DLH Tangerang Selatan Minta Warga Bersabar: Penanganan TPA Cipeucang Terus Berjalan
Jum'at, 12 Desember 2025 - 15:45 WIB
loading...
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Foto/SindoNews
A
A
A
TANGERANG SELATAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meminta warga bersabar mengenai penanganan Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Cipeucang. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel memastikan semua langkah perbaikan terus berjalan.
Pemkot Tangsel menganggap kritik publik sebagai masukan penting dalam memperkuat kebijakan pengelolaan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel Bani Khosyatulloh mengungkapkan sejumlah pekerjaan teknis saat ini tengah diselesaikan bertahap.
Dia menuturkan bahwa penanganan tidak bisa dilakukan sekaligus karena TPA harus tetap beroperasi menerima sekitar 250 ton sampah per hari. “Kami memohon masyarakat bersabar. Ada tahapan teknis yang harus dipenuhi agar proses penataan benar-benar aman dan berkelanjutan. Perbaikan berlangsung setiap hari, tetapi tetap harus menjaga stabilitas lahan dan operasional TPA,” kata Bani di Serpong, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Detik-Detik TPA Galuga Bogor Longsor, 1 Pekerja Tewas Tertimbun
Bani mengatakan, pemkot sedang menata ulang zona aktif, memperkuat struktur tanah di area berisiko, meningkatkan kapasitas pemilahan sampah, serta menata akses operasional. Sejumlah kendala teknis dan administrasi, seperti pengujian struktur dan pengaturan alur pembuangan, juga masih membutuhkan waktu penyelesaian.
Pemkot telah membuka ruang dialog dengan berbagai komunitas lingkungan, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi terbaik bagi penataan Cipeucang. “Kami tidak tinggal diam. Penanganan dilakukan bertahap dan terukur. Kritik warga kami terima sebagai masukan. Kami hanya membutuhkan ruang untuk menyelesaikan tahapan yang sudah berjalan,” tuturnya.
DLH Tangsel pun mengajak warga mendukung pengurangan timbulan sampah melalui pemilahan rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan bank sampah. “Kami memohon dukungan warga. Tujuan kami sama dengan warga yakni menciptakan Tangsel yang lebih bersih dan pengelolaan Cipeucang yang modern,” katanya.
Pemkot Tangsel menegaskan bakal terus memperbarui perkembangan penanganan Cipeucang dan membuka ruang dialog dengan masyarakat, komunitas lingkungan, serta pemangku kepentingan terkait. Di sisi lain, Pengamat Kebijakan Publik Yanuar Wijanarko berpendapat bahwa persoalan Cipeucang memang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat.
Dia mengatakan Pemkot Tangsel sudah mengambil langkah teknis yang diperlukan, meski perlu percepatan di beberapa aspek. “Pengelolaan sampah bukan pekerjaan sederhana. Ada kendala teknis, dinamika lahan, dan kebutuhan koordinasi lintas pihak. Upaya pemerintah tidak cukup tanpa dukungan masyarakat,” ujar Yanuar.
Kendati demikian, dia meminta dalam proses mencari solusi dalam penanganan TPA Cipeucang tetap harus disertai mitigasi agar tidak memunculkan persoalan baru. Ia menyoroti keluhan sebagian warga mengenai sampah yang belum terangkut selama adanya pembatasan operasional di TPA Cipeucang.
“Penanganan Cipeucang jangan sampai menimbulkan masalah baru. Saat TPA dibatasi atau ditutup sementara, akan terjadi penumpukan di lingkungan warga bisa memicu penyakit, apalagi dalam kondisi musim hujan seperti sekarang,” ujar Yanuar.
Dia menilai prioritas pemkot saat ini harus mencakup dua sisi yakni memastikan perbaikan struktural di TPA berjalan, sekaligus menjaga pelayanan pengangkutan sampah di permukiman tetap stabil. “Keduanya harus jalan beriringan. Publik bisa menerima perbaikan bertahap asal tidak berimbas pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mendorong Pemkot Tangsel untuk terus memberikan informasi terbuka mengenai progres, skema pengalihan, serta solusi jangka pendek agar masyarakat tidak merasa dibiarkan menghadapi penumpukan sampah. Kemudian menekankan perlunya kolaborasi agar pembenahan Cipeucang berjalan berkelanjutan. “Tujuan pemerintah dan warga sama, yaitu meningkatkan kualitas layanan persampahan. Karena itu seluruh pihak perlu terlibat,” pungkasnya.
Pemkot Tangsel menganggap kritik publik sebagai masukan penting dalam memperkuat kebijakan pengelolaan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel Bani Khosyatulloh mengungkapkan sejumlah pekerjaan teknis saat ini tengah diselesaikan bertahap.
Dia menuturkan bahwa penanganan tidak bisa dilakukan sekaligus karena TPA harus tetap beroperasi menerima sekitar 250 ton sampah per hari. “Kami memohon masyarakat bersabar. Ada tahapan teknis yang harus dipenuhi agar proses penataan benar-benar aman dan berkelanjutan. Perbaikan berlangsung setiap hari, tetapi tetap harus menjaga stabilitas lahan dan operasional TPA,” kata Bani di Serpong, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Detik-Detik TPA Galuga Bogor Longsor, 1 Pekerja Tewas Tertimbun
Bani mengatakan, pemkot sedang menata ulang zona aktif, memperkuat struktur tanah di area berisiko, meningkatkan kapasitas pemilahan sampah, serta menata akses operasional. Sejumlah kendala teknis dan administrasi, seperti pengujian struktur dan pengaturan alur pembuangan, juga masih membutuhkan waktu penyelesaian.
Pemkot telah membuka ruang dialog dengan berbagai komunitas lingkungan, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi terbaik bagi penataan Cipeucang. “Kami tidak tinggal diam. Penanganan dilakukan bertahap dan terukur. Kritik warga kami terima sebagai masukan. Kami hanya membutuhkan ruang untuk menyelesaikan tahapan yang sudah berjalan,” tuturnya.
DLH Tangsel pun mengajak warga mendukung pengurangan timbulan sampah melalui pemilahan rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan bank sampah. “Kami memohon dukungan warga. Tujuan kami sama dengan warga yakni menciptakan Tangsel yang lebih bersih dan pengelolaan Cipeucang yang modern,” katanya.
Pemkot Tangsel menegaskan bakal terus memperbarui perkembangan penanganan Cipeucang dan membuka ruang dialog dengan masyarakat, komunitas lingkungan, serta pemangku kepentingan terkait. Di sisi lain, Pengamat Kebijakan Publik Yanuar Wijanarko berpendapat bahwa persoalan Cipeucang memang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat.
Dia mengatakan Pemkot Tangsel sudah mengambil langkah teknis yang diperlukan, meski perlu percepatan di beberapa aspek. “Pengelolaan sampah bukan pekerjaan sederhana. Ada kendala teknis, dinamika lahan, dan kebutuhan koordinasi lintas pihak. Upaya pemerintah tidak cukup tanpa dukungan masyarakat,” ujar Yanuar.
Kendati demikian, dia meminta dalam proses mencari solusi dalam penanganan TPA Cipeucang tetap harus disertai mitigasi agar tidak memunculkan persoalan baru. Ia menyoroti keluhan sebagian warga mengenai sampah yang belum terangkut selama adanya pembatasan operasional di TPA Cipeucang.
“Penanganan Cipeucang jangan sampai menimbulkan masalah baru. Saat TPA dibatasi atau ditutup sementara, akan terjadi penumpukan di lingkungan warga bisa memicu penyakit, apalagi dalam kondisi musim hujan seperti sekarang,” ujar Yanuar.
Dia menilai prioritas pemkot saat ini harus mencakup dua sisi yakni memastikan perbaikan struktural di TPA berjalan, sekaligus menjaga pelayanan pengangkutan sampah di permukiman tetap stabil. “Keduanya harus jalan beriringan. Publik bisa menerima perbaikan bertahap asal tidak berimbas pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mendorong Pemkot Tangsel untuk terus memberikan informasi terbuka mengenai progres, skema pengalihan, serta solusi jangka pendek agar masyarakat tidak merasa dibiarkan menghadapi penumpukan sampah. Kemudian menekankan perlunya kolaborasi agar pembenahan Cipeucang berjalan berkelanjutan. “Tujuan pemerintah dan warga sama, yaitu meningkatkan kualitas layanan persampahan. Karena itu seluruh pihak perlu terlibat,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :