Jelang 1 Abad, Pesantren Cipasung Luncurkan Kampung Pangan dan Santripreneur
Sabtu, 29 November 2025 - 16:11 WIB
loading...
Jelang satu abad, Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat meluncurkan Program Cipasung Kampung Pangan dan Santripreneur. Foto/Ist
A
A
A
TASIKMALAYA - Jelang satu abad, Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat meluncurkan Program Cipasung Kampung Pangan dan Santripreneur. Peluncuran ini digelar bertepatan dengan acara 100 hari wafatnya KH Koko Komarudin Ruhiat, salah satu pengasuh pesantren dan adik tokoh nasional KH Ilyas Ruhiat pada Kamis malam, (27/11/2025).
Acara yang berlangsung di kompleks pesantren itu dihadiri ribuan santri serta jajaran keluarga besar Cipasung. Hadir pula KH Asep Saepuddin Chalim, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Irjen (Pol) Sony Sonjaya, Pimpinan dan Pengasuh Pengasuh Ponpes Cipasung KH Ubaidillah, KH Acep Adang Ruhiat, dan Khodimul Majelis Zikir dan Sholawat Cipasung KH Deni Sagara dan para Ajengan.
Baca juga: Dorong Kajian Ontologi Pendidikan, Menag: Menentukan Arah Masa Depan Pesantren
KH Asep adalah alumni Cipasung yang diasuh langsung oleh KH Ruhiat, pendiri Ponpes Cipasung. Tidak hanya itu, KH Asep juga pendiri dan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Jawa Timur, Ketua Umum PERGUNU dan Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN).
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya menghadirkan makanan sehat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Sejak dilaunching 6 Januari 2025, Program MBG kini memiliki 16.000 dapur SPPG di seluruh Indonesia, melayani 40 juta penerima manfaat dan menyerap lebih dari 700.000 tenaga kerja,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Sony menjelaskan kebutuhan bahan pangan untuk program ini terus meningkat. Harga sayuran seperti wortel, buncis, dan kacang panjang bahkan melonjak karena tingginya permintaan. Karena itu, Sony mendorong Ponpes Cipasung untuk membangun kemandirian pangan.
Baca juga: Ada Ditjen Pesantren, Wamenag: 42 Ribu Pondok Pesantren dan 11 Juta Santri Semakin Berdaya
“Jangan biarkan lahan kosong. Tanami. Bangun hidroponik. Siapkan produksi sendiri agar dapur-dapur tidak sepenuhnya bergantung pada pasar,” katanya.
Sony menyarankan agar pengembangan pangan di pesantren dipadukan dengan program santripreneur, agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu memproduksi kebutuhan masyarakat.
KH Deni Sagara menegaskan inisiatif ketahanan pangan ini mendapat respons cepat dari masyarakat sekitar. Rumah-rumah warga mulai menyiapkan kandang ayam petelur, memanfaatkan lahan kosong, hingga membangun kebun sayur hidroponik.
“Di Cihaur, ada space di atas kolam yang dijadikan kandang ayam. Satu rumah, dua rumah, mulai kelola ayam petelur dan tanaman hidroponik,” ujarnya.
Kiai Deni menyebut dukungan dari salah satu kiai Jatman Tasikmalaya, yang menyiapkan 25 hektare lahan di Sodong untuk ditanami pisang guna memenuhi kebutuhan MBG. “Program MBG bukan hanya untuk santri, tetapi juga masyarakat. Ini jadi berkah untuk semuanya,” katanya.
Sementara itu, KH Asep mengatakan peluncuran Program Kampung Pangan dan Santripreneur menjadi momentum transformasi Ponpes Cipasung menjelang usianya yang ke-100. “Dari pesantren harus lahir santri yang bukan hanya alim, tetapi juga pemimpin yang adil, dermawan, pengusaha, dan profesional di berbagai bidang. Ini tuntutan zaman,” katanya.
Program ini juga diapresiasi oleh keluarga besar Cipasung, termasuk KH Acep Adang Ruhiat dan KH Ubaidillah Ruhiat, yang secara simbolis menerima bahan pangan untuk mendukung dapur pesantren.
Kiai Asep menjelaskan, dengan program Kampung Pangan dan Santripreneur, Ponpes Cipasung menegaskan tekadnya menjadi lumbung pangan, pusat pemberdayaan ekonomi, dan pesantren yang siap melahirkan generasi santri yang unggul secara spiritual dan produktif secara ekonomi.
Kiai Asep mengajak semua santri dan semua keluarga pesantren untuk melakukan transformasi dengan gemuruh pesantren mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan, yaitu Indonesia maju adil makmur sejahtera.
”Peluncuran program ini menjadi tonggak penting bagi Cipasung menuju usia satu abad,sebuah penanda transformasi besar dari pesantren tradisional menuju pesantren mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Acara yang berlangsung di kompleks pesantren itu dihadiri ribuan santri serta jajaran keluarga besar Cipasung. Hadir pula KH Asep Saepuddin Chalim, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Irjen (Pol) Sony Sonjaya, Pimpinan dan Pengasuh Pengasuh Ponpes Cipasung KH Ubaidillah, KH Acep Adang Ruhiat, dan Khodimul Majelis Zikir dan Sholawat Cipasung KH Deni Sagara dan para Ajengan.
Baca juga: Dorong Kajian Ontologi Pendidikan, Menag: Menentukan Arah Masa Depan Pesantren
KH Asep adalah alumni Cipasung yang diasuh langsung oleh KH Ruhiat, pendiri Ponpes Cipasung. Tidak hanya itu, KH Asep juga pendiri dan pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Jawa Timur, Ketua Umum PERGUNU dan Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN).
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya menghadirkan makanan sehat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Sejak dilaunching 6 Januari 2025, Program MBG kini memiliki 16.000 dapur SPPG di seluruh Indonesia, melayani 40 juta penerima manfaat dan menyerap lebih dari 700.000 tenaga kerja,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Sony menjelaskan kebutuhan bahan pangan untuk program ini terus meningkat. Harga sayuran seperti wortel, buncis, dan kacang panjang bahkan melonjak karena tingginya permintaan. Karena itu, Sony mendorong Ponpes Cipasung untuk membangun kemandirian pangan.
Baca juga: Ada Ditjen Pesantren, Wamenag: 42 Ribu Pondok Pesantren dan 11 Juta Santri Semakin Berdaya
“Jangan biarkan lahan kosong. Tanami. Bangun hidroponik. Siapkan produksi sendiri agar dapur-dapur tidak sepenuhnya bergantung pada pasar,” katanya.
Sony menyarankan agar pengembangan pangan di pesantren dipadukan dengan program santripreneur, agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu memproduksi kebutuhan masyarakat.
KH Deni Sagara menegaskan inisiatif ketahanan pangan ini mendapat respons cepat dari masyarakat sekitar. Rumah-rumah warga mulai menyiapkan kandang ayam petelur, memanfaatkan lahan kosong, hingga membangun kebun sayur hidroponik.
“Di Cihaur, ada space di atas kolam yang dijadikan kandang ayam. Satu rumah, dua rumah, mulai kelola ayam petelur dan tanaman hidroponik,” ujarnya.
Kiai Deni menyebut dukungan dari salah satu kiai Jatman Tasikmalaya, yang menyiapkan 25 hektare lahan di Sodong untuk ditanami pisang guna memenuhi kebutuhan MBG. “Program MBG bukan hanya untuk santri, tetapi juga masyarakat. Ini jadi berkah untuk semuanya,” katanya.
Sementara itu, KH Asep mengatakan peluncuran Program Kampung Pangan dan Santripreneur menjadi momentum transformasi Ponpes Cipasung menjelang usianya yang ke-100. “Dari pesantren harus lahir santri yang bukan hanya alim, tetapi juga pemimpin yang adil, dermawan, pengusaha, dan profesional di berbagai bidang. Ini tuntutan zaman,” katanya.
Program ini juga diapresiasi oleh keluarga besar Cipasung, termasuk KH Acep Adang Ruhiat dan KH Ubaidillah Ruhiat, yang secara simbolis menerima bahan pangan untuk mendukung dapur pesantren.
Kiai Asep menjelaskan, dengan program Kampung Pangan dan Santripreneur, Ponpes Cipasung menegaskan tekadnya menjadi lumbung pangan, pusat pemberdayaan ekonomi, dan pesantren yang siap melahirkan generasi santri yang unggul secara spiritual dan produktif secara ekonomi.
Kiai Asep mengajak semua santri dan semua keluarga pesantren untuk melakukan transformasi dengan gemuruh pesantren mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan, yaitu Indonesia maju adil makmur sejahtera.
”Peluncuran program ini menjadi tonggak penting bagi Cipasung menuju usia satu abad,sebuah penanda transformasi besar dari pesantren tradisional menuju pesantren mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :