Perkuat Ekosistem DAS, Ratusan Pohon Endemik Ditanam di Megamendung
Minggu, 07 Desember 2025 - 23:04 WIB
loading...
Penanaman pohon endemik di kawasan Eiger Adventure Land (EAL), Jalan Lembah Nendeut, Desa Sukagalih, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/12/2025). Foto/Istimewa
A
A
A
BOGOR - Upaya memperkuat ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mengurangi risiko bencana banjir dan longsor (hidrometeorologi) dalam jangka menengah dan panjang terus dilakukan. Hal itu antara lain dilakukan dengan penanaman pohon endemik di kawasan Eiger Adventure Land (EAL), Jalan Lembah Nendeut, Desa Sukagalih, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/12/2025).
Kegiatan penanaman pohon tersebut dihadiri Staf Ahli Bidang Sumber Daya Pangan, SDA, Energi dan Mutu Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Laksmi Widjayanti, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH Edy Nugroho Santoso, serta CEO Eiger Ronny Lukito.
Ronny bersyukur kegiatan tersebut berhasil menanam sekitar 350 pohon endemik lokal seperti Rasamala, Saninten, dan Puspa. "Kolaborasi dengan KLH terus memberikan kritikan, saran, dan arahan yang sangat baik. Kami sadar masih ada kekurangan, tapi kami berupaya menjaga kelestarian alam dengan maksimal," ujarnya.
Baca Juga: KLH Resmi Cabut Plang Segel 15 Usaha Wisata, Salah Satunya Eiger Adventure Land
Ronny menjelaskan, Eiger sejauh ini telah menanam 118 ribu pohon tegakan dan hampir 8 juta pohon perdu. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap perhatian Menteri Lingkungan Hidup mengenai pentingnya pengendalian runoff air. "Kami juga dibantu Prof Dr Bayuri untuk mengendalikan runoff air. Puji Tuhan, semuanya sudah kami lakukan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Pakar botani Prof Tukirin Partomihardjo menilai pengembangan Eiger Adventure Land tidak hanya berorientasi wisata, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati melalui pembangunan arboretum. "Arboretum ini nantinya akan menampung pohon-pohon langka asli Indonesia. Ekowisata bukan hanya soal berwisata, tapi juga meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang kekayaan hayati," jelasnya.
Yuli Suhartono, pakar lingkungan, mengapresiasi perencanaan penanaman yang merujuk pada prinsip the right tree, right place, and the right purpose. Menurutnya, kajian komprehensif mulai dari geologi, stabilitas lereng, hingga curah hujan, sudah dilakukan.
"Saya berdiskusi dengan Prof. Tukirin untuk vegetasinya dan dengan Pak Lubis dari BRIN untuk aspek geologinya. Dari situ kami membuat zonasi untuk menentukan pohon apa dan untuk tujuan apa," ujarnya.
Dia menegaskan, rehabilitasi lingkungan harus melihat kebutuhan lokal secara detail. "Kita tidak hanya bicara menahan air, tapi juga mencegah longsor. Dan apakah itu bisa dipenuhi atau tidak, bergantung pada situasi lokal yang sudah dipetakan."
Kegiatan penanaman pohon tersebut dihadiri Staf Ahli Bidang Sumber Daya Pangan, SDA, Energi dan Mutu Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Laksmi Widjayanti, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH Edy Nugroho Santoso, serta CEO Eiger Ronny Lukito.
Ronny bersyukur kegiatan tersebut berhasil menanam sekitar 350 pohon endemik lokal seperti Rasamala, Saninten, dan Puspa. "Kolaborasi dengan KLH terus memberikan kritikan, saran, dan arahan yang sangat baik. Kami sadar masih ada kekurangan, tapi kami berupaya menjaga kelestarian alam dengan maksimal," ujarnya.
Baca Juga: KLH Resmi Cabut Plang Segel 15 Usaha Wisata, Salah Satunya Eiger Adventure Land
Ronny menjelaskan, Eiger sejauh ini telah menanam 118 ribu pohon tegakan dan hampir 8 juta pohon perdu. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap perhatian Menteri Lingkungan Hidup mengenai pentingnya pengendalian runoff air. "Kami juga dibantu Prof Dr Bayuri untuk mengendalikan runoff air. Puji Tuhan, semuanya sudah kami lakukan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Pakar botani Prof Tukirin Partomihardjo menilai pengembangan Eiger Adventure Land tidak hanya berorientasi wisata, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati melalui pembangunan arboretum. "Arboretum ini nantinya akan menampung pohon-pohon langka asli Indonesia. Ekowisata bukan hanya soal berwisata, tapi juga meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang kekayaan hayati," jelasnya.
Yuli Suhartono, pakar lingkungan, mengapresiasi perencanaan penanaman yang merujuk pada prinsip the right tree, right place, and the right purpose. Menurutnya, kajian komprehensif mulai dari geologi, stabilitas lereng, hingga curah hujan, sudah dilakukan.
"Saya berdiskusi dengan Prof. Tukirin untuk vegetasinya dan dengan Pak Lubis dari BRIN untuk aspek geologinya. Dari situ kami membuat zonasi untuk menentukan pohon apa dan untuk tujuan apa," ujarnya.
Dia menegaskan, rehabilitasi lingkungan harus melihat kebutuhan lokal secara detail. "Kita tidak hanya bicara menahan air, tapi juga mencegah longsor. Dan apakah itu bisa dipenuhi atau tidak, bergantung pada situasi lokal yang sudah dipetakan."
(zik)
Lihat Juga :