Bangkitkan Kemandirian, Vokasi–DPIS UI Bekali Warga Binaan Perempuan Keahlian Kreatif
Selasa, 02 Desember 2025 - 16:33 WIB
loading...
Program Srikandi Mandiri dan Tangguh yang dilaksanakan Vokasi dan DPIS UI di Rutan Kelas I Depok, beberapa waktu lalu. Foto: Dok Vokasi UI
A
A
A
DEPOK - Vokasi dan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) Universitas Indonesia (UI) terus berupaya membangkitkan kemandirian warga binaan melalui pelatihan keterampilan kreatif. Pelatihan ini dikhususkna bagi tahanan perempuan agar memiliki keahlian produktif dan berdaya guna.
Kegiatan itu diwujudkan melalui Program Srikandi Mandiri dan Tangguh, sebuah inisiatif pemberdayaan yang ditujukan bagi narapidana perempuan di rumah tahanan (rutan).
Baca juga: Mendikbud: Vokasi Harus Bisa Menjadi Solusi
Ketua Tim Pengabdi Masyarakat yang juga Dosen Tetap Vokasi UI Prodi Produksi Media Rahmi Setiawati mengungkapkan nilai edukatif dari kegiatan ini adalah membangun kreativitas dan semangat kewirausahaan.
"Program ini berfokus pada peningkatan keterampilan praktis, penguatan mental, dan persiapan reintegrasi sosial-ekonomi warga binaan perempuan," ujar Rahmi, Senin (1/12/2025).
Program ini bertujuan membekali warga binaan untuk mandiri dan tangguh serta membangun komunitas demi meningkatkan perekonomian setelah bebas. Hal ini dilakukan melalui kombinasi pelatihan keterampilan berbasis pasar seperti menjahit, kerajinan tangan, rajutan dan produksi makanan ringan, workshop penguatan emosional, serta fasilitasi sertifikasi kompetensi.
"Program ini memiliki dampak langsung yaitu peningkatan kompetensi keterampilan, di mana warga binaan memiliki keahlian praktis yang relevan dengan pasar kerja seperti menjahit, merajut, souvenir, dan makanan ringan," katanya.
Dari sisi penguatan mental dan emosional, peserta menunjukkan peningkatan dalam rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan mengelola stres serta emosi.
Sedangan untuk sertifikasi dan portofolio produk, sebagian peserta mendapatkan sertifikat keterampilan dan menghasilkan karya nyata yang dapat dipamerkan atau dijual.
Menurut Rahmi, program ini dirancang melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah, UMKM lokal, dan lembaga sertifikasi. Harapannya, Srikandi Mandiri mampu menjadi model pemberdayaan narapidana perempuan yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata terhadap penurunan angka residivisme.
Program Srikandi Mandiri dan Tangguh ini telah dilaksanakan di Rutan Kelas I Depok. Kegiatan ini disambut antusias 37 warga binaan perempuan.
Mereka diberikan pelatihan membuat tas dari bahan bekas plastik. Warga binaan juga diajarkan cara menyetrika plastik hingga menjahit bahan tersebut menjadi tas yang fungsional dan menarik. Warga binaan juga diberi pelatihan membuat kalung.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga pengalaman berharga dalam mengembangkan potensi diri secara kreatif dan positif. Rahmi berharap kegiatan ini bisa berlanjut baik bagi warga binaan Rutan Kelas I Depok maupun warga binaan di rutan lainnya.
Kepala Sub Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan Rutan Kelas I Depok Risang Achmad Putra Perkasa menyambut baik kegiatan ini. Dia menyampaikan pentingnya pelatihan sebagai sarana pemberdayaan diri bagi warga binaan.
Kegiatan itu diwujudkan melalui Program Srikandi Mandiri dan Tangguh, sebuah inisiatif pemberdayaan yang ditujukan bagi narapidana perempuan di rumah tahanan (rutan).
Baca juga: Mendikbud: Vokasi Harus Bisa Menjadi Solusi
Ketua Tim Pengabdi Masyarakat yang juga Dosen Tetap Vokasi UI Prodi Produksi Media Rahmi Setiawati mengungkapkan nilai edukatif dari kegiatan ini adalah membangun kreativitas dan semangat kewirausahaan.
"Program ini berfokus pada peningkatan keterampilan praktis, penguatan mental, dan persiapan reintegrasi sosial-ekonomi warga binaan perempuan," ujar Rahmi, Senin (1/12/2025).
Program ini bertujuan membekali warga binaan untuk mandiri dan tangguh serta membangun komunitas demi meningkatkan perekonomian setelah bebas. Hal ini dilakukan melalui kombinasi pelatihan keterampilan berbasis pasar seperti menjahit, kerajinan tangan, rajutan dan produksi makanan ringan, workshop penguatan emosional, serta fasilitasi sertifikasi kompetensi.
"Program ini memiliki dampak langsung yaitu peningkatan kompetensi keterampilan, di mana warga binaan memiliki keahlian praktis yang relevan dengan pasar kerja seperti menjahit, merajut, souvenir, dan makanan ringan," katanya.
Dari sisi penguatan mental dan emosional, peserta menunjukkan peningkatan dalam rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan mengelola stres serta emosi.
Sedangan untuk sertifikasi dan portofolio produk, sebagian peserta mendapatkan sertifikat keterampilan dan menghasilkan karya nyata yang dapat dipamerkan atau dijual.
Menurut Rahmi, program ini dirancang melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah, UMKM lokal, dan lembaga sertifikasi. Harapannya, Srikandi Mandiri mampu menjadi model pemberdayaan narapidana perempuan yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata terhadap penurunan angka residivisme.
Program Srikandi Mandiri dan Tangguh ini telah dilaksanakan di Rutan Kelas I Depok. Kegiatan ini disambut antusias 37 warga binaan perempuan.
Mereka diberikan pelatihan membuat tas dari bahan bekas plastik. Warga binaan juga diajarkan cara menyetrika plastik hingga menjahit bahan tersebut menjadi tas yang fungsional dan menarik. Warga binaan juga diberi pelatihan membuat kalung.
Melalui kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga pengalaman berharga dalam mengembangkan potensi diri secara kreatif dan positif. Rahmi berharap kegiatan ini bisa berlanjut baik bagi warga binaan Rutan Kelas I Depok maupun warga binaan di rutan lainnya.
Kepala Sub Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan Rutan Kelas I Depok Risang Achmad Putra Perkasa menyambut baik kegiatan ini. Dia menyampaikan pentingnya pelatihan sebagai sarana pemberdayaan diri bagi warga binaan.
(jon)
Lihat Juga :