Pemulihan Listrik Aceh Terbilang Cepat Meski Infrastruktur Rusak Parah dan Akses Sulit
Rabu, 10 Desember 2025 - 22:18 WIB
loading...
RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang kembali beroperasi setelah mendapat pasokan listrik. Foto/SindoNews
A
A
A
ACEH - Pemulihan pasokan listrik di wilayah bencana Aceh dinilai terbilang cepat. Padahal, kerusakan infrastruktur kelistrikan akibat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh tergolong parah karena menyentuh jaringan utama, termasuk transmisi, gardu induk, hingga pembangkit.
Akademisi sekaligus Wakil Direktur IV Politeknik Negeri Lhokseumawe, Muhammad Arifai mengatakan tantangan utama pemulihan saat ini adalah kombinasi antara kerusakan infrastruktur yang berat dan keterbatasan akses ke titik-titik terdampak.
“Tantangan terbesarnya ada pada rusaknya infrastruktur dan akses yang sulit. Namun di tengah kondisi itu, ritme pemulihannya tetap terbilang cepat,” ujar Arifai, Rabu (10/12/2025).
Baca juga: Biaya Pemulihan Bencana Sumatera Diperkirakan Rp51,82 Triliun
Arifai menjelaskan, setelah akses mulai terbuka dan perbaikan fisik dilakukan, tahapan paling krusial dalam pemulihan listrik adalah proses sinkronisasi antara pembangkit dan sistem jaringan.
“Sinkronisasi ini tidak bisa tergesa-gesa. Tegangan, frekuensi, dan fase harus benar-benar presisi. Kalau dipaksakan, risikonya bisa menimbulkan gangguan lanjutan,” tegasnya.
Sebelum sinkronisasi dilakukan, seluruh peralatan yang sempat terendam banjir harus melalui proses pengeringan, pembersihan, inspeksi, dan pengujian untuk memastikan sistem aman saat kembali dioperasikan.
Baca juga: 2 Minggu Tanpa Listrik Akibat Bencana, Perlahan Aceh Tamiang Kembali Terang
Usai sinkronisasi, langkah lanjutan dilakukan untuk menjaga keandalan sistem, seperti penyesuaian proteksi, pemantauan melalui SCADA, serta penyeimbangan beban antarwilayah agar tidak terjadi kelebihan beban.
Arifai menegaskan khusus di wilayah terdampak longsor, pekerjaan kelistrikan baru dapat dilakukan setelah kondisi tanah benar-benar stabil. “Kalau tanah belum stabil lalu jaringan langsung dipasang, risikonya rusak kembali. Karena itu pekerjaan sipil dan kelistrikan harus berjalan seiring,” katanya.
Meski pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan karena menyangkut keselamatan sistem, Arifai menilai percepatan pemulihan tetap nyata karena berbagai pekerjaan dilakukan secara paralel. “Prosesnya memang bertahap, tapi percepatannya terukur dan terlihat di lapangan,” ucapnya.
Akademisi sekaligus Wakil Direktur IV Politeknik Negeri Lhokseumawe, Muhammad Arifai mengatakan tantangan utama pemulihan saat ini adalah kombinasi antara kerusakan infrastruktur yang berat dan keterbatasan akses ke titik-titik terdampak.
“Tantangan terbesarnya ada pada rusaknya infrastruktur dan akses yang sulit. Namun di tengah kondisi itu, ritme pemulihannya tetap terbilang cepat,” ujar Arifai, Rabu (10/12/2025).
Baca juga: Biaya Pemulihan Bencana Sumatera Diperkirakan Rp51,82 Triliun
Arifai menjelaskan, setelah akses mulai terbuka dan perbaikan fisik dilakukan, tahapan paling krusial dalam pemulihan listrik adalah proses sinkronisasi antara pembangkit dan sistem jaringan.
“Sinkronisasi ini tidak bisa tergesa-gesa. Tegangan, frekuensi, dan fase harus benar-benar presisi. Kalau dipaksakan, risikonya bisa menimbulkan gangguan lanjutan,” tegasnya.
Sebelum sinkronisasi dilakukan, seluruh peralatan yang sempat terendam banjir harus melalui proses pengeringan, pembersihan, inspeksi, dan pengujian untuk memastikan sistem aman saat kembali dioperasikan.
Baca juga: 2 Minggu Tanpa Listrik Akibat Bencana, Perlahan Aceh Tamiang Kembali Terang
Usai sinkronisasi, langkah lanjutan dilakukan untuk menjaga keandalan sistem, seperti penyesuaian proteksi, pemantauan melalui SCADA, serta penyeimbangan beban antarwilayah agar tidak terjadi kelebihan beban.
Arifai menegaskan khusus di wilayah terdampak longsor, pekerjaan kelistrikan baru dapat dilakukan setelah kondisi tanah benar-benar stabil. “Kalau tanah belum stabil lalu jaringan langsung dipasang, risikonya rusak kembali. Karena itu pekerjaan sipil dan kelistrikan harus berjalan seiring,” katanya.
Meski pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan karena menyangkut keselamatan sistem, Arifai menilai percepatan pemulihan tetap nyata karena berbagai pekerjaan dilakukan secara paralel. “Prosesnya memang bertahap, tapi percepatannya terukur dan terlihat di lapangan,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :