Bantu Korban Banjir di Aceh, PINTI Gelar Pengobatan Gratis dan Aksi Hibur Anak
Senin, 29 Desember 2025 - 22:02 WIB
loading...
Perempuan Indonesia Tionghoa (PINTI) menjalankan misi kemanusiaan membantu masyarakat korban banjir di Pidie Jaya, Aceh dengan menggelar pengobatan gratis. Foto/Ist
A
A
A
PIDIE JAYA - Perempuan Indonesia Tionghoa (PINTI) kembali turun ke lapangan untuk menjalankan misi kemanusiaa n membantu sesama yang membutuhkan di berbagai wilayah Indonesia. Kali ini, mereka hadir menunjukkan kepedulian nyata bagi masyarakat terdampak banjir di Aceh dengan menyelenggarakan kegiatan bakti sosial (baksos) berupa pengobatan gratis.
Layanan kesehatan gratis bagi para korban banjir ini dilaksanakan pada 26-29 Desember 2025 yang terpusat di dua lokasi pengungsian, yakni di Desa Meunasah Kuta Trieng dan Desa Buangan, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Aceh Hujan Sangat Lebat pada 31 Desember 2025
Di Desa Meunasah Kuta Trieng, tim medis melayani lebih dari 300 pasien. Sementara di Desa Buangan, pelayan kesehatan gratis diberikan kepada 250 warga korban banjir.
Para korban banjir merasa sangat terbantu dengan kehadiran layanan kesehatan gratis dari PINTI di tengah situasi sulit yang mereka hadapi. Apalagi bagi warga yang kehilangan harta benda dan akses mobilitas, pengobatan gratis tersebut menjadi tumpuan harapan.
Dalam kegiatan ini, keluhan kesehatan yang paling mendominasi adalah penyakit kulit akibat kontak langsung dengan air kotor dalam waktu lama.
Selain itu, banyak warga terutama anak-anak, mengeluhkan gejala diare karena sulitnya akses air bersih, serta demam akibat kelelahan dan menurunnya daya tahan tubuh saat berada di pengungsian.
Baca juga: Prabowo Minta Pengurusan Dokumen yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Gratis
Pengobatan gratis dipimpin langsung Ketua Umum PINTI Pusat dr Metta Agustina MARS, Sp KKLP,dan dibantu oleh 10 orang dokter dan nakes dari Kabupaten Banda Aceh dan Sigli.
Kegiatan baksos ini juga dihadiri Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Pusat Teddy Sugianto, Sekjen Candra Jap, Waketum Anna Hartawan, Pembina PINTI Lisa Tanjung, Wakil Ketua PINTI Lindawaty, serta pengurus dari Marga Hwang Indonesia.
"Di tengah sulitnya akses kesehatan akibat bencana, kami berharap bantuan medis ini dapat meringankan beban fisik serta memberikan ketenangan batin bagi para korban," kata dr Metta Agustina kepada wartawan, Senin (29/12/2025).
"Mari kita satukan doa dan upaya agar kesehatan mereka segera pulih, sehingga semangat untuk bangkit kembali menata kehidupan dapat terus menyala. Kesembuhan mereka adalah kebahagiaan kita semua," tuturnya.
Selain memberikan pengobat gratis, para relawan juga melakukan kegiatantrauma healing bagi anak-anak korban banjir. Relawan hadir membawa keceriaan dengan metode mendongeng dan bernyanyi bersama para penyintas cilik.
Sebagai penutup yang manis, relawan PINTI membagikan paket makanan ringan (snack) kepada anak-anak penyintas.
Senyum lebar terpancar saat tangan-tangan kecil itu menerima bingkisan, memberikan sedikit kebahagiaan di tengah masa sulit.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan langkah penting untuk memulihkan keceriaan dan kesehatan mental anak-anak di pengungsian pasca-bencana banjir.
"Setiap bantuan yang disalurkan bukan sekadar materi, melainkan bentuk solidaritas nyata bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ujian ini. Bersama, kita pulihkan senyum mereka," tutup dr Metta Agustina.
Layanan kesehatan gratis bagi para korban banjir ini dilaksanakan pada 26-29 Desember 2025 yang terpusat di dua lokasi pengungsian, yakni di Desa Meunasah Kuta Trieng dan Desa Buangan, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Aceh Hujan Sangat Lebat pada 31 Desember 2025
Di Desa Meunasah Kuta Trieng, tim medis melayani lebih dari 300 pasien. Sementara di Desa Buangan, pelayan kesehatan gratis diberikan kepada 250 warga korban banjir.
Para korban banjir merasa sangat terbantu dengan kehadiran layanan kesehatan gratis dari PINTI di tengah situasi sulit yang mereka hadapi. Apalagi bagi warga yang kehilangan harta benda dan akses mobilitas, pengobatan gratis tersebut menjadi tumpuan harapan.
Dalam kegiatan ini, keluhan kesehatan yang paling mendominasi adalah penyakit kulit akibat kontak langsung dengan air kotor dalam waktu lama.
Selain itu, banyak warga terutama anak-anak, mengeluhkan gejala diare karena sulitnya akses air bersih, serta demam akibat kelelahan dan menurunnya daya tahan tubuh saat berada di pengungsian.
Baca juga: Prabowo Minta Pengurusan Dokumen yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Gratis
Pengobatan gratis dipimpin langsung Ketua Umum PINTI Pusat dr Metta Agustina MARS, Sp KKLP,dan dibantu oleh 10 orang dokter dan nakes dari Kabupaten Banda Aceh dan Sigli.
Kegiatan baksos ini juga dihadiri Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Pusat Teddy Sugianto, Sekjen Candra Jap, Waketum Anna Hartawan, Pembina PINTI Lisa Tanjung, Wakil Ketua PINTI Lindawaty, serta pengurus dari Marga Hwang Indonesia.
"Di tengah sulitnya akses kesehatan akibat bencana, kami berharap bantuan medis ini dapat meringankan beban fisik serta memberikan ketenangan batin bagi para korban," kata dr Metta Agustina kepada wartawan, Senin (29/12/2025).
"Mari kita satukan doa dan upaya agar kesehatan mereka segera pulih, sehingga semangat untuk bangkit kembali menata kehidupan dapat terus menyala. Kesembuhan mereka adalah kebahagiaan kita semua," tuturnya.
Selain memberikan pengobat gratis, para relawan juga melakukan kegiatantrauma healing bagi anak-anak korban banjir. Relawan hadir membawa keceriaan dengan metode mendongeng dan bernyanyi bersama para penyintas cilik.
Sebagai penutup yang manis, relawan PINTI membagikan paket makanan ringan (snack) kepada anak-anak penyintas.
Senyum lebar terpancar saat tangan-tangan kecil itu menerima bingkisan, memberikan sedikit kebahagiaan di tengah masa sulit.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan langkah penting untuk memulihkan keceriaan dan kesehatan mental anak-anak di pengungsian pasca-bencana banjir.
"Setiap bantuan yang disalurkan bukan sekadar materi, melainkan bentuk solidaritas nyata bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ujian ini. Bersama, kita pulihkan senyum mereka," tutup dr Metta Agustina.
(shf)
Lihat Juga :