Kurangi Beban TPA Cipayung, Pemkot Depok Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah
Kamis, 18 September 2025 - 19:33 WIB
loading...
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Foto/SindoNews
A
A
A
DEPOK - Pemerinta Kota (Pemkot) Depok mendorong masyarakat memulai memilah sampah dari rumah. Tujuannya untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus mengurangi beban TPA Cipayung.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok 2024, timbulan sampah harian mencapai rata-rata 1.100 ton per hari, dengan sekitar 70% merupakan sampah organik rumah tangga.
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengatakan, sebagai salah satu kota penyangga Jakarta di wilayah Jabodetabek, Depok mengalami pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat. Perkembangan ini mendorong peningkatan aktivitas domestik dan konsumsi masyarakat, yang secara langsung berdampak pada meningkatnya jumlah timbulan sampah setiap hari.
Baca juga: Pemkot Depok Bangun Flyover di Simpang Juanda-Margonda Tahun Depan, Anggaran Rp250 Miliar
Kondisi ini semakin membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Cipayung, satu-satunya TPA aktif di Kota Depok yang kini telah mengalami kelebihan kapasitas. Selain faktor demografis dan ekonomi, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya turut memperburuk situasi ini.
Langkah konkret untuk mengatasi permasalahan sampah diwujudkan melalui Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) sebagai solusi menyeluruh dalam pengelolaan sampah. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga pada perbaikan sistem layanan dari hulu ke hilir.
Baca juga: 33 Sekolah Swasta di Depok Gratis Jenjang SMP, Cek Daftar Lengkapnya
Salah satu komponen kuncinya adalah kegiatan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM), yang mendorong perubahan perilaku melalui edukasi dan praktik nyata. Untuk itu, ISWMP melaksanakan proyek percontohan di Perumahan Green Le Mirage RT004/002, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok.
Pilot project ini menjadi langkah strategis untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, proyek ini bertujuan menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.
Ketika masyarakat mulai memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu, maka jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan secara signifikan. Jika diterapkan secara luas, pendekatan ini tak hanya mengurangi tekanan terhadap TPA Cipayung, tetapi juga memperkuat pondasi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Saya sangat menyambut baik program pilot project di Green Le Mirage, harapannya bisa diduplikasi di seluruh RT/RW Kota Depok,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).
Kesadaran ini menjadi modal penting dalam membentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan, di mana peran aktif masyarakat menjadi inti dari perubahan.
Untuk memastikan keberhasilan program, kata dia, proyek ini dilengkapi dengan sarana yang mudah diakses dan digunakan warga. Di setiap rumah disediakan ember terpisah untuk sampah sisa makanan, dropbox anorganik ditempatkan di titik-titik strategis, dan lubang biopori disiapkan untuk mengolah sampah organik langsung di lingkungan.
“Fasilitas ini dirancang sederhana namun efektif agar dapat dioperasikan mandiri oleh warga. Sejak program memilah sampah ini berjalan, sampah di Green Le Mirage dapat berkurang hingga mencapai 80%, dari semula sekitar 270 Kg/hari menjadi hanya 70 Kg/hari,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok 2024, timbulan sampah harian mencapai rata-rata 1.100 ton per hari, dengan sekitar 70% merupakan sampah organik rumah tangga.
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengatakan, sebagai salah satu kota penyangga Jakarta di wilayah Jabodetabek, Depok mengalami pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat. Perkembangan ini mendorong peningkatan aktivitas domestik dan konsumsi masyarakat, yang secara langsung berdampak pada meningkatnya jumlah timbulan sampah setiap hari.
Baca juga: Pemkot Depok Bangun Flyover di Simpang Juanda-Margonda Tahun Depan, Anggaran Rp250 Miliar
Kondisi ini semakin membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Cipayung, satu-satunya TPA aktif di Kota Depok yang kini telah mengalami kelebihan kapasitas. Selain faktor demografis dan ekonomi, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya turut memperburuk situasi ini.
Langkah konkret untuk mengatasi permasalahan sampah diwujudkan melalui Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) sebagai solusi menyeluruh dalam pengelolaan sampah. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga pada perbaikan sistem layanan dari hulu ke hilir.
Baca juga: 33 Sekolah Swasta di Depok Gratis Jenjang SMP, Cek Daftar Lengkapnya
Salah satu komponen kuncinya adalah kegiatan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM), yang mendorong perubahan perilaku melalui edukasi dan praktik nyata. Untuk itu, ISWMP melaksanakan proyek percontohan di Perumahan Green Le Mirage RT004/002, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok.
Pilot project ini menjadi langkah strategis untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, proyek ini bertujuan menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.
Ketika masyarakat mulai memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu, maka jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan secara signifikan. Jika diterapkan secara luas, pendekatan ini tak hanya mengurangi tekanan terhadap TPA Cipayung, tetapi juga memperkuat pondasi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Saya sangat menyambut baik program pilot project di Green Le Mirage, harapannya bisa diduplikasi di seluruh RT/RW Kota Depok,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).
Kesadaran ini menjadi modal penting dalam membentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan, di mana peran aktif masyarakat menjadi inti dari perubahan.
Untuk memastikan keberhasilan program, kata dia, proyek ini dilengkapi dengan sarana yang mudah diakses dan digunakan warga. Di setiap rumah disediakan ember terpisah untuk sampah sisa makanan, dropbox anorganik ditempatkan di titik-titik strategis, dan lubang biopori disiapkan untuk mengolah sampah organik langsung di lingkungan.
“Fasilitas ini dirancang sederhana namun efektif agar dapat dioperasikan mandiri oleh warga. Sejak program memilah sampah ini berjalan, sampah di Green Le Mirage dapat berkurang hingga mencapai 80%, dari semula sekitar 270 Kg/hari menjadi hanya 70 Kg/hari,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :