Pimpin Penanganan Banjir di Nagekeo, Kapolda NTT: Berikan Rasa Aman bagi Masyarakat
Rabu, 17 September 2025 - 16:27 WIB
loading...
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko memimpin langsung penanganan banjir bandang yang melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto/SindoNews
A
A
A
NTT - Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko memimpin langsung penanganan banjir bandang yang melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak hari pertama bencana, Polda NTT langsung bergerak cepat dengan mengerahkan 102 personel gabungan, tim medis, hingga anjing pelacak (K9) untuk mempercepat proses pencarian korban.
Rudi mengatakan, tidak hanya fokus pada evakuasi, Polda NTT juga memastikan kebutuhan dasar warga seperti makanan, obat-obatan, dan penerangan darurat segera sampai ke lokasi-lokasi terdampak paling parah. Menurut Rudi, setiap langkah kepolisian dalam menghadapi situasi bencana bukan sekadar tugas formal, tetapi juga wujud kepedulian terhadap masyarakat.
“Kami tidak ingin masyarakat merasa sendiri menghadapi bencana ini. Polda NTT hadir untuk melindungi, menolong, dan memastikan warga bisa bertahan di tengah kondisi sulit. Itu adalah panggilan kemanusiaan kami,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).
Baca juga: 5 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang di Nagekeo NTT, 3 Dilaporkan Hilang
Gerak cepat tersebut dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, BNPB, dan instansi terkait lainnya. Menurut Rudi, Polda NTT memastikan agar penyaluran bantuan dilakukan tepat sasaran, bahkan hingga ke wilayah yang sempat terisolasi akibat banjir.
“Di titik-titik pengungsian, aparat hadir bukan hanya sebagai penyalur bantuan, melainkan juga menjadi pendengar bagi warga yang kehilangan rumah maupun anggota keluarga,” tegasnya.
Rudi menyebut, bantuan darurat dikirim melalui dua jalur yakni, jalur udara, Pesawat CN295 mengangkut lebih dari seribu paket makanan siap saji, kasur, selimut, lampu tenaga surya, hingga genset untuk kebutuhan penerangan. Dari jalur laut, Kapal Polisi KP. IBIS – 6001 membawa tambahan obat-obatan, air bersih, kabel listrik, serta Bahan Habis Pakai (BHP) guna mendukung pelayanan medis di lapangan.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang Nagekeo NTT, 18 Desa Terisolasi dan 5 Warga Hilang
Setibanya di Kupang, seluruh bantuan diterima oleh Polda NTT dan segera didistribusikan secara merata ke titik-titik terdampak. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Selain distribusi logistik, Polda NTT juga menyediakan pelayanan kesehatan darurat agar masyarakat tetap dapat bertahan di tengah keterbatasan. Rudi menegaskan, keterlibatan kepolisian dalam penanganan bencana merupakan bentuk nyata solidaritas bangsa.
“Bencana bukan hanya urusan pemerintah daerah atau lembaga kemanusiaan, tetapi panggilan nurani bagi kita semua. Polri, khususnya Polda NTT, hadir bukan sekadar membawa bantuan, melainkan juga rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. Dengan K9, pencarian korban bisa lebih cepat, sehingga keluarga tidak terus menunggu dalam ketidakpastian,” ucapnya.
Di balik tumpukan logistik, suara mesin genset, dan langkah tim pencari, mulai tampak senyum warga yang kembali merekah ketika bantuan sampai di tangan mereka. Kehadiran aparat di lokasi bukan hanya soal distribusi barang, melainkan juga kehadiran harapan baru. Setiap anak yang kembali makan dengan tenang, setiap lansia yang menerima obat, dan setiap keluarga yang akhirnya menemukan anggota keluarganya yang hilang, menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Polda NTT benar-benar dirasakan masyarakat.
Bencana memang meninggalkan luka yang dalam, namun juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan dalam menghadapi cobaan. Polda NTT tidak ingin masyarakat hanya mengingat musibah ini sebagai tragedi, melainkan juga sebagai momen ketika negara hadir dan tidak meninggalkan rakyatnya.
”Ketika logistik berhasil sampai di tangan warga, ketika korban berhasil ditemukan, dan ketika senyum perlahan kembali menghiasi wajah masyarakat NTT, di situlah makna sejati pengabdian aparat. Polda NTT ingin memastikan bahwa setiap air mata yang jatuh berganti dengan keyakinan bahwa rakyat tidak pernah sendiri,” ucapnya.
Rudi mengatakan, tidak hanya fokus pada evakuasi, Polda NTT juga memastikan kebutuhan dasar warga seperti makanan, obat-obatan, dan penerangan darurat segera sampai ke lokasi-lokasi terdampak paling parah. Menurut Rudi, setiap langkah kepolisian dalam menghadapi situasi bencana bukan sekadar tugas formal, tetapi juga wujud kepedulian terhadap masyarakat.
“Kami tidak ingin masyarakat merasa sendiri menghadapi bencana ini. Polda NTT hadir untuk melindungi, menolong, dan memastikan warga bisa bertahan di tengah kondisi sulit. Itu adalah panggilan kemanusiaan kami,” ujarnya, Rabu (17/9/2025).
Baca juga: 5 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang di Nagekeo NTT, 3 Dilaporkan Hilang
Gerak cepat tersebut dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, BNPB, dan instansi terkait lainnya. Menurut Rudi, Polda NTT memastikan agar penyaluran bantuan dilakukan tepat sasaran, bahkan hingga ke wilayah yang sempat terisolasi akibat banjir.
“Di titik-titik pengungsian, aparat hadir bukan hanya sebagai penyalur bantuan, melainkan juga menjadi pendengar bagi warga yang kehilangan rumah maupun anggota keluarga,” tegasnya.
Rudi menyebut, bantuan darurat dikirim melalui dua jalur yakni, jalur udara, Pesawat CN295 mengangkut lebih dari seribu paket makanan siap saji, kasur, selimut, lampu tenaga surya, hingga genset untuk kebutuhan penerangan. Dari jalur laut, Kapal Polisi KP. IBIS – 6001 membawa tambahan obat-obatan, air bersih, kabel listrik, serta Bahan Habis Pakai (BHP) guna mendukung pelayanan medis di lapangan.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang Nagekeo NTT, 18 Desa Terisolasi dan 5 Warga Hilang
Setibanya di Kupang, seluruh bantuan diterima oleh Polda NTT dan segera didistribusikan secara merata ke titik-titik terdampak. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Selain distribusi logistik, Polda NTT juga menyediakan pelayanan kesehatan darurat agar masyarakat tetap dapat bertahan di tengah keterbatasan. Rudi menegaskan, keterlibatan kepolisian dalam penanganan bencana merupakan bentuk nyata solidaritas bangsa.
“Bencana bukan hanya urusan pemerintah daerah atau lembaga kemanusiaan, tetapi panggilan nurani bagi kita semua. Polri, khususnya Polda NTT, hadir bukan sekadar membawa bantuan, melainkan juga rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. Dengan K9, pencarian korban bisa lebih cepat, sehingga keluarga tidak terus menunggu dalam ketidakpastian,” ucapnya.
Di balik tumpukan logistik, suara mesin genset, dan langkah tim pencari, mulai tampak senyum warga yang kembali merekah ketika bantuan sampai di tangan mereka. Kehadiran aparat di lokasi bukan hanya soal distribusi barang, melainkan juga kehadiran harapan baru. Setiap anak yang kembali makan dengan tenang, setiap lansia yang menerima obat, dan setiap keluarga yang akhirnya menemukan anggota keluarganya yang hilang, menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Polda NTT benar-benar dirasakan masyarakat.
Bencana memang meninggalkan luka yang dalam, namun juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan dalam menghadapi cobaan. Polda NTT tidak ingin masyarakat hanya mengingat musibah ini sebagai tragedi, melainkan juga sebagai momen ketika negara hadir dan tidak meninggalkan rakyatnya.
”Ketika logistik berhasil sampai di tangan warga, ketika korban berhasil ditemukan, dan ketika senyum perlahan kembali menghiasi wajah masyarakat NTT, di situlah makna sejati pengabdian aparat. Polda NTT ingin memastikan bahwa setiap air mata yang jatuh berganti dengan keyakinan bahwa rakyat tidak pernah sendiri,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :