Hadiri Wayang Semalam Suntuk di Pacitan, Ibas: Merawat Budaya, Menguatkan Persatuan
Selasa, 21 Oktober 2025 - 06:29 WIB
loading...
Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menghadiri Pagelaran Wayang Semalam Suntuk di Monumen Jenderal Sudirman, Nawangan, Kabupaten Pacitan, belum lama ini. Foto: Ist
A
A
A
PACITAN - Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menghadiri Pagelaran Wayang Semalam Suntuk di Monumen Jenderal Sudirman, Nawangan, Kabupaten Pacitan, belum lama ini. Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini bukan hanya sekadar tontonan budaya, tetapi juga menjadi wadah memperkuat nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan semangat perjuangan di tengah masyarakat Pacitan.
Melalui acara ini, Ketua Fraksi Partai Demokrat ini mengajak masyarakat untuk terus memelihara semangat persatuan dan gotong royong sebagaimana diwariskan para pahlawan sekaligus meneladani ketulusan perjuangan Jenderal Sudirman yang menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih.
Baca juga: Pergelaran Wayang Rasa Rupa Bhisma Padukan Wayang Orang, Komik dan Film
Menurut dia, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur saja, tetapi juga tentang membangun manusia dan menjaga harmoni antara kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan demikian, Pacitan terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri, berdaya saing, dan berkarakter kuat.
“Alhamdulillah, malam ini kita bisa bersilaturahmi, mempererat rasa persaudaraan di antara kita. Semoga Bapak-Ibu semua senantiasa mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan dimudahkan dalam segala urusan,” ujar Ibas di hadapan para tokoh masyarakat, alim ulama, perangkat desa, hingga masyarakat Nawangan dan sekitarnya yang memenuhi area Monumen Jenderal Sudirman.
Dia mengapresiasi kepada seluruh pihak yang turut menghidupkan tradisi budaya, termasuk MPR yang berkolaborasi dalam penyelenggaraan acara ini. “Terima kasih kepada MPR yang terus mendukung pelestarian budaya Jawa melalui seni wayang kulit. Terima kasih pula kepada Ki Purbo Asmoro yang dari dulu hingga kini tetap setia menjadi dalang kebanggaan Pacitan dan kepada seluruh seniman yang mengisi acara ini dengan pesan-pesan kebaikan,” ungkapnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin ini, Pagelaran Wayang ini bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga ruang edukasi moral dan kebangsaan. Dia menekankan budaya seperti wayang memiliki filosofi mendalam tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan persatuan.
“Wayang mengajarkan kita tentang budi pekerti dan kejujuran. Di balik kisah Pandawa dan Kurawa, tersimpan nilai bahwa kebenaran, kebersamaan, dan kesetiaan pada rakyat adalah inti dari kepemimpinan yang sejati,” ucapnya.
Ibas juga mengingatkan pentingnya Monumen Jenderal Sudirman sebagai simbol perjuangan dan keteladanan nasional. “Tempat ini bukan sembarang tempat. Di sinilah perjuangan Jenderal Sudirman dikenang, seorang pemimpin yang berjuang dengan tulus tanpa pamrih. Dari beliau kita belajar arti sejati dari keberanian, persatuan, dan pengorbanan demi bangsa,” kata anggota dari Dapil Jawa Timur VII ini.
Sebagai Wakil Ketua MPR, dia menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan yang berpihak pada rakyat, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
“Anak-anak kita tidak boleh putus sekolah. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak dan gizi yang baik agar tumbuh menjadi generasi tangguh, cerdas, dan berkarakter. Kita juga harus memastikan kesehatan masyarakat terjamin iwa dan raganya kuat, mentalnya sehat. Karena yang utama dalam hidup ini adalah sehat walafiat agar kita bisa terus berbuat untuk keluarga dan bangsa,” ujar Ibas.
Doktor lulusan S3 IPB University ini juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Nawangan dan Bandar.
“Saya melihat perubahan nyata. Jalan yang dulu sempit dan gelap kini sudah mulai halus dan melebar. Ini tandanya pemerintah hadir berkelanjutan dan peduli pembangunan. Tapi pembangunan tidak bisa selesai dalam semalam suntuk seperti halnya wayang malam ini, pembangunan memerlukan waktu, konsistensi, dan semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Ibas mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan merawat fasilitas yang sudah dibangun agar manfaatnya berkelanjutan. “Mari kita rawat apa yang telah kita miliki. Infrastruktur, tempat wisata, dan warisan budaya yang ada di Pacitan adalah kebanggaan kita semua,” ujarnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Ibas menyoroti potensi wisata dan ekonomi Pacitan yang perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan. “Pacitan adalah anugerah Tuhan. Kita punya laut, goa, gunung, dan pantai yang luar biasa indah. Semua ini bisa menjadi sumber kesejahteraan jika kita kelola dengan baik. Yang penting kita tetap menjaga kebersihan, keasrian, dan nilai budaya lokal yang menjadi identitas kita,” katanya.
Menutup sambutannya, Ibas berpesan agar masyarakat Pacitan tetap kompak, bersatu, dan bersyukur dalam menjalani kehidupan. “Seperti para Pandawa dalam lakon Amarta Binangun malam ini, setiap kita punya peran berbeda tapi tujuan kita satu, membangun desa, memajukan kabupaten, dan menyejahterakan bangsa. Mari terus semangat, sehat, dan bersyukur atas nikmat Tuhan yang luar biasa ini,” tutur Ibas.
Melalui acara ini, Ketua Fraksi Partai Demokrat ini mengajak masyarakat untuk terus memelihara semangat persatuan dan gotong royong sebagaimana diwariskan para pahlawan sekaligus meneladani ketulusan perjuangan Jenderal Sudirman yang menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih.
Baca juga: Pergelaran Wayang Rasa Rupa Bhisma Padukan Wayang Orang, Komik dan Film
Menurut dia, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur saja, tetapi juga tentang membangun manusia dan menjaga harmoni antara kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan demikian, Pacitan terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri, berdaya saing, dan berkarakter kuat.
“Alhamdulillah, malam ini kita bisa bersilaturahmi, mempererat rasa persaudaraan di antara kita. Semoga Bapak-Ibu semua senantiasa mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan dimudahkan dalam segala urusan,” ujar Ibas di hadapan para tokoh masyarakat, alim ulama, perangkat desa, hingga masyarakat Nawangan dan sekitarnya yang memenuhi area Monumen Jenderal Sudirman.
Dia mengapresiasi kepada seluruh pihak yang turut menghidupkan tradisi budaya, termasuk MPR yang berkolaborasi dalam penyelenggaraan acara ini. “Terima kasih kepada MPR yang terus mendukung pelestarian budaya Jawa melalui seni wayang kulit. Terima kasih pula kepada Ki Purbo Asmoro yang dari dulu hingga kini tetap setia menjadi dalang kebanggaan Pacitan dan kepada seluruh seniman yang mengisi acara ini dengan pesan-pesan kebaikan,” ungkapnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin ini, Pagelaran Wayang ini bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga ruang edukasi moral dan kebangsaan. Dia menekankan budaya seperti wayang memiliki filosofi mendalam tentang perjuangan, kebijaksanaan, dan persatuan.
“Wayang mengajarkan kita tentang budi pekerti dan kejujuran. Di balik kisah Pandawa dan Kurawa, tersimpan nilai bahwa kebenaran, kebersamaan, dan kesetiaan pada rakyat adalah inti dari kepemimpinan yang sejati,” ucapnya.
Ibas juga mengingatkan pentingnya Monumen Jenderal Sudirman sebagai simbol perjuangan dan keteladanan nasional. “Tempat ini bukan sembarang tempat. Di sinilah perjuangan Jenderal Sudirman dikenang, seorang pemimpin yang berjuang dengan tulus tanpa pamrih. Dari beliau kita belajar arti sejati dari keberanian, persatuan, dan pengorbanan demi bangsa,” kata anggota dari Dapil Jawa Timur VII ini.
Sebagai Wakil Ketua MPR, dia menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan yang berpihak pada rakyat, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
“Anak-anak kita tidak boleh putus sekolah. Mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak dan gizi yang baik agar tumbuh menjadi generasi tangguh, cerdas, dan berkarakter. Kita juga harus memastikan kesehatan masyarakat terjamin iwa dan raganya kuat, mentalnya sehat. Karena yang utama dalam hidup ini adalah sehat walafiat agar kita bisa terus berbuat untuk keluarga dan bangsa,” ujar Ibas.
Doktor lulusan S3 IPB University ini juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Nawangan dan Bandar.
“Saya melihat perubahan nyata. Jalan yang dulu sempit dan gelap kini sudah mulai halus dan melebar. Ini tandanya pemerintah hadir berkelanjutan dan peduli pembangunan. Tapi pembangunan tidak bisa selesai dalam semalam suntuk seperti halnya wayang malam ini, pembangunan memerlukan waktu, konsistensi, dan semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Ibas mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan merawat fasilitas yang sudah dibangun agar manfaatnya berkelanjutan. “Mari kita rawat apa yang telah kita miliki. Infrastruktur, tempat wisata, dan warisan budaya yang ada di Pacitan adalah kebanggaan kita semua,” ujarnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Ibas menyoroti potensi wisata dan ekonomi Pacitan yang perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan. “Pacitan adalah anugerah Tuhan. Kita punya laut, goa, gunung, dan pantai yang luar biasa indah. Semua ini bisa menjadi sumber kesejahteraan jika kita kelola dengan baik. Yang penting kita tetap menjaga kebersihan, keasrian, dan nilai budaya lokal yang menjadi identitas kita,” katanya.
Menutup sambutannya, Ibas berpesan agar masyarakat Pacitan tetap kompak, bersatu, dan bersyukur dalam menjalani kehidupan. “Seperti para Pandawa dalam lakon Amarta Binangun malam ini, setiap kita punya peran berbeda tapi tujuan kita satu, membangun desa, memajukan kabupaten, dan menyejahterakan bangsa. Mari terus semangat, sehat, dan bersyukur atas nikmat Tuhan yang luar biasa ini,” tutur Ibas.
(jon)
Lihat Juga :