencana.
Pemerintah juga menyiapkan tiga skenario kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswa dan guru di sekolah terdampak bencana. Tiga skenario itu dibagi berdasarkan waktu yaitu masa tanggap darurat (0-3 bulan), masa tansisi (3-12 bulan), dan masa pemulihan (1-3 tahun).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menambahkan metode pembelajaran akan sangat adaptif terhadap kondisi di lapangan. “Metode pembelajaran bersifat fleksibel dan adaptif, termasuk pengembangan bahan belajar darurat,” katanya di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Sejak Sabtu (3/1/2026) personel TNI membersihkan MIN 29 Aceh Utara, MIN 21 Aceh Utara, SMAN 1 Baktiya, SMPN 1 Lapang, SDN 19 Jambo Aye, TK Pelangi, dan SDN 7 Kuala Simpang.
Baca juga: Pascabencana, Sekolah di Aceh Utara Kembali Beraktivitas Awal Januari 2026
Kemudian, TK Quratul Aqyun, PAUD Nurul Ikhlas, SDN Grong-Grong, SDN Ketibung, Pondok Dayah Asasul Huda, dan SDN 8 Meureudu. Lalu, MIN 2 Meurah Dua, MTs Meurah Dua, SMPN 5 Kejuruan Muda, SDN Simpang Kiri, TK Al Fatih, dan MIS Al Amin.
Di SDN 7 Kuala Simpang, proses pembersihan sudah signifikan. Lantai kelas sudah bersih dari lumpur, rak-rak juga mulai ditata. Sementara itu, di MIN 2 Meurah Dua, lumpur masih terlihat menumpuk di halaman sekolah, bangku-bangku juga masih ada di luar kelas. Alat berat berupa eskavator bahkan diturunkan ke MIN 2 Meurah Dua.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno telah menyampaikan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana tetap akan dimulai pada 5 Januari 2026. Pemerintah menyiapkan tenda darurat sebagai ruang kelas sementara untuk sekolah rusak berat.
Berdasarkan data pemerintah, terdapat 3.700 sekolah terdampak bencana di Sumatera, dengan 3.100 di antaranya mengalami kerusakan berat. Fokus utama pemerintah saat ini melakukan percepatan pembersihan sekolah yang masih tertimbun material sisa bencana.
Pemerintah juga menyiapkan tiga skenario kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswa dan guru di sekolah terdampak bencana. Tiga skenario itu dibagi berdasarkan waktu yaitu masa tanggap darurat (0-3 bulan), masa tansisi (3-12 bulan), dan masa pemulihan (1-3 tahun).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menambahkan metode pembelajaran akan sangat adaptif terhadap kondisi di lapangan. “Metode pembelajaran bersifat fleksibel dan adaptif, termasuk pengembangan bahan belajar darurat,” katanya di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
(jon)
Lihat Juga :