GEEM 2025 Perkuat Peran Guru Sebagai Penggerak Perubahan
Minggu, 26 Oktober 2025 - 20:40 WIB
loading...
Global Entrepreneurship Education Meeting (GEEM) 2025 berlangsung di Tangerang pada 21–24 Oktober 2025. Foto/istimewa
A
A
A
TANGERANG - Gelaran Global Entrepreneurship Education Meeting (GEEM) 2025 yang berlangsung di Tangerang pada 21–24 Oktober 2025 melahirkan tiga proyek kolaborasi lintas negara yang akan memperkuat ekosistem pendidikan kewirausahaan global. Ketiga proyek itu adalah riset bersama enam negara, program pelatihan untuk para trainers di tiga negara, dan pengembangan Kota Solok sebagai learning city.
CEO dan Pendiri Sociopreneur Indonesia Dessy Aliandrina mengatakan GEEM adalah ajang tahunan para akademisi, fasilitator pendidikan, pejabat pemerintah, pelaku bisnis, peneliti, hingga perwakilan dari UNESCO dan jejaring Entrepreneurship Education Network (EE-Net). GEEM 2025 dihadiri oleh 150 delegasi dari berbagai negara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Pakistan, Sri Lanka, Singapura, China, dll.
Lebih jauh Dessy menjelaskan soal tiga proyek itu. Pertama, riset bersama enam negara akan mempertemukan akademisi dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Sri Lanka, dan Pakistan untuk menyusun ulang kerangka pendidikan entrepreneurship agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga: Prabowo: Jadikan Hari Santri Momentum Penguatan Pendidikan Keagamaan
“Yang kedua, program “train for trainers” tiga negara yang melibatkan Pakistan, Sri Lanka, dan Indonesia berfokus pada pelatihan intensif bagi para pendidik agar mampu mencetak pelatih-pelatih baru di bidang pendidikan entrepreneurship,” kata Dessy dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (26/10/2025).
Terakhir, program pengembangan Kota Solok sebagai “learning city” adalah proyek bersama yang melibatkan Saverglobal (Australia), Sociopreneur Indonesia, dan Teach a Man to Fish (Inggris) untuk menjadikan Solok sebagai kota pembelajaran yang menumbuhkan literasi budaya dan finansial melalui pendidikan entrepreneurship.
Menurut Dessy, dalam kerangka baru, entrepreneurship tidak lagi mengikuti pola lama “take, make, waste”, tetapi beralih ke cara berpikir “create, care, regenerate” yang menempatkan entrepreneurship sebagai sarana untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca juga: Kemenag Perluas Akses Pendidikan Agama dan Kesejahteraan Dosen
Misi ini lahir sebagai respons terhadap kondisi nyata di lapangan. Dunia pendidikan masih terkotak dalam disciplinal silo, sehingga pendidikan entrepreneurship dianggap milik fakultas bisnis atau manajemen semata. Sementara di industri, masih ada kekhawatiran bahwa pelatihan entrepreneurship akan mendorong karyawan membangun usaha sendiri.
“Di tengah dunia pendidikan yang terus berubah, GEEM 2025 mengingatkan isu yang mendasar, yakni peran guru sebagai penggerak perubahan yang siap menghadapi dunia yang makin rumit,” tutur Dessy.
Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, GEEM 2025 memperkenalkan cara baru dalam melatih guru. Pelatihannya tidak berhenti pada teori mengajar, melainkan membekali mereka dengan kemampuan yang relevan untuk hidup masa kini, mulai dari literasi finansial dan digital, hingga pemahaman tentang keamanan siber.
“Guru adalah kelompok yang sangat rentan terhadap penipuan finansial, karena itu GEEM bekerja sama dengan lembaga keuangan global seperti Saver Global untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan pribadi para guru,” tutur Dessy.
Program Teacher Training yang diperkenalkan dalam forum ini juga berbeda. Selama enam bulan, peserta menerima beasiswa intensif berbasis tiga pilar utama: pendidikan entrepreneurship, literasi finansial, dan literasi digital. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu membentuk guru yang tidak hanya piawai mengajar, tetapi juga tangguh dan cerdas dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin guru bisa menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan profesi mulianya,” ujar Dessy lagi. Esensinya bukan menjadikan guru pebisnis, melainkan menumbuhkan entrepreneurial mindset, yakni cara berpikir kreatif dan mandiri yang memperkaya profesionalisme mereka, baik dalam mengelola kelas maupun kehidupan pribadi.
Di tengah banyaknya pembicaraan soal kesejahteraan guru, langkah GEEM 2025 menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya berbicara soal tunjangan atau fasilitas, program ini menguatkan guru dari dalam, yakni memperkaya pengetahuan, memperkuat karakter, dan membuka peluang baru. Pesan yang ingin disampaikan pun jelas, yakni bahwa pendidikan akan sekuat dan setangguh para guru yang menghayatinya.
CEO dan Pendiri Sociopreneur Indonesia Dessy Aliandrina mengatakan GEEM adalah ajang tahunan para akademisi, fasilitator pendidikan, pejabat pemerintah, pelaku bisnis, peneliti, hingga perwakilan dari UNESCO dan jejaring Entrepreneurship Education Network (EE-Net). GEEM 2025 dihadiri oleh 150 delegasi dari berbagai negara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Pakistan, Sri Lanka, Singapura, China, dll.
Lebih jauh Dessy menjelaskan soal tiga proyek itu. Pertama, riset bersama enam negara akan mempertemukan akademisi dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Sri Lanka, dan Pakistan untuk menyusun ulang kerangka pendidikan entrepreneurship agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga: Prabowo: Jadikan Hari Santri Momentum Penguatan Pendidikan Keagamaan
“Yang kedua, program “train for trainers” tiga negara yang melibatkan Pakistan, Sri Lanka, dan Indonesia berfokus pada pelatihan intensif bagi para pendidik agar mampu mencetak pelatih-pelatih baru di bidang pendidikan entrepreneurship,” kata Dessy dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (26/10/2025).
Terakhir, program pengembangan Kota Solok sebagai “learning city” adalah proyek bersama yang melibatkan Saverglobal (Australia), Sociopreneur Indonesia, dan Teach a Man to Fish (Inggris) untuk menjadikan Solok sebagai kota pembelajaran yang menumbuhkan literasi budaya dan finansial melalui pendidikan entrepreneurship.
Menurut Dessy, dalam kerangka baru, entrepreneurship tidak lagi mengikuti pola lama “take, make, waste”, tetapi beralih ke cara berpikir “create, care, regenerate” yang menempatkan entrepreneurship sebagai sarana untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca juga: Kemenag Perluas Akses Pendidikan Agama dan Kesejahteraan Dosen
Misi ini lahir sebagai respons terhadap kondisi nyata di lapangan. Dunia pendidikan masih terkotak dalam disciplinal silo, sehingga pendidikan entrepreneurship dianggap milik fakultas bisnis atau manajemen semata. Sementara di industri, masih ada kekhawatiran bahwa pelatihan entrepreneurship akan mendorong karyawan membangun usaha sendiri.
“Di tengah dunia pendidikan yang terus berubah, GEEM 2025 mengingatkan isu yang mendasar, yakni peran guru sebagai penggerak perubahan yang siap menghadapi dunia yang makin rumit,” tutur Dessy.
Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, GEEM 2025 memperkenalkan cara baru dalam melatih guru. Pelatihannya tidak berhenti pada teori mengajar, melainkan membekali mereka dengan kemampuan yang relevan untuk hidup masa kini, mulai dari literasi finansial dan digital, hingga pemahaman tentang keamanan siber.
“Guru adalah kelompok yang sangat rentan terhadap penipuan finansial, karena itu GEEM bekerja sama dengan lembaga keuangan global seperti Saver Global untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan pribadi para guru,” tutur Dessy.
Program Teacher Training yang diperkenalkan dalam forum ini juga berbeda. Selama enam bulan, peserta menerima beasiswa intensif berbasis tiga pilar utama: pendidikan entrepreneurship, literasi finansial, dan literasi digital. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu membentuk guru yang tidak hanya piawai mengajar, tetapi juga tangguh dan cerdas dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin guru bisa menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan profesi mulianya,” ujar Dessy lagi. Esensinya bukan menjadikan guru pebisnis, melainkan menumbuhkan entrepreneurial mindset, yakni cara berpikir kreatif dan mandiri yang memperkaya profesionalisme mereka, baik dalam mengelola kelas maupun kehidupan pribadi.
Di tengah banyaknya pembicaraan soal kesejahteraan guru, langkah GEEM 2025 menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya berbicara soal tunjangan atau fasilitas, program ini menguatkan guru dari dalam, yakni memperkaya pengetahuan, memperkuat karakter, dan membuka peluang baru. Pesan yang ingin disampaikan pun jelas, yakni bahwa pendidikan akan sekuat dan setangguh para guru yang menghayatinya.
(cip)
Lihat Juga :