Hari Toleransi Internasional 2025, Kemenag Gelar Fun Walk Lintas Agama di CFD
Senin, 17 November 2025 - 17:27 WIB
loading...
Peringati Hari Toleransi Internasional, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Harmony Fun Walk Lintas Agama. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Peringati Hari Toleransi Internasional, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Harmony Fun Walk Lintas Agama. Kegiatan tersebut digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, pada Minggu, 16 November 2025..
Kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari tokoh agama, Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag, komunitas lintas iman, hingga masyarakat umum menjadi ruang publik yang meneguhkan pesan persaudaraan dan kebangsaan.
Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad, mengatakan, toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir dalam perilaku yang menjunjung harmoni sosial dan kemanusiaan. Menurut Abu, harmoni antaragama merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa.
Baca juga: BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital
Abu menyampaikan sebesar apa pun potensi sumber daya manusia dan kekayaan alam yang dimiliki, tidak akan menghasilkan kemaslahatan tanpa fondasi kerukunan. “Indonesia adalah rumah bersama. Karena itu, nilai rukun, saling menghormati, dan cinta kemanusiaan harus selalu kita jaga,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Abu juga mengapresiasi kehadiran seluruh unsur lintas agama yang menunjukkan komitmen masyarakat terhadap toleransi tetap kuat dan hidup. Abu menambahkan, Harmony Fun Walk merupakan bagian dari rangkaian besar kegiatan The Wonder of Harmony yang berlangsung sepanjang November 2025.
Sebelumnya, telah digelar Expo Syiar Budaya Islam, Workshop Pemetaan Potensi Sosial Keagamaan, Bimbingan Remaja Usia Nikah, Ngaji Budaya, serta Kompetisi Film Islami.
Baca juga: 10 Negara Paling Toleran di Dunia, Apakah Indonesia Termasuk?
“Setelah kegiatan hari ini, rangkaian masih berlanjut dengan Ijtima Ulama Tafsir Al-Quran, Interfaith Harmony untuk Pemuda, Penyerahan Sertifikasi Wakaf, Festival Majelis Taklim, Sakinah Family Run, hingga Konser Toleransi dan Cinta Kemanusiaan,” jelasnya.
Abu berharap, seluruh aktivitas lintas agama ini menjadi energi positif dalam memperkuat moderasi beragama. Abu menyampaikan apresiasi kepada para tokoh agama dan jajaran Kemenag atas kolaborasi yang terus terbangun.
Abu mengungkapkan pentingnya kerja bersama dalam merawat semangat toleransi sebagai nilai sosial yang mengikat bangsa. “Semoga semangat harmoni terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa. Tugas kita bersama menjaga rukun tanpa retak,” ungkapnya.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, harmoni adalah fondasi penting dalam menjaga kemakmuran bangsa. Sehebat apa pun kualitas sumber daya manusia atau sumber daya alam yang dimiliki, semuanya tidak akan bermakna tanpa nilai persaudaraan dan saling menghormati. “Harmoni adalah ruh pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan Fun Walk mempertemukan umat beragama dalam suasana yang hangat sehingga memperkuat interaksi positif di ruang publik. Ali Ramdhani menilai Indonesia memiliki modal sosial besar berupa keragaman yang dirajut oleh nilai-nilai luhur setiap agama.
Karena itu, peringatan Hari Toleransi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menjaga keberagaman dalam bingkai kebangsaan. “Kerukunan bukan hanya konsep moral, tetapi kebutuhan bersama untuk masa depan Indonesia,” tambahnya.
Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi juga mengungkapkan cita-cita Indonesia emas akan terwujud apabila seluruh elemen bangsa hidup dalam suasana rukun. Supriyadi menyebut harmoni sebagai syarat kemajuan sosial dan ekonomi. “Kerukunan adalah jalan menuju kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Supriyadi mengapresiasi antusiasme peserta sebagai wujud nyata praktik toleransi di ruang publik. Supriyadi menambahkan, sikap moderat dalam beragama harus terus dihidupkan, terlebih di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. “Kita harus memastikan harmoni tetap menjadi nafas kehidupan berbangsa,” katanya.
Dari Bimas Hindu, I Nengah Duija mengutip filosofi Vasudhaiva Kutumbakam bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga besar. Menurut dia, nilai itu relevan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia yang kaya tradisi dan kearifan lokal.
“Wasudewa kutumbakam mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak menjauhkan, tetapi justru menghubungkan,” ungkapnya.
I Nengah Duija menilai kegiatan ini memperlihatkan bahwa kerukunan merupakan kekuatan utama bangsa. “Indonesia kuat karena harmoninya,” katanya.
Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung menyampaikan Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun atas prinsip persaudaraan. Ia mengungkapkan pentingnya menjaga ruang publik sebagai tempat perjumpaan antariman. “Torang semua bersaudara,” ujarnya.
Rohaniwan Ws. Lie Suprijadi Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, mengutip nilai Sehajani Watu Singsi—di empat penjuru lautan, semua adalah saudara. Ia menyebut nilai itu selaras dengan prinsip kebangsaan Indonesia yang menghargai keberagaman. “Harmoni adalah jembatan kebajikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Harmony Fun Walk menjadi ruang penting untuk menghadirkan kedekatan antarumat beragama secara langsung. “Dari berjalan bersama, kita belajar bahwa persaudaraan adalah pengalaman, bukan sekadar wacana,” pungkasnya
Kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari tokoh agama, Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag, komunitas lintas iman, hingga masyarakat umum menjadi ruang publik yang meneguhkan pesan persaudaraan dan kebangsaan.
Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad, mengatakan, toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir dalam perilaku yang menjunjung harmoni sosial dan kemanusiaan. Menurut Abu, harmoni antaragama merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa.
Baca juga: BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital
Abu menyampaikan sebesar apa pun potensi sumber daya manusia dan kekayaan alam yang dimiliki, tidak akan menghasilkan kemaslahatan tanpa fondasi kerukunan. “Indonesia adalah rumah bersama. Karena itu, nilai rukun, saling menghormati, dan cinta kemanusiaan harus selalu kita jaga,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Abu juga mengapresiasi kehadiran seluruh unsur lintas agama yang menunjukkan komitmen masyarakat terhadap toleransi tetap kuat dan hidup. Abu menambahkan, Harmony Fun Walk merupakan bagian dari rangkaian besar kegiatan The Wonder of Harmony yang berlangsung sepanjang November 2025.
Sebelumnya, telah digelar Expo Syiar Budaya Islam, Workshop Pemetaan Potensi Sosial Keagamaan, Bimbingan Remaja Usia Nikah, Ngaji Budaya, serta Kompetisi Film Islami.
Baca juga: 10 Negara Paling Toleran di Dunia, Apakah Indonesia Termasuk?
“Setelah kegiatan hari ini, rangkaian masih berlanjut dengan Ijtima Ulama Tafsir Al-Quran, Interfaith Harmony untuk Pemuda, Penyerahan Sertifikasi Wakaf, Festival Majelis Taklim, Sakinah Family Run, hingga Konser Toleransi dan Cinta Kemanusiaan,” jelasnya.
Abu berharap, seluruh aktivitas lintas agama ini menjadi energi positif dalam memperkuat moderasi beragama. Abu menyampaikan apresiasi kepada para tokoh agama dan jajaran Kemenag atas kolaborasi yang terus terbangun.
Abu mengungkapkan pentingnya kerja bersama dalam merawat semangat toleransi sebagai nilai sosial yang mengikat bangsa. “Semoga semangat harmoni terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa. Tugas kita bersama menjaga rukun tanpa retak,” ungkapnya.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, harmoni adalah fondasi penting dalam menjaga kemakmuran bangsa. Sehebat apa pun kualitas sumber daya manusia atau sumber daya alam yang dimiliki, semuanya tidak akan bermakna tanpa nilai persaudaraan dan saling menghormati. “Harmoni adalah ruh pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan Fun Walk mempertemukan umat beragama dalam suasana yang hangat sehingga memperkuat interaksi positif di ruang publik. Ali Ramdhani menilai Indonesia memiliki modal sosial besar berupa keragaman yang dirajut oleh nilai-nilai luhur setiap agama.
Karena itu, peringatan Hari Toleransi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menjaga keberagaman dalam bingkai kebangsaan. “Kerukunan bukan hanya konsep moral, tetapi kebutuhan bersama untuk masa depan Indonesia,” tambahnya.
Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi juga mengungkapkan cita-cita Indonesia emas akan terwujud apabila seluruh elemen bangsa hidup dalam suasana rukun. Supriyadi menyebut harmoni sebagai syarat kemajuan sosial dan ekonomi. “Kerukunan adalah jalan menuju kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Supriyadi mengapresiasi antusiasme peserta sebagai wujud nyata praktik toleransi di ruang publik. Supriyadi menambahkan, sikap moderat dalam beragama harus terus dihidupkan, terlebih di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. “Kita harus memastikan harmoni tetap menjadi nafas kehidupan berbangsa,” katanya.
Dari Bimas Hindu, I Nengah Duija mengutip filosofi Vasudhaiva Kutumbakam bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga besar. Menurut dia, nilai itu relevan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia yang kaya tradisi dan kearifan lokal.
“Wasudewa kutumbakam mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak menjauhkan, tetapi justru menghubungkan,” ungkapnya.
I Nengah Duija menilai kegiatan ini memperlihatkan bahwa kerukunan merupakan kekuatan utama bangsa. “Indonesia kuat karena harmoninya,” katanya.
Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung menyampaikan Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun atas prinsip persaudaraan. Ia mengungkapkan pentingnya menjaga ruang publik sebagai tempat perjumpaan antariman. “Torang semua bersaudara,” ujarnya.
Rohaniwan Ws. Lie Suprijadi Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, mengutip nilai Sehajani Watu Singsi—di empat penjuru lautan, semua adalah saudara. Ia menyebut nilai itu selaras dengan prinsip kebangsaan Indonesia yang menghargai keberagaman. “Harmoni adalah jembatan kebajikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Harmony Fun Walk menjadi ruang penting untuk menghadirkan kedekatan antarumat beragama secara langsung. “Dari berjalan bersama, kita belajar bahwa persaudaraan adalah pengalaman, bukan sekadar wacana,” pungkasnya
(cip)
Lihat Juga :