DPR Sarankan Penyidik Prioritaskan Trauma Healing ke Pelaku Ledakan SMAN 72
Senin, 10 November 2025 - 06:51 WIB
loading...
SMAN 72 Jakarta dibersihkan pascaledakan. Foto/SindoNews TV
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Hasbiallah Ilyas mengusulkan penyidik kepolisian bisa menangani pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta dengan mengedepankan aspek humanis dan empati. Hal itu dinilai perlu dilakukan bila pelaku terbukti sebagai korban perundungan atau bullying.
"Saya harap penyidik lebih mengedepankan pendekatan humanistik dan empatik terhadap pelaku jika memang motifnya balas dendam korban bullying. Apalagi pelaku masih di bawah umur," kata Hasbi saat dihubungi, Minggu (9/11/2025).
Kendati demikian, Hasbi menyarankan penyidik memprioritaskan trauma healing terhadap pelaku ledakan, ketimbang memberi hukuman pidana.
Baca juga: Polda Metro Berikan Pendampingan Psikososial kepada Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta
"Jadi saya usul diprioritaskan tindakan trauma healing atau pemulihan mental dan kepercayaan diri pelaku. Itu yang paling utama saat ini," tutur Hasbi.
Menurutnya, insiden ledakan SMAN 72 Jakarta menjadi pembelajaran berharga untuk mencegah terulangnya peristiwa semacam ini di masa depan. Ia pun menyarankan pada Pemerintah untuk memberi penanganan khusus persoalan perundungan.
"Saya usul harus ada penanganan khusus mengatasi hal ini, harus lebih peka dan proaktif terhadal masalah bullying. Termasuk perlindungan terhadap diduga korban dan tindakan keras terhadap diduga pelaku di sekolah," kata Hasbi.
"Kendalanya selama ini korban bullying umumnya takut melapor ke guru atau sekolah karena tidak direspon dengan baik, bahkan dianggap cengeng. Sikap ini harus berubah total. Kalau tidak, kejadian SMAN 72 dan semacamnya akan terulang lagi," pungkas Hasbi.
Sekadar informasi, dua ledakan SMAN 72 Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara diduga berasal dari bom rakitan. Pelaku disebut berasal dari siswa sekolah tersebut.
Hal itu diungkapkan Sena, siswa kelas XI SMAN 72. Informasi itu didapatkan dirinya dari foto setelah kejadian. "Ada fotonya (bom rakitan) kemungkinan terindikasi siswa sekolah sini," ujar Sena, Jumat (7/11/2025).
Dia menuturkan siswa yang diduga pelaku berinisial F duduk di bangku kelas XII. Dia menyebut F merupakan korban bullying atau perundungan. "Mungkin karena dia itu korban bullying jadi ingin balas dendam," kata Sena.
Sementara itu, Polda Metro Jaya masih mendalami dugaan pelaku ledakan merupakan korban perundungan.
"Ini masih dilakukan pendalaman terhadap motif apakah yang bersangkutan (terduga pelaku) korban bullying, ini juga masih kita dalami," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dia menuturkan, petugas menemukan hambatan untuk meminta keterangan para saksi. Sebab, para saksi juga menjadi korban dan tengah mendapat penanganan medis.
"Ada beberapa hambatan terkait pemeriksaan atau meminta keterangan para saksi, karena saksi-saksi juga menjadi korban dan dalam penanganan medis," tutur dia.
"Saya harap penyidik lebih mengedepankan pendekatan humanistik dan empatik terhadap pelaku jika memang motifnya balas dendam korban bullying. Apalagi pelaku masih di bawah umur," kata Hasbi saat dihubungi, Minggu (9/11/2025).
Kendati demikian, Hasbi menyarankan penyidik memprioritaskan trauma healing terhadap pelaku ledakan, ketimbang memberi hukuman pidana.
Baca juga: Polda Metro Berikan Pendampingan Psikososial kepada Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta
"Jadi saya usul diprioritaskan tindakan trauma healing atau pemulihan mental dan kepercayaan diri pelaku. Itu yang paling utama saat ini," tutur Hasbi.
Menurutnya, insiden ledakan SMAN 72 Jakarta menjadi pembelajaran berharga untuk mencegah terulangnya peristiwa semacam ini di masa depan. Ia pun menyarankan pada Pemerintah untuk memberi penanganan khusus persoalan perundungan.
"Saya usul harus ada penanganan khusus mengatasi hal ini, harus lebih peka dan proaktif terhadal masalah bullying. Termasuk perlindungan terhadap diduga korban dan tindakan keras terhadap diduga pelaku di sekolah," kata Hasbi.
"Kendalanya selama ini korban bullying umumnya takut melapor ke guru atau sekolah karena tidak direspon dengan baik, bahkan dianggap cengeng. Sikap ini harus berubah total. Kalau tidak, kejadian SMAN 72 dan semacamnya akan terulang lagi," pungkas Hasbi.
Sekadar informasi, dua ledakan SMAN 72 Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara diduga berasal dari bom rakitan. Pelaku disebut berasal dari siswa sekolah tersebut.
Hal itu diungkapkan Sena, siswa kelas XI SMAN 72. Informasi itu didapatkan dirinya dari foto setelah kejadian. "Ada fotonya (bom rakitan) kemungkinan terindikasi siswa sekolah sini," ujar Sena, Jumat (7/11/2025).
Dia menuturkan siswa yang diduga pelaku berinisial F duduk di bangku kelas XII. Dia menyebut F merupakan korban bullying atau perundungan. "Mungkin karena dia itu korban bullying jadi ingin balas dendam," kata Sena.
Sementara itu, Polda Metro Jaya masih mendalami dugaan pelaku ledakan merupakan korban perundungan.
"Ini masih dilakukan pendalaman terhadap motif apakah yang bersangkutan (terduga pelaku) korban bullying, ini juga masih kita dalami," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dia menuturkan, petugas menemukan hambatan untuk meminta keterangan para saksi. Sebab, para saksi juga menjadi korban dan tengah mendapat penanganan medis.
"Ada beberapa hambatan terkait pemeriksaan atau meminta keterangan para saksi, karena saksi-saksi juga menjadi korban dan dalam penanganan medis," tutur dia.
(rca)
Lihat Juga :